Buku Parenting di Negara Gagal/Bisnis.Chelsea Venda
Entertainment

Resensi Buku 'Parenting di Negara Gagal', Saat Pola Asuh Bukan Urusan Privat

Chelsea Venda
Minggu, 24 Mei 2026 - 11:30
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kegiatan mengasuh anak sering kali dipahami sebagai urusan privat dalam lingkup keluarga. Namun, dalam buku Parenting di Negara Gagal, penulis Kalis Mardiasih justru mencoba membongkar anggapan tersebut.

Buku ini mengajak pembaca melihat bagaimana kebijakan, ketimpangan, dan absennya perlindungan sosial ikut membentuk pengalaman membesarkan anak. Bagi Kalis orang tua tak bisa lagi menutup mata terhadap kondisi negara, karena situasi tersebut turut membentuk kehidupan anak.

Nilai-nilai yang dipelajari anak pun tidak semata berasal dari rumah, melainkan juga dari lingkungan sekitar seperti tetangga, teman sebaya, hingga figur publik dan pejabat yang kerap muncul di media.

Perubahan kebijakan politik yang tidak konsisten dan kerap abai pada kepentingan masyarakat membuat orang tua menghadapi tantangan besar dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Dalam penelusuran penulis, situasi politik ternyata memiliki hubungan erat dengan semakin beratnya beban pengasuhan yang dirasakan dari waktu ke waktu.

Kondisi ini diperparah oleh berbagai paradoks yang tampak jelas di ruang publik. Penulis mencontohkan beberapa hal absurd, misalnya, ketika orang tua berusaha mengajarkan kejujuran, tak lama kemudian muncul berita pejabat yang terjerat korupsi. Ketika orang tua mencoba menanamkan nilai kesederhanaan di rumah, anak-anak justru disuguhi gaya hidup mewah para elite yang dipamerkan secara terbuka di media sosial

Melalui lima bab di buku ini, penulis mencoba membedah persoalan pengasuhan dari berbagai sudut. Hal menarik sudah muncul di bab pertama, ketika pembaca langsung diajak merenungkan pola asuh 'komunal' yang perlahan menghilang di tengah perubahan zaman.

Buku ini menggambarkan bagaimana dulu anak-anak tumbuh dalam pengasuhan kolektif berbasis komunitas. Bukan hanya orang tua, semua orang yang hidup di sekeliling anak juga turut berkontribusi mengasuh, setidaknya menularkan nilai-nilai baik. Dari sini, pengetahuan lokal dan budaya diwariskan.

Namun, kini peran itu banyak tergantikan oleh layanan berbayar. Perubahan ini bukan hanya memengaruhi pola asuh, tetapi juga cara masyarakat membangun relasi sosial. Padahal, dalam kehidupan bernegara, berbagai persoalan sejatinya tetap menuntut keterlibatan dan tanggung jawab bersama.

Bahasan yang tak kalah menarik terjadi di bab 3, penulis seolah ingin mengajak orang tua tak segan berdialog bersama anak mengenai ketimpangan sosial dan alasan mengapa tidak semua orang hidup dalam kondisi kaya raya. Bab ini menyoroti bagaimana konsep kekayaan kini telah makin kabur, terutama karena anak-anak terus terpapar tayangan yang menampilkan kehidupan serba mewah di berbagai platform.

Maraknya konten pamer harta tersebut membuat anak kesulitan memahami kenyataan bahwa kehidupan sering kali tidak selalu setara bagi setiap orang. Dalam situasi ini, anak berpotensi mengalami kebingungan dalam menerima realitas bahwa dia bisa saja tumbuh dalam kondisi yang berbeda dengan gambaran ideal yang kerap ditampilkan di ruang digital.

Dalam buku ini, Kalis tak segan mengkritik dominasi konsep pengasuhan dari negara-negara maju yang kerap dianggap sebagai acuan universal. Padahal, pendekatan tersebut tidak selalu relevan jika diterapkan di Indonesia, mengingat adanya perbedaan mendasar dalam aspek sosial, ekonomi, hingga tingkat keamanan yang memengaruhi praktik pengasuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, buku ini mencoba menunjukkan benang merah yang tak disadari banyak orang, tentang keterkaitan antara beban pengasuhan anak oleh orang tua dengan situasi politik yang melingkupinya. Sebab, diakui atau tidak, lingkungan yang kurang mendukung tumbuh kembang anak juga berakar dari kebijakan yang tidak berpihak, sehingga anak kehilangan ruang bermain yang aman, kesulitan memahami konsep kekayaan secara utuh, dan akhirnya tidak akrab dengan nilai-nilai kerja sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Di titik ini, pengasuhan tidak semata berkaitan dengan metode, fasilitas, atau media belajar, meski semua itu penting dalam membekali anak menjalani kehidupan saat dewasa kelak. Namun, perlu disadari bahwa parenting juga menyangkut bagaimana orang tua membangun visi serta imajinasi tentang dunia seperti apa yang kelak akan dihadapi oleh anaknya di masa depan.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google
Penulis : Chelsea Venda
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro