Fashion

Pengembangan Kain Etnik Terhambat Distribusi

Deandra Syarizka
Rabu, 25 Maret 2015 - 02:17
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kain etnik sudah lazim menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi para perancang busana di Indonesia. Namun, di sisi lain, sesungguhnya masih ada setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Indonesia dalam hal pengembangan kain nusantara.

“Para pelaku fashion itu mesti punya kesadaran begini, bahwa Indonesia tidak cukup hanya jadi “topeng monyet” saja, dalam artian jadi penyelenggara show, sifatnya hanya selebrasi tapi produksinya (kain nusantara) justru lemah,” ujar perancang busana Samuel Wattimena, yang setia mengeksplorasi kain nusantara sejak 1985 ini, seperti dikutip Bisnis.com, Rabu (25/3/2015).

Menurut desainer peraih penghargaan upakarti untuk pengembangan tenun Timor-Timur dan tenun tanimbar asal Maluku Tenggara ini, masalah terbesar pengembangan kain nusantara terletak di distribusi logistik yang belum merata dan minimnya infrastruktur. Oleh karena itu, meski kesadaran masyarakat akan kain etnik tengah meningkat, namun dia menilai hal tersebut sifatnya masih terpusat di Jakarta dan bersifat pagelaran saja.

Dia pun memiliki beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan oleh beragam pihak terkait mulai dari pelaku industri fashion hingga pemerintah daerah untuk mengembangkan kain nusantara. Meski masih pembenahan yang harus dilakukan, dia optimistis kain nusantara  akan terus berkembang.

Pertama, pentingnya bagi para akademisi sekolah desain untuk memasukkan muatan lokal tentang kain nusantara dalam kurikulum mereka. Dengan demikian, wawasan, kesadaran dan kecintaan para desainer muda terhadap kain etnik akan tertanam sejak dini, sebelum mereka terjun menjadi desainer profesional.

Selain itu, pemerintah daerah juga memegang peranan penting dalam memberikan pelatihan kepada para pengrajin sehingga kapasitas produksi kain nusantara terus meningkat. Saat ini, menurut Sammy, kapasitas produksi kain nusantara oleh para pengrajin lokal di daerah masih belum bisa memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi.

Desainer yang dinobatkan sebagai desainer terbaik se-Asia Pasifik dalam ajang Fiji Fashion Week beberapa tahun yang lalu ini juga telah menyiapkan strategi bisnis guna mengangkat kain tenun tanimbar Maluku Tenggara.

Untuk menjangkau kelas menengah ke atas, dia mengkreasikan desain tas bermotif batik tenun dengan metode printing ke atas kulit ular. Untuk menjangkau generasi muda, dia mendesain busana-busana bermotif kain etnik dengan gaya yang lebih kasual dan terjangkau bagi mereka. Adapun untuk pasar luar negeri, dia berencana untuk mengeksplorasi motif batik ke atas kain sutera yang lebih ringan, lembut, dan memiliki peluang kenaikan harga yang besar.

Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro