Ini Kata Maestro Fotografi Darwis Triadi Soal Maraknya Bisnis Travel Photography

-Berpelesir seolah telah berubah menjadi kebutuhan primer warga dunia. Seiring dengan itu, kebutuhan untuk mendokumentasikan kegiatan mereka selama liburan turut membuncah. Dorongan untuk pamer foto-foto atau video-video liburan di media sosial semakin tinggi.
Wike Dita Herlinda | 10 Desember 2017 18:36 WIB
Darwis Triadi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Berpelesir seolah telah berubah menjadi kebutuhan primer warga dunia. Seiring dengan itu, kebutuhan untuk mendokumentasikan kegiatan mereka selama liburan turut membuncah. Dorongan untuk ‘pamer’ foto-foto atau video-video liburan di media sosial semakin tinggi.

Tren tersebut belakangan ini mulai dipandang sebagai peluang bisnis yang prospektif oleh kalangan fotografer.  Saat ini, semakin banyak bermunculan perusahaan penyedia jasa fotografer pribadi untuk liburan.

Mereka mengakomodasi keinginan para pelancong dalam mendapatkan dokumentasi yang ‘wah’ untuk dipamerkan di media sosial seperti Instagram atau sekadar menjadi koleksi pribadi. Bahkan, bisnis fotografer personal khusus liburan juga dilirik oleh kalangan selebritas.

Misalnya saja Dian Sastrowardoyo yang mendirikan Frame A Trip, yang khusus menjembatani para pelancong di berbagai destinasi dengan fotografer lokal yang bisa disewa sebagai juru dokumentasi pribadi.

Selain Frame A Trip, bisnis serupa semakin menjamur di Indonesia. Misalnya saja, Bali Photograf, Flashcation, Shoot My Travel, Pix Around, dan masih banyak lagi. Mereka menyediakan fotografer pribadi khusus liburan tidak hanya di wilayah Indonesia, tetapi hingga ke luar negeri.

Seiring dengan semakin tingginya kebutuhan pengguna media sosial untuk pamer foto liburan di akun mereka, bisnis travel photography pun kian menjamur di berbagai kota di Indonesia. Mereka berlomba-lomba menawarkan jasa fotografer pribadi untuk mendokumentasikan liburan kliennya.

Namun, bagaimanakah tren bisnis ini dari sudut pandang praktisi dan maestro fotografi senior, Darwis Triadi? Apakah tren ini justru ‘mencemari’esensi dari seni fotografi atau justru merupakan suatu bentuk kemajuan? Berikut penuturannya:

Apa yang memicu tren bisnis fotografer personal untuk liburan?

Indikator tren bisnis ini sebenarnya sudah terlihat pada saat media sosial berubah menjadi sebuah kebutuhan. Saat itulah muncul keinginan orang untuk eksis, dan menurut saya itu wajar-wajar saja.

Memang, seiring dengan itu, pada akhirnya perkembangan fotografi saat ini menjadi luar biasa pesat, dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Orang yang tidak bisa motret saja, asal jepret bisa jadi. Apalagi, fasilitas gawai dan aplikasi untuk editing yang bisa bikin wajah ‘cantik’ sudah semakin banyak.

Cuma, saya melihat muncul sebuah permasalahan dimana sekarang ini esensi dari fotografi secara riil sebetulnya sudah mulai hilang. Sebab, fotografi itu sendiri sudah dibuat sekadar ‘yang penting visualnya bagus’ saja.

Bagaimanapun, kalau dilihat dari sisi bisnis, tren ini bagus-bagus saja karena orang-orang yang tidak punya pekerjaan, hanya bermodalkan kamera, belajar Photoshop dan editing sudah bisa melayani klien untuk menjadi fotografer personal saat liburan. Dia bisa mendapat pemasukan.

Namun, kalau kita bicara dalam konteks fotografi secara holistik, sekarang ini sudah terbagi menjadi beberapa segmen. Pertama, segmen yang betul-betul fotografi dan dijalani sebagai konsekuensi dari belajar fotografi secara tepat. Misalnya fotografi komersial dan fine art.

Kedua, segmen fotografi kekinian seperti travel photography, private photoshoot, dan sebagainya. Itu sebetulnya tren yang bagus, tapi kalau dilihat dari sisi esensial fotografinya sendiri, tidak banyak yang melakukannya secara tepat.

Menurut saya, meskipun tren terus berubah, esensi dari fotografi itu harus tetap dijaga. Karena kalau tidak, akhirnya profesi fotografer itu sendiri tidak ada harganya lagi. Dan inilah permasalahan yang sudah terjadi, bukan hanya di Indonesia.

Dari segi teknik, apa saja yang harus dikuasai oleh seorang fotografer travel?

Tergantung, karena kalau kita bicara travel photography yang benar adalah memotret kondisi lokasi. Misalnya, dia traveling ke Eropa lalu memotret landscape kotanya atau detail-detail yang menarik.

Kalau dari segi teknik, sebetulnya selama masih ada cahaya tidak ada masalah. Karena kalau memotret di luar ruangan itu kan butuh cahaya matahari. Tidak ada teknik khusus, yang penting tidak goyang, gelap, atau terlalu terang.

Kameranya kan bisa di-setting auto untuk menangkap gambar. Namun, terkadang fotografer yang tidak paham pun, meskipun sudah di-setting auto kalau setting kompensasi atau sistem metering-nya salah juga tidak bisa menghasilkan gambar yang bagus. Pastikan semuanya serba netral.

Namun, kembali lagi, saat ini banyak ‘fotografer’ yang tidak perlu belajar motret, tetapi mengandalkan teknologi. Padahal, fotografi itu bukan soal teknologinya tetapi esensinya. Foto itu berarti belajar cahaya. Jadi kita memahami dan merasakan cahayanya. Itu akan lebih nikmat.

Apa tantangan dari tren ini?

Perkembangan fotografi kekinian dengan aktivitas di media sosial sebetulanya sudah campur aduk sampai akhirnya kita tidak tahu lagi apa itu fotografi dan berpikir semua orang bisa memotret. Namun, kalau kita sadar, memotret yang benar adalah memberikan energi terhadap gambar itu.

Dengan maraknya foto-foto bagus di media sosial, coba kita masuk ke museum dan lihat foto-foto zaman dulu. Misalnya, foto penaikan bendera, atau foto saat Fatmawati menjahit bendera. Namun, kenapa kita bisa tersentuh dengan foto-foto itu padahal itu adalah gambar kuno yang diambil dengan kamera analog?

Jawabannya adalah karena ada energi yang disampaikan melalui gambar itu. Sekarang ini, jika fotografi ‘kekinian’ sudah mengabaikan esensi dari fotografi untuk memberikan energi ke dalam gambar dan hanya mengandalkan teknologi, lama kelamaan seni fotografi bisa punah.

Apa ada manfaatnya bagi karier fotografer?

Kalau kita bicara dari segi bisnis, pasti ada manfaatnya karena ada pemasukan untuk si fotografer. Namun, kalau dilihat dari segi karier dan passion, itu hal yang berbeda.

Kalau dia memang menjadi fotografer untuk mendapatkan pemasukan semata, pada waktu tertentu dia akan bosan dan berhenti atau pensiun dari pekerjaannya. Namun, kalau dia melakukannya dengan spirit, mau sampai kapanpun dia akan terus memotret.

Seperti saya, sudah lebih dari 42 tahun tetap menggeluti fotografi. Apapun kondisinya, apapun permasalahan ekonominya, fotografi itu bagi saya adalah sebuah spirit. Saya tidak bekerja pun akan tetap menggeluti fotografi.

Tag : fotografi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top