Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Agus Nur Amal (PM Toh): Redam Konflik Melalui Tradisi Lisan

Kurang lebih 10 tahun lalu, sebuah iklan layanan masyarakat mengenai tsunami dibawakan oleh PM Toh muncul di layar kaca. Dia kemudian dikenal sebagai pendongeng bergaya unik karena menuturkan cerita dengan bantuan barang-barang bekas pakai misalnya kantong kresek, sapu, hingga tutup ember.
Inda Marlina
Inda Marlina - Bisnis.com 20 April 2014  |  12:00 WIB
Saat ini didominasi oleh seni yang disponsori perusahaan.  - bisnis.com
Saat ini didominasi oleh seni yang disponsori perusahaan. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kurang lebih 10 tahun lalu, sebuah iklan layanan masyarakat mengenai tsunami dibawakan oleh PM Toh muncul di layar kaca. Dia kemudian dikenal sebagai pendongeng bergaya unik karena menuturkan cerita dengan bantuan barang-barang bekas pakai misalnya kantong kresek, sapu, hingga tutup ember. Cara bertuturnya khas menggunakan nada kidung dari Aceh.

Kegiatan berkesenian PM Toh sebenarnya sudah dimulai sejak 1992. Laki-laki bernama lahir Agus Nur Amal itu tidak hanya sekedar mendongeng. Agus yang sempat mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Seni Pertunjukan ini juga bergerak membangkitkan para penggiat seni  melalui pendekatan pada komunitas-komunitas kecil maupun kelompok kesenian di kampung dan kota di Aceh.

Obsesinya adalah membentuk dan memperkuat jaringan seniman di Aceh serta memodernisasikan kesenian di daerah kelahirannya tersebut.“Di mulai dari Aceh, aku ingin memetakan dan membentuk satu benang merah bahwa konflik bisa diredam melalui kesenian,” ujarnya.

Melalui dongeng, dia turut memetakan akar dari konflik-konflik dari masyarakat di Aceh. Agus melihat konflik yang ada dalam masyarakat merupakan konflik horisontal. Pendekatan melalui cerita merupakan salah satu cara agar orang-orang yang terkena imbas dari konflik tersebut berani mengungkapkan wacana maupun sekedar menceritakan pengalamannya.

Agus juga tengah mengajak seluruh seniman dan masyarakat di Aceh berkolaborasi mencari titik sambung dari tradisi-tradisi di sana. Salah satu buah usahanya adalah mengadakan pesta kampung dalam festival menabuh rapa’i, alat tabuh khas Aceh. Hal ini cukup berhasil karena festival tersebut dijadikan sebagai forum pertemuan antar kampung. “Tradisi itu defensif, oleh karenanya salah satu penyelesaian konflik adalah berkolaborasi mencari titik temu.”

Saya bertemu Agus di sebuah rumah kontrakan sederhana di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Sebuah keberuntungan karena dalam pekan ini dia akan bertolak ke Aceh sebelum mengadakan pertunjukan di Bandung, Batam, Singapura, dan London, Inggris.

Selain menjadi  seniman teater, dia juga menjadi peneliti dibidang seni. Selama 3 tahun terakhir, Agus memiliki kegiatan rutin mengikuti forum International Storytelling Festival yang berpusat di Bangkok, Thailand. Kegiatan tersebut diadakan setiap tahun. Dalam festival tersebut, dia memanfaatkan pertemuan bersama pendongeng di seluruh dunia sebagai ajang saling bertukar ide dan gaya bercerita. Mereka kemudian membentuk semacam workshop atau seminar kemudian menguji coba media dongeng untuk pembelajaran pada masyarakat.

Seminar yang difasilitasi oleh Universitas Mahasarakham dan pemerintah Thailand tersebut salah satu kegiatannya mengujicobakan dongeng sebagai media pembelajaran untuk anak-anak setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. “Di Thailand, kegiatan seperti mendongeng justru sedang dikembangkan serius oleh pemerintahnya,” kata Agus.

Tahun depan dalam forum yang sama, International Storytelling Festival akan membentuk seminar yang fokus pada kesenian sebagai resolusi untuk konflik. Agus mengatakan, resolusi konflik melalui seni biasanya dipelajari di Eropa dan Jepang. Pada 2015 Thailand menjadi negara di kawasan Asia Tenggara yang mulai menggunakan media seni, terutama seni lisan sebagai jembatan meretas konflik. Festival yang dimulai pada 2011 ini direncanakan akan dijadikan ajang 5 tahunan.

Salah satu jaringan pegiat seni internasional lain yang diikutinya adalah International Theater Object. Dalam forum yang diikuti seniman dan peneliti seni dari berbagai negara tersebut, Agus menjadi peneliti serta salah satu dari tiga narasumber utama. International Theater Object merupakan forum peneliti antar universitas yang difasilitasi oleh Royal Holloway, University of London.

Agus mengatakan geliat seni di Indonesia pada era 2000-an saat ini didominasi oleh seni yang disponsori perusahaan. Padahal, salah satu “tugas” seniman adalah menyadari bahwa perannya sebagai jembatan penyampaian aspirasi masyarakat, bukan hanya sebuah komoditas. Meski demikian, dia menilai pemerintah saat ini pun juga kurang membantu dalam mengembangkan kesenian.

Nama

Agus Nur Amal

Tempat Tanggal Lahir

Sabang, 17 Agustus 1969

Pendidikan

 D3 Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (1988-1990)

S1 Teater Institut kesenian Jakarta (2009-2010)

Pengalaman

Pendongeng di berbagai acara dan negara, narasumber workshop dan seminar

Peneliti dan narasumber di International Storytelling Festival, Thailand

Narasumber di Theater Object, Inggris.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konflik
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top