Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perjalanan Kesenian Sasya Tranggono

Sasya Tranggono tidak dapat menyembunyikan kecintaannya terhadap seni. Digadang-gadang sebagai penerus bisnis orang tuanya, Sasya malah tertarik bekerja dengan cat, kanvas, dan kuas. Sebutan sebagai seniman lebih nyaman di telinga Sasya dibandingkan pejabat di perusahaan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 01 Desember 2017  |  19:04 WIB
Ilustrasi-Pameran seni patung - Antara
Ilustrasi-Pameran seni patung - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sasya Tranggono tidak dapat menyembunyikan kecintaannya terhadap seni. Digadang-gadang sebagai penerus bisnis orang tuanya, Sasya malah tertarik bekerja dengan cat, kanvas, dan kuas. Sebutan sebagai seniman lebih nyaman di telinga Sasya dibandingkan pejabat di perusahaan.

Jalan hidup Sasya sesungguhnya unik. Dia adalah putri dari pasangan Suharto Tranggono dan Retno Iswari Tranggono, pendiri Ristra, produsen kosmetik terbesar di Indonesia. Kariernya seolah sudah diproyeksikan untuk mewarisi tahta bisnis keluarga.

Orang tuanya membekali Sasya dengan pendidikan terbaik. Dia disekolahkan ke Amerika Serikat untuk mengambil sarjana teknik industri di Syracuse University, New York, Amerika Serikat. Tak berhenti sampai di situ, ayahnya mengirim mengirim Sasya ke Belanda untuk melanjutkan sekolah S2 di Rotterdam School of Management di Erasmus Universiteit.

Setelah lulus dari sekolah masternya, Sasya diminta oleh orang tuanya untuk melanjutkan karier di Belanda. Tujuannya supaya Sasya mendulang pengalaman yang mumpuni sebelum balik ke Tanah Air.

Di Negeri Kincir Angin itu, Sasya sempat bekerja di berbagai perusahaan tak terkecuali perusahaan minyak Shell. Di perusahaan ini pula, Sasya menemukan calon suaminya.

Dia akhirnya menikah dengan calon suaminya tersebut. Setelah menikah, Sasya tidak melanjutkan pekerjaannya di Shell karena peraturan perusahaan berlaku demikian. Dari pernikahan itu, Sasya dikarunai seorang anak, Nicholas David Hilman.

Di tengah kekosongan ini, Sasya mengisi kegiatannya dengan mengikuti les seni rupa. Mulai dari fotografi, keramik, dan melukis. Selama mengikuti les, Sasya tidak merasa kesulitan mengikuti latihan menggambar. Semuanya mengalir dengan lancar. Sasya kemudian menyadari bahwa dirinya memiliki bakat terpendam di seni rupa.

“Memang tidak pernah disibak [bakat seni rupa] saya,” ujarnya belum lama ini.

Sejak itulah, Sasya mulai jatuh cinta dengan seni rupa. Kecintaannya itu pun berlanjut hingga dia kembali ke Jakarta. Dia terus bereksplorasi dalam membuat karya dengan mencoba berbagai medium dan teknik melukis.

Namun, pada akhirnya Sasya menjatuhkan pilihan pada medium cat air. Alasannya, warna yang dihasilkan lebih lembut dibandingkan dengan cat minyak. “Cat air itu kan transparan seolah mengesankan mahluk ciptaan Tuhan,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Sasya juga gemar memadukan berbagai warna pada karyanya. Dia mengolah warna-warna tertentu agar menciptakan karya yang memukau. Sasya mengatakan, kepiawaian meracik warna akan didapat dari pengalamannya berkeliling dunia. Dengan mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia, Sasya mengatakan, seseorang akan mendapatkan inspirasi-inspirasi warna yang beragam.

Lantaran menggunakan medium cat air, Sasya mengatakan, karya-karyanya membutuhkan perlakuan khusus. Salah satunya, tidak boleh ditaruh di ruangan lembab karena akan menurunkan kualitas gambar. Untuk menghindari hal itu, lukisannya pun harus dilapisi oleh bingkai kaca.

Dalam membuat satu karya, Sasya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk menyelesaikannya. Sasya tetap meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya mengurus sebagai komisaris di perusahaannya. Kendati badannya terasa pegal-pegal, tetapi hal itu tidak menyurutkan niat Sasya untuk berkarya.

Sejak pameran perdananya pada 1999 di Cipta Merkurius Gallery, Jakarta, hingga kini Sasya memiliki beberapa tema pada karyanya yaitu kupu-kupu, wayang, dan flora. Tiap tema-tema tersebut merepresentasikan perjalanan hidup Sasya.

Misalnya, melalui objek kupu-kupu, Sasya hendak bercerita tentang proses perjalanan hidupnya. Dari seorang wanita karier, ibu, hingga seniman. Dia berkesempulan, dirinya ibarat kupu-kupu yang bermetamofosis. “Semua pasti merasakan sebuah proses. Kalau tidak diproses ya tidak naik kelas,” tuturnya.

Berkutat di dunia seni rupa ini, Sasya turut mengharumkan nama Indonesia lewat pamerannya ke berbagai negara, seperti Belanda, Filipina, dan Singapura. Pada tahun depan, Sasya berencana menggelar pameran di Beograd, Serbia dan Budaptest, Hungaria.

Kenikmatan lain yang didapat oleh Sasya adalah ketika karya-karyanya dibeli. Dia menuturkan sejauh ini sejumlah kolektor di Indonesia telah mengoleksi karya-karyanya. “Ternyata enak jadi seniman itu,” ujarnya.

Bila berkaca ke belakang, Sasya bercerita awal menekuni kesenian orang tuanya tidak begitu mendukung. Sebab, ayah dan ibunya ingin Sasya menjadi wanita karier. Namun, usai melihat capaiannya selama ini, orang tuanya tidak lagi mempermasalahkan keputusan anaknya itu.

“Mamiku sudah mulai menghargai,” ujarnya.

Apa yang diperolehnya hingga sekarang, Sasya merasa hal itu berkat bantuan Tuhan. Sebab, Sasya tidak pernah bermimpi akan menjadi seniman. Namun, seakan Tuhan mengarahkannya untuk menjadi seniman. “Saya percaya bila manusia memuliakan Tuhan, maka hidupnya pun akan dimuliakan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

seniman
Editor : Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top