Jadi Pembunuh Nomor 2, Orangtua Perlu Waspadai Diare dan Konstipasi Anak

Tahukah Bunda, 3 dari 10 anak mengalami saluran cerna yang rentan atau sensitif, mudah diare, mengalami konstipasi, atau menghasilkan gas berlebihan.
Atiqa Hanum | 02 Mei 2016 01:00 WIB
Ilustrasi - thenewageparents.com

Bisnis.com, JAKARTA - Tahukah Bunda, 3 dari 10 anak mengalami saluran cerna yang rentan atau sensitif, mudah diare, mengalami konstipasi, atau menghasilkan gas berlebihan.

Di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor dua (15%-17%) pada anak usia di bawah 5 tahun, sedangkan konstipasi kronis dialami oleh 12% anak.

Konsultan Gastrohepatologi Anak Badriul Hegar menjelaskan diare adalah kondisi dimana anak buang air besar (BAB) cair lebih dari tiga kali sehari. Keadaan ini dapat disebabkan oleh infeksi, seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur, atau non-infeksi seperti alergi dan intoleransi makanan.

Sedangkan, konstipasi adalah kondisi anak mengalami BAB dengan tinja keras dan frekuensi kurang dari 2 kali dalam seminggu. Deteksi dini dan tata laksana akurat sangat diperlukan pada gangguan saluran cerna, agar kejadian berkepanjangan atau berulang,” bebernya, Minggu (1/5/2016).

Dia mengungkapkan diare dapat dicegah dengan memberikan ASI ekslusif, MPASI sesuai waktu dan kebutuhan bayi, menjaga kebersihan, dan imunisasi. Konstipasi dapat dicegah dengan memberikan cukup cairan dan serat (tidak berlebihan dan tidak kekurangan).

Ada tiga langkah dimana Bunda dapat mendeteksi kesehatan saluran cerna buah hati melalui pola BAB (Buang Air Besar) sejak dini. Pertama adalah perhatikan frekuensi BAB dalam seminggu. Anak berumur 0-3 bulan (ASI) mengalami BAB mulai 5-40 kali, 6-12 bulan terjadi 5-28 kali BAB, dan 1-3 tahun akan terjadi BAB mulai 4-21 kali.

Apabila ini terjadi diare lebih dari 7 hari dinamakan diare akut, 7-14 hari disebut diare berkepanjangan dan lebih dari 14 hari dikatakan sudah kronis atau persistance,” ucapnya.

Lalu, tambahnya, Bunda bisa mendeteksi dari warna BAB dimana warna coklat, coklat kekuningan, kehijauan masih dalam batas normal. Sedangkan warna yang memiliki bercak carah, putih hingga hitam, Bunda harus langsung menghubungi tenaga medis terdekat. Bercak darah bisa mengindikasikan anak terkena konstipasi akibat saluran cerna terlakua oleh konsistensi tinja yang keras. Warna putih mengindikasikan adanya penyakit hati dan hitam pada anak diatas 3 hari mengindikasi adanya penyakit saluran cerna.

Begitu juga dengan konsistensi bentuk dari BAB itu sendiri. Tipe 1 yakni mirip kacang dan sulit dikeluarkan juga tipe 2 yang berbentuk seperti gumpalan yang saling menyatu membentuk seperti sosis bisa diindikasikan adanya konstipasi.

Adapun tipe 3 berbentuk seperti sosis namun agak kasar permukaannya dan tipe empat berbentuk seperti ulat, lunak dan halus menandakan itu adalah BAB normal. Tipe 5, BAB lembek yang berbentuk gumpalan namun mudah dikeluarkan,” terangnya.

Tipe yang mengindikasi diare adalah tipe 6 berbentuk gumpalan lunak agak cair dan sangat mudah dikeluarkan serta tipe 7 merupakan tinja encer/cair dan tidak berbentuk.

Tag : kesehatan, anak, kesehatan anak
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top