Anak Takut Jadi Tua? Begini Cara Mengatasinya

Membiasakan anak-anak berinteraksi dengan kakek dan neneknya membuat mereka memahami masa tua dengan lebih baik.
Nindya Aldila | 27 Januari 2018 08:59 WIB
/Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Bagi banyak anak, menjadi dewasa ternyata cukup menakutkan, apalagi menjadi tua. Tapi ada caranya agar mereka bisa memahami masa tua dengan lebih baik.

Membiasakan anak-anak berinteraksi dengan kakek dan neneknya membuat mereka memahami masa tua dengan lebih baik.

Berdasarkan suatu penelitian di Belgia, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu bersama kakek atau neneknya tidak akan terjebak dengan stereotip negatif tentang lansia yang serba memiliki keterbatasan.

Penelitian yang dilakukan pada 1.151 anak berumur 7 – 16 tahun berupaya menggali opini anak-anak tentang lansia.

Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu setidaknya selama sepekan bersama kakek dan neneknya merasa hubungan dan interaksi di antara mereka sangat menyenangkan.

Ketua penelitian University of Liege, Allison Flamion mengatakan kebanyakan penelitian sebelumnya hanya melibatkan partisipan dari mahasiswa, bukan anak-anak.

Dengan begitu, tidak ada yang menunjukkan dampak interaksi tersebut terhadap perilaku anak yang lebih baik.

“Anak-anak yang menjadi sampel kami mampu mendeskripsikan hubungan dengan kakek-nenek mereka dengan sangat terbuka seakan-akan mereka merasakannya,” katanya seperti dikutip dari Reuters.

Dia mengaku terkejut dengan hasil yang menunjukkan bahwa persepsi anak-anak tentang lansia memiliki bertentangan dengan streotipe negatif.

Dari sekian banyak pertanyaan, anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini menggambarkan pandangan yang posiitif dan netral terhadap kakek atau nenek mereka.

Anak perempuan cenderung memiliki pandangan yang lebih positif ketimbang anak laki-laki. Anak perempuan juga cenderung beranggapan bahwa masa menuju dewasa adalah hal yang menyenangkan.

Stereotipe tentang orang tua tampaknya juga berubah dalam beberapa poin pada anak-anak.

Tak kalah penting, dalam data penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa partisipan anak yang paling muda, yakni 7 – 9 tahun mengungkapkan prasangka, sedangkan anak berumur 10 – 12 tahun merupakan anak yang paling bisa menerima dan toleran.

Adapun anak remaja jauh lebih berprasangka terhadap masa tua, berbeda dengan anak pra remaja.

Artinya, membangun kualitas hubungan yang baik dengan kakek dan nenek paling berpengaruh pada usia 10 – 12 tahun. Sikap yang positif akan membangun hubungan yang berkualitas dengan kakek dan nenek.
 

Pandangan Kesehatan

Flamion mencatat bahwa kesehatan orang tua berdampak pada pandangan mereka terhadap masa tua.

Buktinya, anak yang memiliki kakek atau nenek yang kesehatannya buruk akan memiliki stereotipe negatif terkait dengan orang lansia ketimbang anak-anak yang memiliki kakek-nenek yang kondisi kesehatannya baik.

Penelitian ini berupaya menyajikan bukti bahwa frekuensi dan kualitas hubungan dengan kakek atau nenek menjadi sangat penting dalam membentuk pandangan anak terkait masa tua.

Peneliti psikologi University of Kent, Inggris, Dominic Abrams mengatakan bahwa hubungan antara kakek nenek dan cucu memberikan dampak positif bagi keduanya.

Dari hubungan positif yang kuat, anak-anak cenderung mempelajari hal-hal tentang orang tua yang mungkin belum mereka ketahui seperti kekuatan, kemampuan, dan banyaknya pengalaman yang dimiliki orang tua.

Mereka mungkin bertemu dengan orang tua lainnya sehingga memberi kesadaran yang lebih besar tentang orang tua lain pada umumnya. Jadi, ini membuat masa tua tidak aneh dan menakutkan.

Tag : keluarga
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top