PERILAKU ANAK-ANAK: Mencegah Kecanduan Online Game

Dampak game cukup bagus untuk perkembangan anak. Hal itu bisa, jika dapat mengasah perilaku motorik, kognitif, dan melatih kemampuan audio.
Miftahul Khoer | 16 Juni 2013 08:54 WIB

Dampak game cukup bagus untuk perkembangan anak. Hal itu bisa, jika dapat mengasah perilaku motorik, kognitif, dan melatih kemampuan audio.

Mencegah kecanduan anak dari online game, ada baiknya orangtua melakukan pencegahan sejak dini. Bukan melarang total anak untuk bermain game, tetapi perlu pendampingan.

Di sebuah warung Internet (warnet) di Bandung, belum lama ini saya mendapati sang pemilik menolak kedatangan seorang siswa sekolah dasar saat hendak bermain game.

Fuad, sang pemilik warnet, bukannya tidak ingin mendapat pelanggan dari kalangan sekolah dasar, tetapi dia sadar jam waktu sekolah belum usai.

“Nanti saya dimarahin sama orangtua kamu, gara-gara kamu gak sekolah,” katanya kepada anak tersebut. Seketika anak itu hilang, berlari entah ke mana.

Warnet milik Fuad sebetulnya sudah memasang sebuah catatan peringatan: ‘Siswa Berseragam Dilarang Masuk’, demi menjaga ketertiban dan kenyamanan usahanya. Dia tidak ingin warnetnya menjadi sarang bolos anak sekolah pada jam-jam tertentu.

Samsul Anwar, anak kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Al-Mishbah Kota Bandung mengatakan dirinya bisa sampai menghabiskan waktu 3 jam bermain online game sepak bola.

Dia sengaja meminta uang kepada orangtuanya untuk bermain game yang dekat dengan lokasi rumahnya. “Kadang 1 jam kadang 3 jam. Satu jamnya Rp3.000,” katanya.

Mira D Amir, Psikolog dari Lembaga Psikologi terapan Universitas Indonesia (LPTUI) mengatakan kehadiran online game saat ini memang menjamur. Permainan yang bukan hanya hadir di kota-kota besar ini belakangan sudah masuk ke pelosok daerah.

Dia menuturkan kebanyakan game tersebut hadir di warnet-warnet dengan harga sewa per jamnya sekitar Rp3.000-Rp4.000. Permainan yang bersifat jaringan ini biasa dimainkan kalangan anak kecil hingga orang dewasa.

Namun, dia mengkhawatirkan banyaknya kalangan anak sekolah yang gemar dengan permainan tersebut justru menjadi candu. Tak sedikit anak kecanduan lupa diri.

Beberapa kasus yang terjadi, setelah kecanduan game ini, anak maunya terus berhadapan di depan layar monitor. Bahkan di beberapa daerah terdengar kasus pencurian yang dilakukan anak dengan motif ingin mendapatkan uang untuk memainkan permainan tersebut.

“Beberapa kalangan berpendapat itu memicu hormon di otak, sehingga perasaan yang ditimbulkan dari anak ingin bermain terus,” katanya.

Dia menuturkan sebetulnya dampak game cukup bagus untuk perkembangan anak. Hal itu bisa jika dapat mengasah perilaku motorik, kognitif, dan melatih kemampuan audio seperti bermain musik.

PENDAMPINGAN ORANGTUA

Mira memaparkan untuk mencegah kecanduan anak dari online game, ada baiknya orangtua melakukan pencegahan sejak dini. Bukan melarang total anak untuk bermain game, tetapi perlu pendampingan dan bimbingan terhadap anak agar tidak terlalu kebablasan.

Selain itu, ungkap Mira, pembatasan waktu bermain juga perlu dilakukan. Dia mencontohkan dalam waktu akhir pekan anak, idealnya anak diperbolehkan bermain game sekitar 15 menit hingga 1 jam. Setelah itu, anak diajak bermain dengan jenis permainan lain yang bisa melatih otak atau fisik, macam berenang. “Perhatikan juga grup anak bermain, dengan siapa mereka berkelompok?” ujarnya.

Dia menyebutkan anak usia 6-12 tahun cenderung ingin melakukan hal yang dirasa mampu dilakukannya. “Seperti kasus online game. Jika seorang anak sudah pandai bermain, teman lainnya ingin melakukan bahwa dia pun bisa,” ujarnya.

Tag : game online
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top