Senarai karya dalam pameran AARO di CAN’S Gallery Jakarta yang berlangsung hingga 11 Mei 2026. Bisnis/Prasetyo Agung Ginanjar.
Entertainment

Atreyu Moniaga Project Perkuat Praktik Artistik Seniman Muda lewat Pameran AARO

Prasetyo Agung Ginanjar
Kamis, 7 Mei 2026 - 00:45
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Program inkubasi seni Atreyu Moniaga Project (AMP) mendorong seniman muda keluar dari pola kerja yang mapan melalui pendekatan yang lebih improvisatif dan dinamis. Pendekatan itu tercermin dalam pameran AARO di CAN’S Gallery Jakarta yang berlangsung hingga 11 Mei 2026.

Pameran ini menghadirkan karya empat seniman muda yakni Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry. Mereka merupakan peserta Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings #13 yang dimulai sejak September 2024.

Penggagas AMP, Atreyu Moniaga, mengatakan setiap angkatan dalam program tersebut memiliki karakter berbeda sehingga metode pendampingannya juga disesuaikan dengan “DNA” kelompok.

Menurut dia, angkatan AARO berkembang dengan pola yang lebih cair dibandingkan peserta sebelumnya yang cenderung konservatif dan terstruktur.

"Saya selalu mencoba beradaptasi sama DNA-nya mereka sebagai grup. ARO itu lebih menantang dan banyak improvisasi,” ujarnya.

AMP merupakan program independen yang berfokus pada pengembangan seniman muda di Jakarta. Selain pelatihan teknis produksi karya, peserta juga dibekali manajemen proyek kreatif dan pembentukan praktik artistik sebelum memasuki dunia seni secara mandiri.

Atreyu menilai fase inkubasi penting untuk membangun daya tahan para seniman menghadapi tantangan setelah keluar dari program. Karena itu, pameran tidak hanya diposisikan sebagai ruang presentasi karya, melainkan bagian dari proses transisi menuju praktik profesional.

Keragaman pendekatan dalam AARO menjadi cerminan metode inkubasi tersebut. Masing-masing seniman tampil dengan eksplorasi visual yang berbeda, mulai dari monster imajinatif, figur surealis, patchwork emosional, hingga lanskap spiritual bernuansa psychedelic.

Refleksi itu tampak dalam karya Maerra bertajuk Mla (2025) yang disusun seperti kolase panel-panel kecil. Di dalamnya terdapat figur manusia, organ tubuh, bunga, dan tanaman yang muncul seperti potongan memori yang saling bertabrakan.

"Patchwork itu cara aku menggambarkan gimana orang cerita, terkadang bisa acak, lompat, dan chaotic," katanya.

Pendekatan berbeda hadir dari Oddyendry yang banyak mengeksplorasi pengalaman spiritual dalam lingkungan Buddhis. Dia terinspirasi dari thangka, lukisan gulir tradisional Tibet yang identik dengan detail rumit dan warna-warna cerah.

Seluruh eksplorasi tersebut dibungkus dalam seri “Tungkal” yang menghadirkan nuansa psychedelic dengan warna ekspresif dan campur-aduk. Latar belakangnya di dunia fashion juga memengaruhi keberanian eksplorasi visual dalam karya-karyanya.

Menurut Oddyendry, relasi antarmanusia merupakan sesuatu yang kompleks dan penuh lapisan. Karena itu, karya-karyanya banyak menghadirkan detail visual yang harus dibaca perlahan.

"Interaksi manusia itu penuh layer, harus diringkas satu per satu," ujarnya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro