Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Din Syamsuddin: Kecanduan Kopi

Minum kopi kini sudah menjadi semacam gaya hidup. Ada istilah yang beredar di masyarakat Indonesia yang mengatakan bahwa jika belum meminum kopi sehari, hidup akan terasa hampa.
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 20 April 2014  |  12:40 WIB
Din bersama sebagian rombongan mencari tempat untuk beristirahat atau bersantai, dan menemukan sebuah daerah di Aceh Besar yang menyajikan kopi Gayo.  - bisnis.com
Din bersama sebagian rombongan mencari tempat untuk beristirahat atau bersantai, dan menemukan sebuah daerah di Aceh Besar yang menyajikan kopi Gayo. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Minum kopi kini sudah menjadi semacam gaya hidup. Ada istilah yang beredar di masyarakat Indonesia yang mengatakan bahwa jika belum meminum kopi sehari, hidup akan terasa hampa. Ada juga sebagian orang mengatakan bahwa minum kopi hanya untuk sekadar menghangatkan tubuh atau menemani hisapan rokok. Kopi bahkan menjadi candu bagi sebagian penikmatnya.

Begitu juga dengan Din Syamsuddin. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan dirinya tidak bisa lepas dari kopi. Sejak 2005-2012, Din bisa menghabiskan kopi 3-5 gelas sehari. Pagi, siang, malam kopi selalu menemani Din beraktifitas.

"Saya sendiri tidak mengerti, kebanyakan orang minum kopi menyebabkan tidak bisa melek. Justru saya ketika minum kopi langsung ngantuk. Jadi kalau mau cepat-cepat tidur setidaknya saya minum kopi terlebih dahulu," tuturnya.

Ketertarikan Din meminum kopi awalnya ketika berkunjung ke Aceh pada 2005. Din bersama rombongan Muhammadiyah waktu itu membuka posko bantuan bagi korban tsunami Aceh. Dia mengisahkan kehancuran Aceh membuat sebagian wilayah mati total dalam beraktifitas.

Din bersama sebagian rombongan mencari tempat untuk beristirahat atau bersantai, dan menemukan sebuah daerah di Aceh Besar yang menyajikan kopi Gayo. Di situlah kegemaran terhadap kopinya mulai teradiksi. Sepulang dari Aceh, kecanduan kopi semakin menjadi-jadi.

"Bahkan kalau saya berkunjung ke tempat-tempat atau daerah di nusantara, yang pertama saya tanyakan adalah kopi asli daerah tersebut. Kalau ada, saya suka borong untuk dikonsumsi di rumah," ujarnya.

Dalam urusan rasa kopi, Din memiliki kesukaannya sendiri. Kopi Gayo, Mandailing, Lumajang, Kintamani, Toraja dan Luwak sudah dia cicipi. Bahkan, Din berencana untuk membuka gerai usaha kopi yang sudah dia rencanakan sejak lama. Rencana usahanya tersebut ingin menyasar kalangan ekspatriat untuk membuktikan bahwa Indonesia memiliki warisan rempah yang melimpah.

"Selain itu saya ingin menjadikan kopi sebagai alat diplomasi terhadap negara lain. Semoga rencana usaha ini bukan hanya sekadar bisnis semata, tetapi membuka dialog antara Indonesia dengan negara-negara di dunia" ujarnya yang belum berani kapan dan di mana tempat usaha tersebut akan dibuka.

Din menambahkan salah satu anak lelakinya bahkan lebih dulu membuka usaha kopi di kawasan Kemang Jakarta Selatan bernama Kopi Komodo. Dinamakan Komodo untuk nama usahanya, lantaran komodo sudah dikenal luas oleh kalangan turis dan wisatawan asing lainnya. Namun, Din mengaku, akhir-akhir ini porsi minum kopinya sedang dikurangi. Tidak sebanyak waktu-waktu dulu yang sangat kecanduan.

"Paling sekarang habis 2-3 gelas per hari," paparnya yang suka meracik kopi sendiri di rumah dengan cara mengoseng dan menambahkan sedikit kapulaga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top