Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BUKU: Belajar dari Bos Furukawa

Jepang pernah mengalami masa kehancuran setelah Perang Dunia II. Namun, sifat dasar masyarakatnya yang disiplin dan kerja keras membawa Jepang bangkit menjadi salah satu negara Adidaya dalam industri dan perdagangan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 28 Februari 2016  |  01:25 WIB
BUKU: Belajar dari Bos Furukawa
Furukawa bercerita pendirian Fantasia Square karena dilatarbelakangi cita/citanya menjadi atlet olah raga profesional saat itu. (halaman 95).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jepang pernah mengalami masa kehancuran setelah Perang Dunia II. Namun, sifat dasar masyarakatnya yang disiplin dan kerja keras membawa Jepang bangkit menjadi salah satu negara Adidaya dalam industri dan perdagangan. Sifat dasar ini pula membawa Yasuo Furukawa, mampu merintis usaha dari nol hingga menjadi Furukawa Shell Co Ltd.

Di Indonesia, Furukawa membangun pabriknya di Karawang International Industry City (KIIC) bernama PT Furukawa Indonesia. Duet Usman Suryanegara dan Zeni Zaelani mampu merangkum 44 tahun kisah perjalanan Furukawa merintis usaha dalam buku berjudul Yasuo: Hidup Tak Henti Memberi Arti.

Buku yang baru saja dirilis pekan lalu di Hotel JW Marriott, Jakarta tidak ubahnya buku motivator yang dikemas dalam sebuah biografi. Namun, tidak hanya menuliskan perjalanan merintis usaha, tetapi juga berisi pesan positif, inspirasi, dan kunci sukses.

Buku setebal 145 halaman terbagi dalam prolog, lima bab, dan epilog. Dalam prolog, Furukawa memberi pesan semangat untuk berubah meskipun di tengah kegetiran dan keterbatasan yang dimiliki.

Furukawa lahir tepat lima tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Dia menekuni olah raga senam sejak SD. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan dirinya melanjutkan cita-cita menjadi atlet profesional.

Furukawa berpindah haluan ke industri manufaktur yang pada 1970-an sedang berkembang pesat. Berawal dari bekerja paruh waktu pada perusahaan manufaktur.  Selanjutnya, dia membuka usaha kecil yang memproduksi komponen teknik air, yaitu water valve, kemudian berfokus memproduksi ornderdil mobil berbasis shell mold.

Nilai-nilai kerja keras dan dispilin dapat ditemui pada cerita 1 Order, 2.000 Buah, 24 Jam (halaman 44), bab Renjana Cita dan Cinta. Bagian ini menceritakan langkah Furukawa memenuhi permintaan 2.000 drum core, yang harus dikirimkan keesokan harinya. Keputusan ini terbilang nekat, tetapi Furukawa dapat membuktikan dengan tetap menjaga kualitas.

Tidak melulu soal bisnis, pesan hubungan antarmanusia terangkum pada bab empat Inspirasi Dari Negeri Matahari Terbit. Furukawa bercerita pendirian Fantasia Square karena dilatarbelakangi cita-citanya menjadi atlet olah raga profesional saat itu. (halaman 95).

Duet Zeni dan Lisman sebagai penulis merupakan duet yang menarik. Zeni sebagai profesional PT Furukawa Indonesia tahu betul bagaimana sifat perjuangan merintis PT Furukawa Indonesia. Cerita lebih dalam juga diperoleh dari kegiatan sehari-hari saat di kantor.

“Setiap pembicaraan dengan Furukawa, saya rekam. Setelah terkumpul saya susun menjadi ulasan yang layak dibaca,” katanya saat peluncuran di Hotel JW Marriot, Jakarta. Bahasa yang renyah dan mudah dipahami  berkat campur tangan Lisman yang berpengalaman menulis cerita inspiratif.

Selain Yasuo: Hidup Tak Henti Memberi Arti, Lisman telah menulis cerita inspiratif lain seperti,  La Tahzan for Students, dan Hikari No Michi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang buku

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (28/2/2016)

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top