Film Naura Menuai Protes, Begini Tanggapan LSF

Film Naura dan Genk Juara ramai diperbincangkan belakangan ini. Dalam beberapa adegan film tersebut, ada yang menilai mendiskreditkan agama Islam.
Ramdha Mawaddha | 23 November 2017 22:18 WIB
Presiden Direktur PT Suntory Garuda Beverage Indonesia, Fransiskus Johny Soegiarto (dari kanan), pemeran Naura, Naura, dan pemeran Okky, Okky Josh, berbincang di sela-sela konferensi pers film drama musikal Naura & Genk Juara di Jakarta, Selasa (14/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Film Naura dan Genk Juara ramai diperbincangkan belakangan ini. Dalam beberapa adegan film tersebut, ada yang menilai mendiskreditkan agama Islam.

Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki dalam pernyataan resminya mengatakan, film Naura adalah film musikal seperti Petualangan Sherina. Film tersebut berkisah tentang rombongan anak sekolah  yang berkegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan itu ada 3 orang penjahat yang melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi yang ternyata didalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang dan bertampilan agak kasar, sebagaimana layaknya tampilan  penjahat pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek bukan celana cingkrang.  Oleh karena itu, menurut Ahmad, adegan tersebut  jauh dari gambaran  orang yang sering dipandang sebagai radikal atau teroris, karena jenggot dan model celananya.

"Sebagai film setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa-bisa saja penjahatnya beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim penjahat non muslim," katanya dalam keterangan pers, Kamis (23/11/2017).

Selain itu, Ahmad menerangkan bahwa adegan ketika si penjahat saat tengah malam di hutan dan ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa karena dia muslim dia bacanya doa Islam. Tetapi, dalam adegan tersebut yang dibaca salah 'comot', yaitu doa mau makan. Karena itu ditegur temannya, doanya salah,  doa makan.

"Ketahuan penjahatnya muslim- ya karena dia baca doa itu, yang cenderung latah-latah juga.  Tapi tidak ada penggambaran spesifik atau kesan penegasan bahwa muslim itu jahat," jelasnya.

Ahmad menjelaskan, jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, menurutnya terlalu jauh berspekulasi.

"Kita tahu kalo penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar.  Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam," katanya.

Sebelum banyak berkomentar negatif, Ahmad menyarankan harus dulu menonton filmnyaa dan memahami adegan yang ditampilkan. Alangkah baiknya, tambahnya, bila masyarakat sebelumnya  pernah menonton film Petualangan Sherina,  Home Alone dan atau Jenderal Kancil yg diperankan Ahmad Albar di masa kecilnya dahulu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top