Awas Alzheimer, Jangan Lagi Remehkan Pikun

Pembina Alzheimer Indonesia Yuda Turana mengatakan permasalahan yang dihadapi saat ini banyak masyarakat mengabaikan pikun yang terjadi pada lansia dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 15 Oktober 2018  |  00:30 WIB
Awas Alzheimer, Jangan Lagi Remehkan Pikun
Ilustrasi demesia - usdoj.gov

Gejala pikun pada orang tua jangan lagi dianggap remeh dan lumrah. Bisa jadi gejala tersebut menjadi tanda awal dari gangguan demensia, yaitu saat kemampuan otak mengalami kemunduran. 

Ada beberapa jenis gangguan demensia, tetapi yang seringkali luput dari sorotan adalah demensia alzheimer yang menyerang lansia di atas 60 tahun. Lantaran kehadiran gejalanya dianggap wajar, demensia kurang mendapatkan perhatian. Padahal, menurut data Alzheimer Disease International, setiap 3 detik ada satu orang yang didiagnosis dengan alzheimer.

Pembina Alzheimer Indonesia Yuda Turana mengatakan permasalahan yang dihadapi saat ini banyak masyarakat mengabaikan pikun yang terjadi pada lansia dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.

“Baru sadar kalau sudah terjadi perubahan perilaku. Padahal kalau sudah terjadi perubahan perilaku sudah parah,” jelas Yuda ditemui di Universitas Atma Jaya Jakarta.

Yuda mengatakan, pikun bukan menjadi proses penuaaan yang normal. Menurutnya, pikun dapat menjadi gejala sebagai deteksi dini akan adanya gangguan alzheimer.

Artinya, seseorang yang mengalami pikun membutuhkan perhatian, terlebih pada lansia. Apabila orang tua menunjukan gejala pikun atau pelupa, sebaiknya melakukan konsultasi untuk meminimalisir risiko.

Khusus untuk penyakit alzheimer, ujar Yuda, penderita biasanya terlebih dulu mengalami gangguan kognitif seperti lupa menyimpan barang. Perlahan, penderita juga mengalami gangguan perilaku misalnya mudah marah.

“Penyakit alzheimer sebetulnya gangguan kognitif dan juga perilaku. Awalnya gangguan kognitif dulu, lupa-lupa, nyimpen barang lupa. Tetapi, lambat laun atau 3-4 tahun kemudian, itu bisa gangguan perilaku. Ngamuk nggak pada tempatnya, emosi, halusinasi,” kata dia.

Rasa kesepian juga dapat menjadi faktor timbulnya demensia. Menurut Yuda, rasa kesendirian jangka panjang akan semakin memperburuk keadaan. Misalnya saja, seseorang masih memiliki keluarga yang lengkap, tetapi keluarga tidak memberikan perhatian.

Adanya stres, cemas, dan depresi juga termasuk dalam artian kesepian. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan imunitas yang menurun, selalu berfikir negatif. Segala bentuk pikiran negatif, apabila berlanjut dan berlarut-larut akan membuat otak menjadi lebih cepat mengkerut sehingga fungsi kognitif menjadi berkurang.

Yuda menyarankan agar orang yang sudah pensiun tetap mengisi waktu dengan aneka macam kegiatan. Hal ini disebut Yuda dapat membantu mengurangi risiko demensia.

“Selain menjaga pola hidup sehat, terus berkarya dan bekerja juga baik untuk menghindari demensia. Tapi bukan bekerja yang sembarangan, bekerja harus yang menyenangkan. Jadi yang paling penting adalah kita melakukan kegiatan yang membuat kita senang,” katanya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan  Atma Jaya Alzheimer Indonesia (ATZI) yang dilakukan di Yogyakarta dan Bali menunjukan prevalensi demensia alzheimer mencapai lebih dari 20%, atau lebih tinggi dari angka estimasi Alzheimer’s Disease International.

 

KERUGIAN EKONOMI

Direktur Eksekutif Survey Meter Wayan Suriastini mengatakan penelitian dilakukan pada 2016 di Yogyakarta dan 2018 di Bali. Menurutnya, melihat angka tersebut menandakan masih banyak kasus demensia alzheimer yang belum dilaporkan.

Wayan menilai penanganan penyakit yang disebabkan oleh rusaknya struktur kimia otak dari waktu ke waktu perlu dilakukan secara serius sehingga di masa depan alzheimer tidak menjadi beban dan gangguan untuk perekonomian negara.

Menurut estimasi Alzheimer's Disease International, pada 2015 Indonesia mengalami kerugian ekonomi karena demensia hingga US$2,2 miliar. “Salah satunya dengan menciptakan kawasan ramah demensia dan ramah lansia,” kata Wayan

Menurut Wayan ada empat komponen kawasan ramah lansia yang perlu diwujudkan yaitu mencakup kualitas hidup orang dengan demensia, komunitas, kelembagaan, dan kemitraan.

Atas kondisi tersebut, Alzheimer Indonesia bersama Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta membentuk ATZI Center of Excellence, yaitu sebuah pusat pelayanan terpadu terkait dengan demensia alzheimer

Direktur Regional Asia Pacific Alzheimer Disease International Suharya mengatakan dengan adanya pusat pelayanan tersebut diharapkan dapat memudahkan penanganan atau deteksi dini akan adanya demensia alzheimer.

“Hal ini penting karena penanganan demensia alzheimer seharusnya menjadi tugas kita bersama,” kata Suharya.

Sebagai pusat pelayanan terpadu, ATZI Center of Excellence akan memberikan informasi yang lengkap kepada para penderita demensia beserta keluarga dan caregiver terkait demensia alzheimer, penanganan demensia, dan berbagai komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alzheimer, sakit, pikun

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top