Bisnis.com, JAKARTA — Kebiasaan mengkonsumsi jajanan tidak sehat masih menjadi tantangan serius dalam upaya menjaga kesehatan remaja di Indonesia.
Di tengah meningkatnya prevalensi gizi tidak seimbang, para ahli menilai pendekatan larangan semata belum cukup efektif menekan konsumsi pangan ultra-proses (ultra processed food/UPF) di kalangan anak muda.
Pola makan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan ketersediaan pangan di sekitar mereka, khususnya di sekolah.
Studi mengenai diet matrix pada remaja putri di Jawa Barat dan Tangerang menunjukkan bahwa selain kualitas gizi, tingkat konsumsi UPF juga berkorelasi dengan pilihan jajanan harian.
Pakar Ilmu Gizi FK UI dan SEAMEO RECFON, dr. Umi Fahmida, menilai strategi edukasi gizi perlu bergeser dari pendekatan larangan ke penguatan pilihan sehat.
“Sering kali kita mengatakan ‘jangan’, padahal yang lebih efektif adalah mendorong konsumsi makanan yang baik. Kalau pilihan sehat tersedia dan menarik, konsumsi yang tidak sehat akan berkurang dengan sendirinya,” ujarnya dalam webinar perayaan Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026, Kamis (5/2/2026).
Menurut Umi, tantangan muncul ketika sekolah mendorong pola makan sehat, tetapi lingkungan sekitar justru didominasi jajanan tinggi gula, garam, dan lemak. Dia mencontohkan praktik di beberapa negara yang mulai menerapkan pembatasan jenis pangan di kantin sekolah.
“Di Filipina, misalnya, kantin sekolah sudah tidak menyediakan permen, minuman berpemanis, dan mi instan. Model seperti ini sebenarnya bisa diterapkan, termasuk dengan mengangkat jajanan lokal yang enak, padat gizi, dan dikemas lebih praktis,” katanya.
Selain faktor ketersediaan, Umi menekankan pentingnya memahami alasan di balik pilihan makan remaja. Tren, tekanan sosial, hingga fear of missing out kerap mendorong remaja mengonsumsi makanan tertentu tanpa pertimbangan kesehatan.
“Remaja perlu dibekali kemampuan self-regulation, yaitu keberanian dan kepercayaan diri untuk menentukan apa yang mereka makan, bukan sekadar ikut-ikutan,” tambahnya.
Dia juga mengingatkan bahwa sebagian remaja menjadikan makanan sebagai pelarian dari stres. Dalam konteks ini, pendekatan kesehatan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu didukung aktivitas lain seperti olahraga dan pengembangan minat.
Meski demikian, Umi menilai pola makan sehat tidak harus menghilangkan unsur rekreasi. Prinsip keseimbangan tetap dibutuhkan agar edukasi gizi dapat diterima secara realistis.
“Ada konsep 80-20. Delapan puluh persen konsumsi harian adalah makanan sehat, sementara 20 persen bisa untuk konsumsi sesekali sebagai rekreasi, tentu dengan porsi yang terkontrol,” tutupnya.