Black Panther : Ini Komentar Kritikus Film Indonesia

Film Black Panther yang baru saja dirilis di seluruh dunia pada pekan lalu berhasil menuai pujian dari kalangan kritikus dan pencinta film di seluruh dunia. Tak terkecuali para kritikus film di Indonesia.
Ilman A. Sudarwan | 19 Februari 2018 00:13 WIB
Film 'Black Panther' - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Film Black Panther yang baru saja dirilis di seluruh dunia pada pekan lalu berhasil menuai pujian dari kalangan kritikus dan pencinta film di seluruh dunia. Tak terkecuali para kritikus film di Indonesia.

Kritikus film Indonesia Yan Wijaya mengapresiasi langkah tim produksi film ini yang berani memebuat film pahlawan super kulit hitam pertama di Amerika Serikat.

Namun, menurutnya, film ini bukanlah pencetus gerakan kesetaraan ras di Amerika. Film ini adalah bagian dari perjuangan panjang masyarakat kulit hitam di Negeri Paman Sam untuk mencapai kesetaraan.

“Film ini adalah bagian dari pergerakan yang sedang terjadi dalam beberapa tahun ke belakang. Sebenarnya puncaknya sudah terjadi saat mereka memiliki presiden kulit hitam pertama, yakni Barack Obama pada 2008. Jadi, film ini didahului peristiwa-peristiwa lain terlebih dahulu,” jelasnya.

Senada, pengamat film Hikmat Darmawan menilai muatan politis dalam film ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Pada era 1960-an pun, film sudah digunakan untuk menyuarakan kesetaraan ras di Amerika serikat.

"Film To Kill a Mockingbird [1962] adalah salah satunya. Dan tren ini terus berlanjut dan tidak sepenuhnya hilang, sampai era 90-an, bahkan 2000-an pun topik politis tentang kesetaraan ras tak pernah sepenuhnya hilang," jelasnya.

Muatan politis dalam film ini menjadi topik hangat kembali karena memang situasi politik di Amerika Serikat tengah dirundung isu-isu rasisme. Sebagaimana diketahui, kondisi ini dipicu oleh presiden Donald Trump yang sering mengungkapkan komentar kontroversial terkait rasisme sejak terpilih pada 2016.

Di luar muatan politisnya, Yan berpendapat dari segi teknis dan kualitasnya, film ini juga tidak terlalu mengesankan. Dari skala 4-10, dia memberi nilai 7. Alasannya, alur ceritanya masih sangat sederhana meskipun kuat secara muatan politisnya.

“Film ini sebenarnya hanya soal perebutan takhta saja. Tidak ada yang benar-benar spesial, hanya permainan CGI [Computer Generated Imagery] juga. Film ini, menurut saya, hanya berusaha mencuri hati masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat saja,” katanya.

Tag : film hollywood
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top