Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PAMERAN SENI: Spritualitas Di Atas Kanvas

JAKARTA—Pada 20 tahun lalu seniman asal Bukittingi, Sumatra Barat, Hendra Buana karya-karyanya banyak memvisualkan kaligrafi Islam, seperti seniornya, Syaiful Adnan. Saat itu akhir dasawarsa 1980-an, ketika seniman ini menyelesaikan studinya di
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 26 Desember 2012  |  01:21 WIB

JAKARTA—Pada 20 tahun lalu seniman asal Bukittingi, Sumatra Barat, Hendra Buana karya-karyanya banyak memvisualkan kaligrafi Islam, seperti seniornya, Syaiful Adnan. Saat itu akhir dasawarsa 1980-an, ketika seniman ini menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Kini karyanya  tidak  mutlak lukisan kaligrafi. Kegelisahan kreatif  tersulut terus-menerus. Dia ingin mengubah persepsi publik bahwa dia bukanlah seniman kaligrafi Islam, dan mampu untuk melukis dengan subyek utama beragam, di luar kaligrafi.

Pada pameran bertema “Peaceful in Faith # 2”, di Jogja Gallery sampai 8 Januari 2012, Hendra memajang 45 karya lukisan dan beberapa karya instalasi.

Dia tidak menampilkan semuanya karya baru, dalam pengertian bukan dikerjakan tahun 2012, namun ada juga karya yang selesai digarap sekitar 10 tahun yang lalu dan belum pernah dipertontonkan kepada publik dalam format pameran seni rupa.Karya-karya yang diketengahkan oleh seniman kelahiran tahun 1963 ini relatif cukup beragam, meski tekanan utamanya masih seperti 20 tahun yang lalu, yakni menampilkan aspek spiritualitas.

Dalam pameran  yang dikuratori oleh Kuss Indarto ini para apresian disuguhi berbagai karya yang mengindikasikan kemampuan Hendra dalam menggoreskan kuasnya di atas kanvas dengan subject matter pemandangan alam, tubuh-tubuh manusia, beragam figur satwa, dan berbagai visual yang lain.

“Dari segi substansi, Hendra Buana masih tetap bersikukuh dengan tema spiritualitas manusia, namun tidak dengan tegas mengharuskannya melukis ayat-ayat suci Al-qur’an. Dia mencoba memberi “penerjemahan” tekstual ke dalam bentuk visual,” kata Kuss Indarto.

Misalnya, dia menceritakan tentang kisah pertemuan Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, tentang Perahu Nabi Nuh, dan berbagai pengembangan tema-tema lainnya.Hendra tidak 100% meninggalkan karya lukis kaligrafi Islam. Setidaknya ada 30% karya yang betul-betul murni sebagai karya seni kaligrafi Islam. Selebihnya, tersamar antara lukisan panorama yang menyelipkan teks-teks ayat suci tersebut.

Dari sini tampak bahwa Hendra Buana memiliki kegelisahan untuk “lepas” dari identitas kreatif yang terasa menguatkan positioning-nya dulu, namun lambat laun justru telah memunculkan eksistensinya sebagai seorang kreator.Pada tahun 2002, Hendra Buana mencoba untuk keluar dari perangkat identifikasi publik tersebut. Kurun waktu itu merupakan saat-saat ketika dia mengalami beragam proses kreatif. Dia ingin sekali mempertontonkan kemampuannya yang masih layak untuk terus diperhitungkan.Upaya “pembebasan diri” dilakukannya. Hendra memulai melukis dengan tema kisah pertemuan Raja Sulaiman dan Ratu Balqis. Kisah yang sejak kecil begitu akrab didengarnya di surau di kampung Tilatang Kamang, Bukittinggi itu divisualisasikan di atas kanvas. Dia menyiapkan kanvas utuh dengan tinggi 190 cm dan panjang sekitar 9,5 meter.

Kala itu, belum masanya booming lukisan berukuran seperti yang dilakukan oleh banyak seniman pada paruh akhir dasawarsa 2000-an. Pelukis Djoko Pekik juga pernah membuat lukisan berukuran besar bertajuk “Berburu Celeng” pada tahun 1998. Ukurannya sekitar 275 x 450 cm.Proses kreatif  Hendra untuk sedikit mengubah persepsi publik atas identitas kesenimanannya dilakukan kala itu. Akhirnya karya besar pertamanya itu betul-betul tuntas setelah dikerjakan sekitar 6 bulan. Ya, bukan waktu yang pendek. Di tengah proses itu, Hendra juga melakukannya sambil berpuasa Senin-Kamis.

Lukisan tersebut, yang juga terpajang dalam pameran tunggal kali ini, adalah pencapaian tersendiri dari proses kesenimanan Hendra Buana. Apakah Hendra Buana akan mendapatkan pengakuan yang lebih komplet tentang kesenimanannya ini? Publik dan waktulah yang akan menentukan. Kita tunggu saja!.  (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top