Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perjuangan Penderita Kanker Terangkum dalam Buku "Anakku, Malaikatku"

Buku berjudul Anakku, Malaikatku menjadi karya ke 12 yang ditulis Kristin Samah, sejak rilis buku pertama Ryaas Rasyid, Penjaga Hati Nurani Pemerintahan (2001). Penulis lebih banyak mengulas tentang sosial dan politik pada 11 karya sebelumnya, salah satunya ulasan tokoh politik dan orang di balik kesuksesannya. Ulasan ini dapat ditemui pada karya seperti Diplomasi Hati ala Jokowi (2014) dan Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014).n
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 23 Februari 2016  |  11:10 WIB
Perjuangan Penderita Kanker Terangkum dalam Buku "Anakku, Malaikatku"
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA - Buku berjudulAnakku, Malaikatkumenjadi karya ke 12 yang ditulis Kristin Samah, sejak rilis buku pertamaRyaas Rasyid, Penjaga Hati Nurani Pemerintahan(2001). Penulis lebih banyak mengulas tentang sosial dan politik pada 11 karya sebelumnya, salah satunya ulasan tokoh politik dan orang di balik kesuksesannya. Ulasan ini dapat ditemui pada karya sepertiDiplomasi Hati ala Jokowi(2014) danSaya Sujiatmi, Ibunda Jokowi(2014).

Berbeda, buku setebal 147 halaman ini tak ubahnya buku motivator yang berisi pesan-pesan positif dalam sebuah cerita.Anakku, Malaikatkumerangkum perjuangan Eugene Evan Handuran melawan kanker mata, hingga meninggal di usia tujuh tahun pada 2001 silam. Evan, biasa disapa, mendapat vonis retinoblastoma atau kanker mata saat menginjak usia tiga tahun enam bulan. Saat usia dini, Evan harus mengalami kebutaan total karena retinanya kehilangan fungsi untuk menerima cahaya. Lebih dari itu, salah satu bola mata Evan harus diangkat untuk menghentikan penyebaran kanker.

Melalui buku ini, penulis membawa pembacanya agar lebih mengenal tentang pertolongan Tuhan.Di balik musibah kanker mata, orang tua Evan, Zakaria Munisera Handuran dan Vini Isoballa Sopacua, justru memperoleh berkat dan menjadi sumber kekuaatan dalam menjalani kehidupan. Buku yang terdiri dari enam bab ini, tidak lain menjadi pengingat pentingnya deteksi dan penanganan sejak dini pada penderita kanker.

karya ini bukan berisi cerita picisan yang hanya menawarkan air mata pada pembacanya. Namun, penulis juga membawa pembacanya mengenal ilmu kebatinan yang diturunkan dari nenek moyang. Hal ini diceritakan pada bab Prolog hingga bab 3 melalui tokoh Zaka, yang merupakan keturunan suku Dayak.

Penulis tidak mengulas secara mendalam tentang ilmu-ilmu suku Dayak, agar pembaca tetap fokus pada pesan utama. Bukan hanya perjuangan melawan kanker. Buku ini mengenalkan kepada kita soal budaya suku Dayak, ujar Kristin saat peluncuran bukuAnakku, Malaikatkudi Toko Buku Kinokuniya Plaza Indonesia, Jakarta.

Gaya bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal, dengan aku menjadi tokoh utama. Penceritaan disajikan secara detail dan mendalam, tidak lepas dari pengalaman penulis sebagai wartawan. Selain itu, penulis mendapat penuturan langsung dari orang tua Evan.

Kristin Samah pernah menjadi wartawan di Suara Pembaruan, Suara Bangsa, dan Sinar Harapan. Dia juga merintis Koran Perempuan, aktif menulis, mengajar, dan menjadi konsultan komunikasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buku
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top