Film Tradisi Kembali Menghentak

Rumah produksi Mahakarya Pictures mempersembahkan film terbaru karya Arif Malinmudo berjudul Surau dan Silek. Film ini kembali memperkenalkan tradisi surau khas Minangkabau kepada para moviegoers.
Ramdha Mawaddha
Ramdha Mawaddha - Bisnis.com 25 April 2017  |  19:19 WIB
Film Tradisi Kembali Menghentak
Film Surau dan Silek - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Rumah produksi Mahakarya Pictures mempersembahkan film terbaru karya Arif Malinmudo berjudul Surau dan Silek.

Film yang mengangkat kearifan lokal Minangkabau ini akan menghadirkan sejumlah selebritas yakni Dewi Irawan, Gilang Dirga, Komo Ricky, Praz Teguh, Yusril Katil, Dato' A Tamimi, Bintang Khairafi, Muhammad Razi, Bima Jousant, Randu Arini, dan F. Barry Cheln.

Film yang dijadwalkan rilis di bioskop pada 27 April ini menjadi menarik karena mengisahkan tradisi surau yang secara tidak langsung melahirkan beberapa tokoh kemerdekaan asal Minangkabau a.l. Muhammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Hamka, Soetan Sjahrir, dan Usmar Osmail.

Para tokoh ini besar ditempa oleh didikan budaya Minangkabau yang percaya bahwa pendidikan dilakukan di surau. Di tempat itulah mereka belajar mengaji, berdiskusi tentang beragam hal, dan belajar silat.

Surau merupakan tempat terbentuknya pola pikir mereka.

Sayangnya budaya tersebut mulai terkikis oleh waktu. Banyak orang menganggap budaya surau tak lagi relevan dengan kehidupan yang kian modern. Film ini mencoba mengingatkan tentang budaya yan telah lama ditiggalkan tersebut dari sudit pandang anak-anak SD berusia sebelas tahun serta seorang pensiunan dosen berumur 62 tahun.

Film layar lebar berdurasi 90 menit ini merupakan garapan mahasiswa pascasarjana jurusan Penciptaan Film ISI Surakarta Arif Malinmudo. Pria asli Minangkabau ini bercita-cita untuk kembali memperkenalkan budaya surau kepada generasi muda.

"Saya berangkat dari tujuan tersebut. Saya mengajak khalayak, utamanya dari generasi muda untuk membaca kearifan di Minangkabau. Hal yang penting adalah Islam masuk ke daerah itu dengan cara Rahmatan Lil Alamin, tanpa menghilangkan budaya yang ada," tuturnya dalam jumpa pers yang digelar hari ini, Selasa (25/4).

Arif menuturkan, melalui film ini diharapkan generasi muda dapat melihat tradisi yang hampir luntur di sana. Salah satunya adalah di siang hari masyarakat bekerja, dan malam hari para lelaki seringkali tidur di surau. Aktivitas ini menjadi tradisi karena di surau terjadi interaksi antargenerasi.

"Saya ingin mengemasnya dengan cara yang lebih sederhana. Tradisi itu sudah nyaris hilang saat ini mengingat perkembangan teknologi, dan kurikulus sekolah juga sudah full day," tuturnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, film indonesia

Editor : Diena Lestari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top