Ekonomi Kreatif, Sektor Fesyen Motor Penggerak Ekspor

Gelombang ekonomi kreatif tampaknya menjadi angin segar. Setelah perkembangan ekonomi berbasis pertanian beralih pada industri dan kemudian teknologi informasi, ekonomi kreatif juga menjadi gelombang yang dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Asteria Desi Kartika Sari | 04 Agustus 2018 13:02 WIB
Fashion show Denny wirawan - Asteria Desi Kartika Sari

Bisnis.com, JAKARTA - Gelombang ekonomi kreatif tampaknya menjadi angin segar. Setelah perkembangan ekonomi berbasis pertanian beralih pada industri dan kemudian teknologi informasi, ekonomi kreatif juga menjadi gelombang yang dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi berbasis ide kreatif dan inovatif ini sangat memberikan tempat bagi pengembangan produk-produk Indonesia berdaya saing, sekaligus mempertahankan eksistensi dan jati diri bangsa. Fesyen merupakan salah satu sektor dalam ekonomi kreatif yang menyumbang peran besar.

Mendorong sub sektor tersebut dinilai dapat meningkatkan industri di Indonesia dari sekadar menjadi “tukang jahit” menjadi leader tren, menjadi menghidupkan ekonomi sekaligus meningkatkan citra Indonesia di mata internasional.

Menurut data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sumbangsih sub sektor fesyen terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia sebesar 18,15% dari total market untuk produk kreatif. Industri yang terlibat di dalamnya antara lain tekstil dan desain.

Lebih jauh, fesyen juga menjadi salah satu saran penting bagi nation branding dan motor penggerak ekspor.

Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik mengatakan pada 2016 tercatat total ekspor ekonomi kreatif sekitar US$ 20 miliar. Sementara tahun 2018, nilai ekspor ekonomi kreatif ditargetkan menjadi US$ 21 miliar.

Kontribusi Besar

Dari nilai tersebut, sub sektor fesyen memiliki kontribusi yang paling besar dibandingkan dengan produk yang lainnya. Raihan tersebut, lanjutnya, menunjukan adanya tren kenaikan setiap tahunnya.

"Fesyen pada tahun 2016 memberi kontribusi sekitar 54,54% maka tahun ini juga untuk fesyen kita harapkan bisa lebih tumbuh,” kata Ricky dikutip Sabtu (4/8/2018).

Ricky mengatakan guna meningkatkan nilai ekspor ekraf, Bekraf berupaya untuk mendorong sektor-sektor berpotensi untuk memasuki pasar global, seperti ke negara-negara yang memiliki kontribusi terbesar di ekraf.

"Saat kita tengah berupaya untuk mendorong dan mengembangkan ekraf-ekraf yang punya potensi ke pasar global seperti fesyen, kuliner, film, games, dan sektor lainnya guna menyasar pasar-pasar terbesar kita seperti Amerika Serikat, Swiss, Jepang, Singapura, dan Jerman," jelasnya.

Guna mewujudkan hal tersebut, salah satu cara yang dilakukan adalah mealui pameran di ajang internasional. Meskipun pemasaran online mulai mengubah metode pemasaran dan perdagangan seacra global, namun pemasaran langsung tetap memiliki peran tersendiri yang lebih kokoh.

Pameran merupakan ajang yang mempertemukan langsung atau tatap muka pembeli dengan penjual. Komitmen, kesiapan dan jaminan kepercayaan dapat diperoleh melalui pertemuan tatap muka, tawar menawar dan berbincang.

Ajang ini juga bisa menjadi kesempatan untuk memperoleh masukan apa yang terjadi dan akan terjadi di industri dan perdagangan serta wawasan mengenai tren. Karena itu, pameran tetap menjadi alat pemasaran yang efektif, terutama bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang umumnya masih mengalami kendala untuk pemasaran produk, terutama di pasaran internasional.

“Kita akan terus pantau perkembangannya, kita akan berkomunikasi terus stakeholder, kalau memang ada peluang b to b dengan negara Arab misalnya tidak menutup kemungkinan kita akan bawa ke sana,” jelasnya.

Tag : fashion, ekonomi kreatif
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top