Agar Perusahaan Bisa Melompat Jauh Ke Depan

Kondisi ekonomi global terus bergejolak. Perubahan yang cepat dalam masyarakat memaksa penguasa ekonomi di masa lampau menjadi perusahaan gurem. Bahkan, sebagian dari mereka kini telah gulung tikar.
Benni Setiawan
Benni Setiawan - Bisnis.com 14 September 2016  |  12:45 WIB
Agar Perusahaan Bisa Melompat Jauh Ke Depan
Buku New Response. - Istimewa

Kondisi ekonomi global terus bergejolak. Perubahan yang cepat dalam masyarakat memaksa “penguasa ekonomi” di masa lampau menjadi perusahaan gurem. Bahkan, sebagian dari mereka kini telah gulung tikar.

Sebut saja, betapa di era berjayanya Nokia sebagai raja telephone seluler menyebut Android sebagai perusahaan kecil yang akan mudah digencet dan mati. Kini, Android benar menjadi semut merah yang mengigit gajah hingga terjungkal. Nokia keok di tengah pasar yang terus tumbuh. Kini Android menjadi penguasa jagad telephone genggam.

Tidak hanya Nokia yang kini menjadi pesakitan, perusahaan besar yang dulu menjadi pemain utama kamera digital, Kodak, misalnya, pernah menyebut kamera digital hanyalah trend sesaat. Namun kini kamera digital lebih banyak digunakan oleh masyarakat. Masyarakat sudah mulai meninggalkan produk Kodak.

Berbagai perubahan dan gejolak ekonomi serta bagaimana agar sebuah perseroan tetap berdiri tegak menjadi catatan  Hendrik Lim dalam buku New Games, New Response, Strategy to Win The Market Changes.

Goncangan pasar, tak bisa dipungkiri bertindak bak tes seleksi alamiah ala mekanisme pasar. Ia seolah ingin memastikan keabsahan teori evolusi pasar; hanya mereka yang benar-benar fit dan proper saja yang bisa terus hidup dan menikmati nikmatnya pasar. Sedangkan yang tidak bisa menunjukkan daya adaptasi dan memenuhi kualifikasi  tersebut akan gugur dan tersingkir (halaman 4).

Executive Course Top Leadership di JICA Kitakyusu Fukuoka 2004 ini menegaskan bahwa perusahaan yang ingin maju dan besar,harus mengidentifikasi  apa saja celah dan peluang dibalik berbagai pergeseran driver kinerja dan perubahan dalam lingkungan bisnis. Dengan berorientasi pada apa peluang baru yang muncul dari dinamika tersebut, perseroan akan punya kemampuan menjaring arus pendapatan (top line). Hanya dengan fokus kepada peluang-peluang tersebut, berbagai analisa tentang tantangan atau diskusi perihal isu yang dihadapi perseroan akan memiliki arti dan relevansi terhadap value creation maupun strategi (halaman 24).

Kemampuan merancang dan mengeksekusi strategi yang tajam, tegas, dan jelas kini menjadi kompetensi mandatori kalau binis ingin tetap ada dalam layar radar. Namun, strategi yang hebat itu jika tidak didukung oleh basis value creation yang solid dan inovatif, ia akan cepat kemps dan menyusut.

Oleh karena itu, perseroan perlu merancang strategi dan juga basis value creation untuk memenangkan “persaingan”. Hendrik Lim menawarkan langkah jitu yaitu kecerdasan adaptif. Baginya tanpa itu kepunahan akan menjadi sebuah keniscayaan. Kecerdasan adaptif akan mendorong seseorang bertindak kreatif, inovatif, dan bertindak berdasarkan kebaruan. Mereka secara bersama menggerakkan roda bisnis dengan motto utama hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin. Mutu produk, barang, dan jasa harus selalu meningkat dari hari ke hari.

Guna meraih mutu harian yang selalu baik dan meningkat, maka mendorong seseorang merasa memiliki adalah hal utama. Siapapun yang menyatu dan senang dengan apa yang mereka kerjakan, akan haus mencari tambahan pekerjaan ketika pekerjaan telah selesai. Anda tidak bisa menyetopnya. Mereka yang menyatu dengan pekerjaannya, akan larut dalam keasyikan kerja. Mereka ini sering disebut in the flow dalam pekerjaan. Mereka “on”. (Halaman 269).

Pemanusiaan

Inilah kekhasan Managing Director Defora Consulting dalam setiap tulisannya. Ia selalu menegaskan bahwa pemanusiaan perseroan terhadap tenaga kerja menjadi sebuah keniscayaan. Saat perseroan tidak memedulikan mereka, dan cenderung hanya memandang mereka sebuah “buruh yang dibayar”, maka sebuah perusahaan tidak akan pernah tumbuh (growing). Perusahaan akan mati, bersamaan dengan matinya semangat mereka untuk membesarkan tempat kerjanya.

Kepiawaian Hendrik Lim meramu literatur dan pengalaman menangani banyak perseroan menjadikan ia mampu melihat secara jernih di mana persoalan utama dalam proses kerja. Hendrik Lim melihat relasi yang dibangun selama ini masih jauh dari humanisasi, sehingga banyak perseroan tidak tumbuh dan cenderung “mati”.

Melalui buku ini Hendrik Lim ingin menegaskan bahwa kini pola permainan pasar berubah, new games. New games membutuhkan new response. Hanya dengan itu perusahaan akan dapat melompat jauh ke depan dan mendapatkan terobosan kinerja dan atmosfir kerja yang baru (new score).  

 

Data buku

Judul                     : New Games, New Response, Strategy to Win The Market Changes

Penulis                 : Hendrik Lim., M.B.A.

Penerbit              : Defora Publisher, Jakarta

Cetakan               : Mei, 2016

Tebal                     : xvi  + 390 halaman

 

*) Benni Setiawan, Dosen Universitas Negeri Yogyakarta

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku

Editor : Setyardi Widodo
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top