Film Naura Disebut Mendiskreditkan Islam, Begini Tanggapan Aprofi

Film musikal anak Naura dan Genk Juara menjadi buah bibir tak lama setelah rilis di bioskop. Film yang dibintangi oleh artis cilik Naura ini menuao kontroversi pada tokoh antagonis yang dituduhkan oleh dokter Nina Asterly mendiskreditkan islam.
Ramdha Mawaddha | 23 November 2017 21:57 WIB
Presiden Direktur PT Suntory Garuda Beverage Indonesia, Fransiskus Johny Soegiarto (dari kanan), pemeran Naura, Naura, dan pemeran Okky, Okky Josh, berbincang di sela-sela konferensi pers film drama musikal Naura & Genk Juara di Jakarta, Selasa (14/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Film musikal anak Naura dan Genk Juara menjadi buah bibir tak lama setelah rilis di bioskop. Film yang dibintangi oleh artis cilik Naura ini menuai kontroversi pada tokoh antagonis yang dituduhkan oleh dokter Nina Asterly mendiskreditkan islam.

Kemudian terdapat petisi yang diinisiasi oleh Windi Ningsih dan sudah ditandatangani oleh hampir 50.000  orang untuk menghentikan film anak yang melecehkan agama.

Ketua Umum Asosiasi Produser Indonesia (APROFI), Fauzan Zidni mengatakan film Naura adalah film yang bagus untuk anak, mengajari mencinta alam, mencinta ilmu pengetahuan, tentang kerjasama dan persahabatan.

Fauzan menyayangkan tuduhan yang disampaikan terhadap sutradara Eugine Panji yang dianggap menistakan agama lewat filmnya.

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antar karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih,” kata Fauzan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/11/2017).

Ketua Umum Indonesia Film Director (IFDC) Lasja F. Susatyo mengatakan, film Naura adalah film yang sehat untuk tontonan anak-anak. Menurutnya, sudah lama Indonesia tidak memiliki film musikal, dan Eugine sudah membuat karya yang sangat baik. "Harus kita apresiasi," tuturnya.

Lasja juga mengimbau agar masyarakat atetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa pemarah. "Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini, tambah Lasja.

Tag : film indonesia
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top