Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bagaimana Bahagia dalam Bekerja?

Ikuti passion Anda. Kerjakan hal-hal yang Anda sukai
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 13 Mei 2016  |  18:08 WIB
Bagaimana Bahagia dalam Bekerja?
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- “Ikuti passion Anda. Kerjakan hal-hal yang Anda sukai”. Saran yang sangat populer di banyak kalangan. Jamak diketahui setiap orang berusaha mengejar pekerjaan sesuai dengan passion. Dengan passion tersebut mereka berharap dapat menemukan kebahagiaan dalam bekerja dan berprestasi. Tidak heran jika prinsip passion ini justru membuat sebagian cemas dan sering berpindah-pindah pekerjaan.

Hipotesis passion menyebutkan kunci kebahagiaan dalam bekerja adalah bekerja sesuai dengan passion yang mereka miliki. Namun, penulis Cal Newport berusaha mematahkan hipotesis passion melalui ulasannya dalam buku Don’t Follow Your Passion.

Sebelum menulis buku ini, Cal Newport telah menulis tiga buku tentang saran bagi siswa dan mahasiswa. Tiga buku tersebut yakni How to Be a High School Superstar, How to Become a Straight-A Student, dan How to Win at College. Dia juga mengelola blog populer Study Hacks yang membaca pola-pola kesuksesan baik untuk siswa, mahasiswa, maupun lulusan perguruan tinggi.

Pada halaman pertama, Newport mulai mematahkan hipotesis passion melalui bab Passion Steve Jobs. Dia mengulas cerita kesuksesan pendiri Apple Computer Steve Jobs. Apple Computer bukanlah perusahaan yang lahir dari passion. Perusahaan ini justru hasil dari peluang yang dikelola dengan skema yang bagus.

Siapa sangka jika beberapa tahun sebelum mendirikan Apple Computer, Steve Jobs bukanlah seseorang yang bersemangat memulai perusahaan teknologi. Dia kuliah di institusi seni liberal bergengsi di Oregon, Reed College. “Seandainya dia memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan yang dicintai saja, mungkin dia sudah menjadi salah satu guru terpopuler di Pusat Zen Los Altos saat ini,” tulis Newport pada halaman 8.

Pada bab kedua, Newport menjelaskan bahwa passion bukan termasuk alasan memperoleh kepuasaan di tempat kerja. Hasil riset seorang psikolog, Robert J Vallerand, pada 2012 menunjukkan passion dalam bekerja itu langka. Riset lain yang dilakukan Amy Wrzesniewski dari Universitas Yale menunjukkan pegawai yang paling bahagia bukanlah mereka yang mengikuti passion dalam suatu jabatan, tetapi mereka yang menguasai bidang pekerjaan mereka. Kesimpulan lain dari hasil penelitian, Newport melihat bekerja dengan tepat akan lebih baik daripada menemukan pekerjaan yang tepat.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan tanpa panduan hipotesis passion? Newport menjawabnya pada bab keempat tentang perbedaan pola pikir perajin dan pola pikir passion. Pola pikir perajin berfokus pada apa yang bisa Anda berikan kepada dunia. Sementara, pola pikir passion berfokus pada apa yang bisa dunia berikan kepada Anda. Nah, pola pikir passion-lah yang banyak digunakan sebagian besar orang dalam bekerja.

Pembaca akan menemukan upaya Newport menggali kebenaran tentang passion melalui riset dan wawancara ke sejumlah narasumber. Pada bab terakhir, pembaca akan menemukan ringkasan perjalanan karier para narsumber. Jadi Don’t Follow Your Passion.

Judul Buku: Don’t Follow Your Passion
Penulis: Cal Newport
Penerjemah: Adji Annisa Zakiandini
Penyunting: Khairi Rumantati
Penerbit: Noura Books
Cetakan Pertama: Maret 2016
Halaman: 284 halaman
ISBN: 978-602-385-006-8

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buku
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top