Bisnis.com, JAKARTA — Minat masyarakat Indonesia terhadap parfum terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tren tersebut bahkan mendorong nilai pasar fragrance nasional menembus sekitar Rp4 triliun pada 2025, dengan pertumbuhan mencapai 67% sepanjang periode 2020–2025, berdasarkan data internal L’Oréal.
General Manager L’Oréal Luxe Division Indonesia, Maria Adina, menilai lonjakan tersebut seiring dengan perubahan perilaku konsumen yang kini tidak lagi memandang parfum semata sebagai kebutuhan fungsional, melainkan juga sebagai sarana untuk mengekspresikan diri.
Di sisi lain, penggunaan fragrance kini semakin disesuaikan dengan momen atau kesempatan. Seseorang bisa memilih aroma berbeda untuk pagi, siang, hingga malam hari. Hal ini mirip dengan yang sudah terjadi di segmen kosmetik seperti lipstik, di mana pagi cenderung memilih warna nude, sementara malam hari berbeda lagi dengan lebih berani bermain warna merah atau dark red.
"Fragrance kini tidak lagi sekadar produk, tetapi menjadi bagian dari ekspresi diri dan kebutuhan emosional yang semakin mengarah pada pengalaman yang lebih terpersonalisasi, berbasis teknologi, dan berkelanjutan," katanya
Menurut Dina, meningkatnya awareness masyarakat belakangan ini salah satunya dipengaruhi oleh maraknya “fragtalkers” atau kreator konten parfum di TikTok yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Para kreator ini dikenal sebagai influencer yang mengulas parfum secara mendalam, mulai dari top note, middle note, hingga base note. Menariknya, banyak di antara mereka masih berusia muda, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat luas, baik terkait bahan maupun teknologi dalam dunia fragrance.
Oleh karena itu, penetrasi parfum pun jadi begitu tinggi. Fenomena tersebut dinilai serupa dengan tren skincare sebelumnya, ketika konsumen mulai akrab dengan istilah bahan aktif seperti hyaluronic acid dan niacinamide.
Kini, tren itu bergeser ke parfum, karena konsumen tidak lagi menggunakan istilah umum seperti fresh atau sweet untuk mencari wewangian. Namun, mereka mulai membahas detail aroma, termasuk karakter notes serta istilah teknis seperti sillage, longevity, dan projection.
Hal menarik lainnya, katanya, pertumbuhan pasar parfum terjadi secara merata di berbagai segmen, tidak hanya pada produk menengah ke bawah, tetapi juga di kategori premium.
Dia mencatat, dalam beberapa waktu terakhir semakin banyak merek parfum luxury yang masuk ke Indonesia, menandakan potensi pasar yang kian besar. Menurutnya, parfum kerap kali menjadi pintu masuk ke dunia luxury beauty
“Termasuk brand kami, saat ini total ada 27 brand dalam portofolio. Namun, belum semuanya masuk ke Indonesia, sehingga ke depannya kami juga akan terus menambahkannya ke pasar,” ujarnya.