Ajari Anak Bersosialisasi Lewat Playdate

Bagi anak-anak, bermain merupakan kebutuhan dan kegiatan utama dalam kesehariannya. Namun, di usia prasekolah, yakni jelang 5 tahun, kebutuhan anak untuk bersosialisasi dan mengenal orang lain di luar orangtua dan keluarga terdekatbisa dengan bermain bersama teman-teman sebayasemakin tinggi.
Nurbaiti & Duwi Setiya Ariyanti | 10 Januari 2016 04:10 WIB
Playdate itu agar anak terbiasa dengan kehadiran orang lain di luar keluarganya.

Bisnis.com, JAKARTA - Bagi anak-anak, bermain merupakan kebutuhan dan kegiatan utama dalam kesehariannya. Namun, di usia prasekolah, yakni jelang 5 tahun, kebutuhan anak untuk bersosialisasi dan mengenal orang lain di luar orangtua dan keluarga terdekat—bisa dengan bermain bersama teman-teman sebaya—semakin tinggi.

Sayangnya, bagi keluarga yang tinggal di kompleks perumahan eksklusif, town house, atau apartemen—yang jumlah anak-anaknya lebih sedikit dan jarang bersosialisasi dengan sekitarnya—akan kesulitan mengajak anak bermain dengan teman-teman seusianya.

Untuk itu diperlukan cara khusus agar anak tetap bisa bersosialisasi, salah satunya dengan mengundang teman-teman seusia si kecil untuk bermain bersama. Cara ini dikenal dengan istilah playdate, yakni merancang kegiatan bermain si kecil—bisa outdoor ataupun indoor—dengan mengundang satu, dua, hingga lima orang teman seusianya.

Dalam merancang playdate, orangtua bisa menyediakan berbagai macam mainan yang bisa dilakukan si anak bersama teman-temannya, seperti bola, beragam mainan konstruksi, perosotan, rumah-rumahan beserta bonekanya, atau lainnya.

Beberapa keluarga muda di kalangan tertentu, terutama di kota-kota besar sudah mulai banyak melakukan hal ini demi memenuhi kebutuhan sosialisasi si kecil sebelum masuk usia sekolah.

Psikolog Saskhya Aulia Prima dari Tiga Generasi mengatakan kegiatan bermain bersama teman seusia anak akan menjembatani hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada usia 6--7 bulan, pada umumnya anak-anak akan dihinggapi rasa takut terhadap kehadiran orang lain. Namun melalui kegiatan bermain bersama, anak akan terbiasa dengan kehadiran orang lain di luar keluarganya, sehingga lebih mudah bersosialisasi ketika sudah masuk sekolah.

"Playdate itu agar anak terbiasa dengan kehadiran orang lain di luar keluarganya," ujarnya, belum lama ini.

Playdate ini bisa membantu anak belajar bersosialisasi karena dengan bermain bersama dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya, anak bisa belajar bagaimana cara mengelola emosi dan keinginannya.

Sebagai contoh, ketika anak harus bergantian dengan teman yang lain pada saat bermain perosotan atau ayunan, anak belajar mengendalikan keinginannya.

Saskhya menjelaskan kemampuan adaptasi setiap anak berbeda dengan lainnya. Ada anak yang mudah menerima kehadiran orang lain tanpa kikuk dan takut, tetapi ada anak lain yang merasa sebaliknya.

Hal itu juga akan berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial yang berlaku. Anak, katanya, akan belajar tentang hal-hal yang diangap pantas dan tidak ketika berada dalam sebuah kelompok bermain. “Ini penting untuk mempersiapkan anak masuk ke tahapan berikutnya yaitu saat mendapat pendidikan dini.”

Dari segi usia, kelompok anak hingga usia 2 tahun, biasanya cenderung suka bermain sendiri, kendati menyadari kehadiran orang lain di sisinya. Beranjak usia tiga tahun hingga empat tahun, anak mulai bisa berbaur dengan anak lainnya yang ada di sekitarnya.

Namun, ketika anak berusia lima tahun, anak mulai memperlihatkan sisi lainnya, apalagi ketika ada orang lain yang mengatur atau lebih dominan dalam sebuah kelompok bermain. "Sebenarnya enggak apa-apa, cuma pemaknaan kebersamaannya saja. Itu menunjukkan kalau setiap usia berbeda, dari mulai yang egois sampai yang peduli," katanya.

TUJUAN SOSIALISASI

Psikolog Klinis Anak dan Keluarga Intan Kemalasari mengatakan tujuan sosialisasi adalah sebagai proses pengenalan diri sendiri dan orang lain dengan perannya masing-masing. Melalui sosialisasi, seseorang dapat menyesuaikan perilaku yang diharapkan, mengenal dirinya, dan mengembangkan segenap potensinya dalam bermasyarakat.

Intan menjelaskan keterampilan bersosialisasi bisa menjadi ‘modal dasar’ anak melewati setiap fase kehidupannya, mulai dari sekolah, berteman, hingga masuk ke lingkungan kerja.

Psikolog Roslina Verauli menambahkan setiap fase anak memang memiliki pendekatan yang berbeda. Khusus di fase nol sampai 5 tahun, anak cenderung ingin selalu berdekatan dengan orangtuanya karena pada usia itu anak berada pada fase Hold Me Tight yang memberikan ruang lebih banyak kepada orangtuanya dibandingkan dengan orang lain di lingkaran terdekat.

Di fase ini, jalinan antara orangtua dan anak akan dibentuk. "Nol tahun sampai 5 tahun, di fase Hold Me Tight, semua anak-anak mau deket sama bapak-ibunya," katanya.

Namun, untuk mempersiapkan anak masuk ke fase lainnya yaitu usia enam tahun sampai 12 tahun—saat orang lain akan mendapat ruang lebih—orangtua harus hadir tetapi dengan mempertimbangkan aspek bagaimana anak terbiasa dengan keberadaan orang lain. Mengajarkan anak untuk mengenal orang lain di usia mendekati 5 tahun akan menjadi modal yang baik sebelum melangkah ke fase lainnya.

Jadi, kendati fase ini penting untuk hubungan antara orangtua dan anak, jangan lupakan keberadaan orang lain yang juga berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. ()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sosialisasi, anak-anak

Sumber : Bisnis Indonesia, Jumat (8/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top