Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tidak Pakai Masker, Risiko Terpapar Covid-19 Sangat Tinggi

Seseorang yang melakukan kontak dengan orang lain selama 15 menit tanpa masker, misalnya saat minum kopi bersama, berpeluang terpapar Covid-19
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 08 Agustus 2020  |  12:37 WIB
Ilustrasi-Anggota Tim Pakar Satgas Covid-19 Shela Rachmayanti mempraktikkan cara melepas masker yang benar./JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Ilustrasi-Anggota Tim Pakar Satgas Covid-19 Shela Rachmayanti mempraktikkan cara melepas masker yang benar./JIBI - Bisnis/Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA – Abai mengenakan masker selama pandemi Covid-19 dan sebagai bentuk adaptasi kebiasaan baru membuat risiko terpapar Covid-19 menjadi sangat tinggi alias 100 persen.

Menurut dokter spesialis paru, dr. Sita Laksmi Andarini, SpP(K), Phd, seseorang yang melakukan kontak dengan orang lain selama 15 menit tanpa masker, misalnya saat minum kopi bersama, berpeluang terpapar Covid-19. Hal ini dikarenakan virus ini menyebar melalui droplet. Apalagi jika orang tersebut tidak menjaga jarak lebih dari satu meter.

“Nanti setelah minum kopi bersama, di tes dua minggu kemudian dan positif artinya dua pekan lalu saat minum kopi itu adalah kontak erat, dan harus diperiksa,” ujar Sita melalui IG Live bersama Cancer Information and Support Center (CISC), Sabtu (8/8/2020).

Ada beberapa gejala awal penderita Covid-19 yang perlu diantisipasi misalnya; batuk kering, demam, nyeri otot, dan diare. Bahkan beberapa gejala lain misalnya kehilangan kemampuan mencecap rasa.

Paparan Covid-19 pada penderita kanker paru juga akan memperparah kerja organ paru-paru mereka. Faktor risiko terpapar kanker paru-paru paling besar dialami oleh laki-laki berusia 40 tahun dengan riwayat sebagai perokok dan rentan dengan permasalahan respirasi.

Sita menjelaskan bahwa laki-laki yang merokok ini lebih banyak yang mengalami penyakit respirasi, seperti batuk berdarah. Jadi memang untuk para perokok perlu lebih dini mendeteksi penyakit kanker paru maupun paparan Covid-19.

Secara terperinci dia menjelaskan hasil rontgen orang yang terkena kanker paru dengan orang yang kinerja paru-parunya masih normal. Orang dengan kanker punya gambaran putih pada organ paru-paru yang seharusnya berwarna hitam utuh dan penuh.

Begitu orang tersebut terjangkit Covid-19, hasil rontgen akan menunjukkan warna putih pada paru-paru meluas. Biasanya deteksi rontgen dilakukan setelah pasien kanker paru mengalami gejala gagal pernapasan akut.

Dengan demikian, penderita kanker paru memang jauh lebih rentan tertular Covid-19 karena kondisi paru-paru mereka yang sudah lebih rentan.

Hal ini juga tercermin dari penelitian dan pengakuan sejumlah pasien normal yang sudah sembuh dari Covid-19. Umumnya mereka mengalami penurunan kinerja paru-paru.

Beberapa keluhan pasien yang sudah sembuh adalah; mereka bernapas lebih berat. Selain itu mereka mudah lelah apalagi untuk aktivitas olahraga atau naik tangga.

“Dari bahaya ini harus dipahami bahwa Covid-19 ini bukan hoaks, gejalanya memang sangat nyata. Sehingga sangat penting melakukan pemeriksaan dini terutama bagi orang dengan risiko tinggi, baik itu penderita kanker atau pekerja pabrikan misalnya pabrik semen. Mereka harus rontgen dan scan toraks, serta jangan merokok,” jelas Sita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kanker paru-paru covid-19
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top