Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Orang Tidak Suntik Vaksin, 60 Kali Lipat Berisiko Masuk RS Jika Terinfeksi Covid Omicron

Ahli Patologi Klinis UNS Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, di negara-negara yang sedang mengadapi penyebaran Omicron, seperti UK, cakupan vaksinasinya sudah tinggi. Tinggal sedikit yang belum divaksin.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 27 Desember 2021  |  14:39 WIB
Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman, Jakarta, Selasa (16/11/2021). Kementerian Kesehatan mencatat cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekurang-kurangnya 40 persen populasi pada akhir 2021. - Antara
Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman, Jakarta, Selasa (16/11/2021). Kementerian Kesehatan mencatat cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekurang-kurangnya 40 persen populasi pada akhir 2021. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Data baru dari Pusat Penelitian dan Audit Nasional Perawatan Intensif menunjukkan bahwa, jika Anda tidak divaksinasi, kemungkinan bisa hingga 60 kali lebih besar masuk RS dan menjalani perawatan intensif jika Anda terinfeksi COVID-19.

Ini adalah angka mengejutkan yang datang pada saat varian Omicron melonjak di beberapa negara.

Melansir Express, kelompok usia lansia yang paling rentan terhadap COVID-19 karena sistem kekebalan tubuh mereka yang melemah dan peningkatan kemungkinan memiliki kondisi yang membuat mereka lebih rentan.

Ini bukan berarti bahwa orang yang lebih muda tidak rentan.

Karena itu, sangat penting untuk melindungi tubuh dari virus ini dengan vaksinasi.

Tidak hanya vaksin, tetapi juga langkah-langkah sederhana dan mudah seperti memakai masker dan menjaga jarak harus tetap diberlakukan.

Ahli Patologi Klinis UNS Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, di negara-negara yang sedang mengadapi penyebaran Omicron, seperti UK, cakupan vaksinasinya sudah tinggi. Tinggal sedikit yang belum divaksin.

Ketika Omicron menyebar, secara angka, lebih banyak dari kelompok sudah divaksin. Tapi kalau secara proporsional atau persentase, lebih banyak pada kelompok yang belum divaksin. Begitu juga dalam hal angka perawatan di RS dan angka kematian. Itu juga terjadi pada saat puncak penyebaran varian delta sebelumnya.

Laporan tentang Omicron sejauh ini di UK, bagi yang sudah divaksin, risiko harus periksa ke RS tapi tidak sampai rawat inap itu 31-45% lebih rendah dibandingkan varian delta. Risiko harus rawat inap di ruang isolasi, 50-70% lebih rendah daripada varian delta.
Sedangkan pada yang belum pernah terinfeksi dan belum pernah tervaksinasi, risikonya 11% dibandingkan varian delta. Itu artinya, 4-7 kali lebih tinggi daripada kelompok yang sudah tervaksinasi.

"Cakupan vaksinasi kita saat ini 40,65% yang sudah vaksin lengkap. Sekitar 17% baru sekali dosis. Selebihnya sekitar 42,3% belum mendapat vaksin sama sekali. Kalau Omicron sampai menyebar, risikonya lebih besar pada yang belum tervaksinasi," paparnya.

Dia memaparkan, vaksinasi yang kita gunakan saat ini, baru fokus pada mencegah gejala terutama gejala berat dan kematian. Kalau menunggu sampai diperoleh vaksin yang sekaligus mampu menghambat infeksi di saluran nafas bagian atas, perlu waktu lebih lama lagi.
Sementara jumlah kasus terus meningkat, jumlah kematian juga terus meningkat. Ekonomi semakin terhambat. Maka kita gunakan yang sudah bisa kita gunakan, sambil pengembangan vaksin terus dilakukan.

Terkait kasus covid omicron di tanah air, 40 sudah vaksin 2 kali, 3 kasus baru vaksin sekali, dan 3 lainnya belum divaksin.

Menurutnya kasus-kasus itu bersumber dari Pelaku Perjalanan luar negeri. Baik WNI yang bepergian sebentar keluar negeri kemudian kembali, atau WNI yang bekerja di luar negeri dan pulang, atau memang WNA yang bepergian ke dalam negeri.

"Justru kita khawatir pada 3 kasus yang belum pernah divaksin. Artinya kemungkinan besar mereka bukan pelaku perjalanan LN tapi menjadi kontak erat dari kasus awal pada pelaku perjalanan LN," tambahnya.

Dia menjelaskan prokes adalah hal yang sangat penting tetap diterapkan. Mereka yang tertular, adalah yang prokesnya kendor. Atau bahkan tidak menjalankan sama sekali. baik sudah maupun belum divaksinasi.

"Bedanya pada kelanjutannya, yang sudah punya antibodi, karena penyintas, vaksinasi atau keduanya, lebih cepat membersihkan virus dari tubuhnya. Jadi protkes dan vaksinasi itu saling melengkapi. Bukan saling menggantikan. Jadi tetap lebih baik divaksin," tegasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 omicron
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top