Menpora Roy Suryo mengunjungi mantan pemain timnas Thio Him Tjiang di rumahnya di Tanjung Duren Barat, Jakarta. /bisnis.com
Show

LEGENDA SEPAK BOLA, Thio Him Tjiang Diabadikan dalam 8 Foto Cerita

Diena Lestari
Minggu, 18 Mei 2014 - 20:09
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pandangan matanya sayu. Menatapnya lekat akan membuat siapapun seperti terlempar ke lintasan masa lalu. Kenangan tentang sebuah dunia yang jauh, dunia yang lama, di masa silam yang penuh dengan segala gegap gempita, sorak sorai, berikut puji puja. Kekinian menjadi hal yang tertinggalkan.

Pria bermata sayu itu bernama Thio Him Tjiang. Dia dikenal dan dikenang publik sebagai back kiri PSSI yang cukup tangguh menghalau serangan lawan. Tidak hanya PSSI yang berbangga, Persija dan klub asalnya, Union Makes Strength (UMS) di Petak Sinkian juga merasakan kebanggaan yang sepadan.   

Sekitar 58 tahun lalu, lapangan hijau MelbourneCricket Ground, Australia geger. Tim nasional Indonesia berhasil menahan laju tim sepak bola Rusia, dengan angka seri pada perempat final Olimpiade Mebourne.

Kerja keras Him Tjiang dan rekan setim tidak sia-sia. Meski pada pertandingan ulang, tim Indonesia mesti bertekuk lutut 0-5 dari tim Beruang Merah, tetapi apresasi kepada tim yang dilatih oleh  Atun ‘Toni’ Pogacnik terus berdatangan. Kerja keras pelatih asal Yugoslavia yang didatangkan Ketua Umum PSSI Maladi, atas restu Presiden Soekarno itu dinilai berhasil mengharumkan nama bangsa.

Sorak sorai tak lagi terdengar. Hanya kenangan yang masih sesekali mampir. Beranjangsana untuk sekedar mengusir sepi. Kini, Him Tjiang merenta. Tubuhnya semakin ringkih. Jalan hidup menggariskannya tinggal sendiri di usia senja. Tugas tur tim PSSI ke sejumlah negara di Eropa Timur membuatnya ditinggalkan sang belahan hati.

Dalam hidup memang selalu ada harga yang harus dibayar. Seringkai hidup tak ubahnya seperti suara tiupan terompet yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Harmon mute yang terpasang di lubang terompet mengalunkan suara menggumpal, lembut, tetapi terdengar pedih di telinga. Bunyinya mendengungkan kesepian, kegetiran yang mengusap perasaan.

Kisah legenda hidup yang pernah berjaya di lapangan hijau, Him Tjiang diabadikan dalam 8 foto cerita karya Edi Ismail, bertajuk I live Alone. Karya salah satu anggota angkatan XIX Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) ini turut dipamerkan dalam pameran Unfinished di GFJA, Pasar Baru, Jakarta. Karya Edi merupakan bagian dari tugas akhir pelatihan Fotografi GFJA, yang dibuatnya bersama dengan 32 peserta lain.

Foto cerita tentang kehidupan keseharian dapat ditemukan dalam karya Pius Erlangga, Laskar Terbuang. Dengan apik Pius menceritakan kehidupan Serma Didik Suprapto yang dahulu turut menumpas Fretilin dalam Operasi Seroja, hingga akhir hayatnya. Fotografi digunakan Pius sebagai medium reportase kehidupan dengan tataran yang pas.

Sementara itu, Arya Manggala Nuswantoro, menggunakan media fotografi untuk mengangkat kritik sosial, dengan karya berjudul Malaikat Penjaga Nyawa. Foto cerita Arya menggambarkan kehidupan ibu Sri yang suka rela menjaga perlintasan kereta api di jalan I Gusti Ngurah Rai, Klender, Jakarta Timur. Hidup dari dana ala kadarnya dari para pelintas, ibu Sri tetap setia menjalankan tugas yang semestinya dijalankan pemerintah.

Peristiwa sosial ditemukan dari karya Bayu Made Winanta berjudul Terjepit, yang berkisah tentang alih fungsi lahan sawah untuk peruntukan lain, di Yogyakarta. Fenomena menikah muda tak luput dari bidikan lensa kamera Rika Panda Pardede. Mengusung judul Tak Sempat Mekar, Rika Panda menangkap tatapan mata lugu anak di bawah umur, yang terpaksa mengemban tanggung jawab menjadi orang tua.

Untuk foto tunggal, karya Yudhono Agung N. yang berjudul Harapan menjadi catatan tersendiri. Foto yang hanya mengambil obyek telapak kaki yang pecah-pecah terbakar panas aspal jalanan, cukup jelas menyimbolkan makna kerja keras. Cerita mengenai kerasnya kehidupan tidak lepas dari bidikan Saifulah Febri dan Djonet Sugiarto, yang masing-masing mengangkat foto bertajuk Menjaga Putaran, dan Terbayang Jakarta. Foto lanskap yang simple dan bersih dapat dilihat dari karya Rani Yacob, berjudul Timeless.

Memang tak ada gading yang tak retak. Meski, tak ada salahnya jika perlu sedikit jeli dalam bermain dengan aksara, sehingga typo yang cukup banyak ditemukan dalam info foto dapat diminimalisasikan. Di luar masalah typo, angkatan XIX GFJA patut mendapatkan apresiasi. Pesan yang disampaikan peserta melalui medium fotografi dapat ditangkap oleh khalayak dengan terang benderang.

Penulis : Diena Lestari
Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (18/5/2014)
Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro