Peneliti Diminta Jangan Bekerja Sendiri

Rupanya pola pikir peneliti di Indonesia masih cenderung bekerja sendiri dalam memasarkan hasil paten atau penelitiannya. Namun, pola pikir itu dinilai banyak membuat hasil inovasi gagal untuk dapat dijual langsung ke masyarakat.
Dika Irawan | 18 April 2018 19:47 WIB
Peneliti - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Rupanya pola pikir peneliti di Indonesia masih cenderung bekerja sendiri dalam memasarkan hasil paten atau penelitiannya. Namun, pola pikir itu dinilai banyak membuat hasil inovasi gagal untuk dapat dijual langsung ke masyarakat.

“Adanya keyakinan berlebihan dari peneliti  kalau dia bisa hasilkan penelitian readiness level sembilan, dia juga punya keyakinan dia bisa mengkomersilkan. Hal itu adalah penyakit paling kronis di peneliti Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada Rapat Persiapan Penguatan Hilirisasi Produk Unggulan PUI atau Pusat Unggulan Iptek di salah satu hotel di Jakarta Pusat pada Rabu (18/4/2018) dalam keterangan tertulisnya.

Patdono pun menyarankan peneliti agar menyerahkan hilirisasi, baik berupa penerapan teknologi maupun pemasaran kepada pihak yang punya akses dan pengalaman, tetapi peneliti harus tetap mendapatkan royalti sembari mengembangkan produknya.

Menurutnya, hal ini bukan pekerjaan yang dapat ditangani tim riset. Namun, harus ada orang lain yang ahli di bidang itu. Maka, mereka bekerja sama dengan industri.

“Industri sekarang melakukan itu. Penelitinya (tinggal) melakukan penelitian untuk menyempurnakan produk baru, inovasi baru. Namun, pekerjaan menghilirkan itu diserahkan kepada ahlinya,” ujarnya.

Patdono menambahkan pemerintah, melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bertugas memastikan para peneliti tersebut dapat bertemu dengan industri yang sudah berpengalaman, sehingga para peneliti dapat memasarkan hasil penelitiannya sekaligus mendapatkan royalti yang sesuai.

“Seringkali orang perguruan tinggi atau peneliti itu tidak bisa mendapatkan partner-partner industri yang bisa menghilirkan produk penelitian. Untuk itu Dirjen Kelembagaan membuat kegiatan dalam rangka mempertemukan antara peneliti dengan industri, tidak hanya dalam negeri, juga luar negeri,” ungkap Patdono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penelitian

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top