Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Pasar Modal: Kaum Millenial Lebih Berani, Tapi Kurang Perhitungan

Generasi millenial dianggap berani dalam mengambil risiko ketika berinvestasi di pasar modal. Tetapi tak jarang kurang perhitungan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 29 Januari 2018  |  16:07 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat layar papan elektronik yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Dedi Gunawan
Pengunjung beraktivitas di dekat layar papan elektronik yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA–Generasi millenial dianggap berani dalam mengambil risiko ketika berinvestasi di pasar modal. Tetapi tak jarang kurang perhitungan.

“Bicara generasi millenial memang paling berani ambil risiko. Cuma sayangnya mereka tidak dibekali dengan edukasi yang baik tentang pasar modal,” kata Jason Gozali Chief Executive Officer (CEO) Investor Muda kepada Bisnis, Senin (29/1/2018).

Dia menjelaskan, keberanian millenial dalam mengambil risiko investasi karena mereka cenderung belum memiliki tanggungan besar. Lain halnya dengan orang-orang yang lebih tua. Mereka akan berhati-hati karena mempunyai tanggungan keluarga dan lainnya.

Oleh sebab itu, millenial perlu diedukasi tentang pasar modal supaya bisa memahami manajemen risiko. Dengan begitu, ketika mereka berinvestasi tidak sekadar ikut-ikutan melainkan atas dasar pengamatan yang diperoleh dari pembelajaran tersebut.

Meskipun begitu, Jason menyarankan kepada millenial agar jangan terlalu banyak teori. Tetapi langsung terjun ke pasar modal sambil belajar. Lewat cara itu, biasanya pasar modal dapat dipelajari dengan mudah daripada Cuma teori.

“Jangan takut ambil risiko dan jangan malas belajar. Sekarang sudah banyak fasilitas untuk belajar saham. Bursa Efek Indonesia pun memiliki sekolah investasi sehingga bisa dimanfaatkan. Tidak ada alasan untuk susah belajar saham,” tuturnya.

Secara umum, Jason berpendapat literasi keuangan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain masih jauh. Misalnya, di Singapura dari total populasi masyarakatnya sebanyak 30% sudah memiliki investasi di pasar modal. Kemudian di Hongkong, sekitar 30% masyarakatnya sudah memiliki investasi. Di Indonesia, hanya 1% yang berinvestasi.

“Memang literasi keuangan di Indonesia masih minim. Orang masih salah kaprah tentang investasi. Mereka menyamakannya dengan forex. Padahal berbeda.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

generasi milenial
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top