Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Kendala Pengobatan Kanker di Indonesia

Bisnis.com, SingapuraKanker bukan lagi penyakit langka. Sepanjang 2014, terdapat 347.792 kasus penyakit kanker di Indonesia, dan dari jumlah itu, kanker payudara merupakan yang terbanyak. Namun, perawatan kanker itu sendiri masih memiliki sejumlah hambatan.
Wan Ulfa Nur Zuhra
Wan Ulfa Nur Zuhra - Bisnis.com 15 Mei 2015  |  13:05 WIB
Anak penderita kanker - medicalindiatourism.com
Anak penderita kanker - medicalindiatourism.com

Bisnis.com, Singapura— Kanker bukan lagi penyakit langka. Sepanjang 2014, terdapat 347.792 kasus kanker di Indonesia, dan dari jumlah itu, kanker payudara merupakan yang terbanyak. Namun, perawatan kanker itu sendiri masih memiliki sejumlah hambatan.

Iwan Dwiprahasto, Ketua Divisi Pharmaceopidemiology dan Pharmacoeconomics UGM, mengatakan setidaknya ada enam tantangan dan hambatan untuk perawatan kanker di Indonesia, dan persoalan itu harus segera dicarikan solusinya.

“Indonesia ini negara kepulauan dengan luas wilayah yang cukup kompleks. Kendala utama tentu soal akses,” ujarnya dalam seminar tentang kanker yang digelar Novartis Oncology di Singapura, Kamis (14/5/2015).

Iwan menjelaskan, kendala pertama adalah soal minimnya program deteksi kanker sejak dini. Banyak penderita kanker yang mengetahui penyakitnya ketika sudah masuk stadium lanjut. Sementara, kanker yang memasuki stadium lanjut sangat sulit. Bahkan tidak bisa disembuhkan. Pada akhirnya, pengobatan hanya untuk bertahan hidup dalam jangka waktu tertentu.

Kendala kedua, lanjut Iwan, adalah sulitnya akses terhadap diagnosa yang komprehensif. Banyak rumah sakit di berbagai daerah yang tidak memiliki fasilitas mumpuni untuk diagnosikanker.

“Tidak hanya itu, ketiga, biaya diagnosis itu sendiri juga sangat mahal,” katanya.

Fenomena

Selain itu, Iwan menyebut ada fenomena para penderita kanker mendatangi klinik herbal yang mengklaim bisa mengobati kanker. Akan tetapi, yang dihilangkan hanyalah rasa sakit. Sedangkan, sel kankernya masih bersemayam di tubuh pasien.

“Ketika para pasien menyadari dan datang ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat,” jelas Iwan.

Fenomena tersebut, sambungnya, merupakan dampak dari hambatan kelima, yakni mahalnya harga obat kanker. Ada yang  200-an ribu per butir dan sehari harus dimakan tiga kali. Itu artinya untuk bertahan hidup sebulan, dibutuhkan sekitar Rp18 juta.

Terakhir, adalah tidak tersedianya obat-obat kanker tersebut di seluruh pelosok negeri. Menurut Iwan, perusahaan farmasi hanya menyediakan obat di kota-kota besar, tidak di seluruh wilayah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

novartis kanker
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top