Gangguan Kelenjar Tiroid: Awas, Jangan Anggap Remeh Gondok

Ganguan kelenjar tiroid (gondok) dapat mempengaruhi kualitas hidup, namun belum banyak orang peduli dengan kelain kelenjar tersebut.
Reni Efita | 02 Mei 2016 18:52 WIB
Pemeriksaan Tiroid - Reuters/Damir Sogolj

Bisnis.com, JAKARTA – Ganguan kelenjar tiroid (gondok) dapat mempengaruhi kualitas hidup, namun belum banyak orang peduli dengan kelain kelenjar tersebut.

Kelenjar tiroid memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan, yaitu sebagai pengendali utama metabolisme tubuh sehingga berperan penting dalam kesehatan tubuh seseorang.

Tapi pengetahuan masyarakat masih minim dan belum menjadi perhatian khusus bagi masyarakat, menyebabkan banyak orang tidak menyadari datangnya gangguan.

Tanpa penanganan yang tepat, gangguan kelenjar tiroid bisa berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan bukan tidak mungkin ganguan tirod bisa menyebabkan kematian.

Untuk mengetahui hal tersebut, Laboratorium Klinik Prodia mengadakan roadshow dokter dengan tema Doctor for the great family –Seminar Managing Thyroid Disorders. bertempat di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Minggu (1/5/2016).

Jakarta merupakan kota keempat setelah Malang, Medan, dan Manado.

WHO memperkirakan sekitar 750 juta penduduk dunia mengalami ganguan tiroid, bahkan bisa melebihi prevalensi diabetes.

Menurut IMS Health, Indonesia menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara dalam ganguan tiroid yang mencapai sekitar 1,7 juta orang.

Ganguan tiroid ada dua yaitu hipertiroid dan hipotiroid yang penangannya berbeda.

Proses hipertiroid berlangsung cepat, sedangkan hipo prosesnya berjalan lama.

Kejadian kelainan hipotiroid lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki.

Dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD-KEMD, FINASIM mengatakan gejala hipertiroid antara lain berdebar-debar, susah tidur, ada pembesaran tiroid, makan banyak tapi berat badan turun.

Untuk tes tiroid, katanya, perlu melakukan tes TSH,T4, dan periksa antibodi.

Kalau nilai TSH rendah, dan T4 serta TRab tinggi menunjukan adanya indikasi gangguan kelenjar tiroid.

Pengobatanya bisa berlangsung lama 12-24 bulan dan tidak boleh berhenti.

Kalau hasil dari pengobatan kurang, maka disarankan untuk operasi.

Selain itu, katanya, pasien tidak boleh capek, hindari minum kopi, kurangi makanan beryodium tinggi seperti seaweed, hindari cumi-cumi, kol, asap rokok, tidak stress, hindari gangguan psikologi, makan obat teratur, dan pilihlah olahraga yang ringan-ringan saja.

Perjalanan hiper lebih cepat dibandingkan dengan hipo.

Hipotiroid banyak terjadi pada wanita.

Wanita hamil yang mengalami gangguan tiroid akan berdampak pada bayi dan pertumbuhannya juga terhambat.

Hipotiroid, kata Dr. dr. Dyah Purnamasari, Sp.PD-KEMD , bisa disebabkan oleh penyakit hashimoto, ganguan waktu lahir atau pengaruh infeksi di bagian lain.

Gejala-gejala hipo berupa jalannya pelan, pandangan kurang fokus, wajah bengkak, keluhan capek, tidak tahan dingin, berat badan naik.

Ganguan kelenjar hipotiroid, katanya, bisa berdampak pada jantung, fungsi paru-paru, fungsi ginjal.

Pengobatan sama seperti diabetes dari dosis rendah ke tinggi.

Tag : prodia
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top