PAMERAN KAIN TRADISIONAL: Dari kain kulit kayu sampai tas zaman dulu

JAKARTA: Kain kulit kayu,  busana dan tas dari zaman dulu dalam perspektif modern dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta yang berlangsung hari ini-29 April."Pameran ini diselengarakan atas keinginan luhur melestarikan dan mengembangkan kain tradisional
Zulkarnaini Muchtar
Zulkarnaini Muchtar - Bisnis.com 05 April 2012  |  18:35 WIB

JAKARTA: Kain kulit kayu,  busana dan tas dari zaman dulu dalam perspektif modern dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta yang berlangsung hari ini-29 April."Pameran ini diselengarakan atas keinginan luhur melestarikan dan mengembangkan kain tradisional khususnya kain kulit kayu atau kain tempa, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kain kulit kayu dan untuk memotivasi pata perajin dalam berinovasi," kata Kepala Museum Nasional Intan Mardiana Napitupulu.Kain kulit kayu yang dipamerkan merupakan koleksi Museum Tekstil. Museum Nasional, Museum Negeri Propinsi TSulawesi Tengah, Lampung, Kalbar, Jambi, Bengkli, Papua) dan sejumlah kolektor. Terdapat sedikitnya 80 koleksi terdiri dari busana, kain kulit kayu, peralatan pembuat kain kulit kayu dan lain-lain.Pada pembukaan pameran tersebut juga menampilkan peragaan koleksi tas, sepatu, dan perlengkapan busana karya pengrajin kain kulit kayu dari Bengkulu, Sri Joko, peraih penghargaan Upakarti 2010. Peragaan kelokesi dari kulit kayu itu juga dipadukan dengan busana batik pewarna alam dari Yogyakarta.Pada pameran tersebut, pengunjung juga dapat memiliki koleksi tas dari kulit kayu yang unik. "Produk saya banyak digemari oleh orang asing, karena produk ramah lingkungan," kata Sri Joko, disela-sela pameran tersebut.Busana dari kain kulit kayu itu bertahan sampai lebih dari 50 tahun seperti rok kulit kayu  yang  dipakai oleh Tina Sopi, 70, pembuat kulit kayu tradisional dari Kab. Sigi, Sulawesi Tengah. Sementara itu, perancang busana asal Yogyakarta Suroso mengatakan kain kulit kayu cocok dipakai untuk adibusana.   Sementara itu, Kepala Museum Tekstil, Indra Riawan mengharapkan melalui pameran tersebut dapat makin mendekatkan wastra tradisional kepada masyarakat, serta makin mendekatkan Museum Tekstil ke hati masyarakat sebagai lembaga edukatif kulturan yang turun berpameral yang turut berperan  memperkuat jati diri bangsa.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top