Ease of Doing Business

Keluhan kenapa banyak investor masih ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia, konon menjadi topik yang terus saja berlangsung. Kesulitan atau hambatan dalam tetek-bengek perizinan atau pengurusan administrasi dengan pihak pemerintah disebut sebagai penghalang utama.
Pongki Pamungkas Penulis The Answer Is Love, All You Need Is Love, dan To Love and To Be Loved | 18 Maret 2018 18:47 WIB
Pongki Pamungkas - Jibi

“Kehidupan dalam kemudahan adalah suatu pencarian yang sulit”.

Keluhan kenapa banyak investor masih ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia, konon menjadi topik yang terus saja berlangsung. Kesulitan atau hambatan dalam tetek-bengek perizinan atau pengurusan administrasi dengan pihak pemerintah disebut sebagai penghalang utama.

Keluhan itu tak mengherankan. Kalau kita jujur mengakui, berurusan dengan birokrasi negara kita ini adalah aktivitas yang seringkali melelahkan dan menjengkelkan. Seorang kawan saya yang akan mengurus IMB alias izin mendirikan bangunan, menceritakan kisahnya dengan sumpah serapah. Belasan bahkan puluhan halaman berkas yang nampak sudah siap dipakai sebagai prasyarat IMB, setelah berbulan-bulan diurus, setelah di ping-pong sana-sini, ternyata masih harus ditunda.

Ada satu cap atau stempel dari satu instansi yang tertinggal. Tanpa cap itu, proses dibilang cacat. Artinya IMB tak akan mungkin diterbitkan.

“Kenapa dipermudah kalau bisa dipersulit? Kenapa dipercepat kalau bisa diperlambat?” Pemeo yang teramat populer ini adalah suatu penggambaran pola pikir para birokrat yang telah mendarah daging. Pola pikir ini berujung kepada motif dasar mereka, yaitu untuk mendapatkan uang pelicin, uang sogokan. Suatu motif jahat, menyusahkan orang lain dan menistakan diri sendiri. Mau cepat? Bayar. Mau mudah? Setor.

Saya tak berniat mengajak Anda berbincang soal “kemudahan berbisnis” semata-mata. Saya  ingin menelaah soal “kemudahan dan kesulitan” yang kita harus jalani dalam mengarungi kehidupan ini.

Secara hakiki, memandang dan menilai suatu hal sebagai hal yang sulit atau mudah adalah sangat subjektif dan relatif.  Bagi beberapa pelajar tertentu, pelajaran matematika adalah suatu ilmu yang mudah. Menyenangkan malah. Bahkan merupakan suatu permainan yang mengasyikkan. Mereka seakan diajak untuk berkelana dalam pencarian sesuatu yang sangat memikat dan menggairahkan.

Sebaliknya, bagi banyak pelajar lain, matematika adalah ilmu yang teramat sulit, yang membuat susah bahkan menjadi momok yang menakutkan. Kalau sudah waktunya sampai, menjelang pelajaran ini, perut menjadi mulas. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Bagi orang tertentu, kemampuan literasi, membuat karya tulis, adalah hal yang sangat sulit. Memulai penulisan kalimat, menguraikan suatu cerita dengan runut dan sederhana adalah hal yang tak mudah. Hari ini sangat mudah untuk melihat siapa yang tak memiliki keterampilan ini, melalui komunikasi tertulis di gadget. Adapun, bagi banyak orang lain menulis adalah suatu hal yang nyaman, mudah, dan sangat menarik. Menciptakan plot atau esensi tulisan lalu menuliskannya dalam kalimat yang nyaman, mengalir saja dengan deras, enak dibaca, dan mudah dipahami oleh pembacanya.

Subjektif dan Relatif

Namun, terlepas dari soal subjektivitas penilaian mudah atau sulit itu, saya selalu teringat kepada suatu kutipan dari Harry S. Truman, Presiden AS, “Janganlah berdoa untuk meraih kehidupan yang mudah. Berdoalah untuk menjadi orang yang kuat dan makin kuat”. Nasihat ini benar-benar tertanam kuat dalam benak saya.

Demikianlah memang hukum alamnya. Hidup dalam dunia nan fana ini bukanlah suatu perjalanan yang mudah.  Kalau dirunut, proses demi proses kehidupan ini pada dasarnya semuanya memiliki kesulitan yang tinggi rendahnya berbeda-beda. Sejak proses kehamilan, tak mudah bagi sang ibu untuk menggendong  si jabang bayi dalam kandungan. Harus melalui masa 9 bulan yang acapkali harus dijalani dengan penuh derita. Sakit di sekujur badan.

Begitu lahir, untuk bisa berjalan, bayi harus jatuh bangun, berulangkali untuk akhirnya mampu tegak berdiri dan berjalan hingga berlari. Proses yang tak mudah.

Begitu menginjak usia sekolah, setiap anak harus bersusah payah belajar. Menghadapi ujian demi ujian. Hingga pada ujung kedewasaannya, harus berjuang mencari nafkah. Proses yang sama, tak mudah.

Demikian seterusnya, proses menikah, memiliki, dan memelihara anak dan seterusnya.

Berikut ini beberapa kutipan saya tulis, senada dengan kutipan dari Harry S. Truman di atas. “Tak ada yang namanya kemudahan dan kenyamanan semata dalam kehidupan. Yang ada adalah keberanian dan keteguhan,” kata Winston Churchill, PM Inggris yang sukses mempertahankan Eropa dari invasi Nazi Jerman.

“Tak pernah ada dalam sejarah, seorang manusia yang mengarungi hidup dalam kemudahan, tercatat sebagai seorang yang layak dikenang,” kata Theodore Roosevelt, Presiden AS ke-6 (1901-1909).

Bila kita balik ke soal ease of doing business yang dituntut oleh para investor itu wajar saja. Siapa pun orangnya, di mana pun berada dan kapan pun saatnya, orang ingin menikmati kemudahan, jauh dari segala kesulitan.

Di sisi lain, hal yang lumrah pula bahwa kesulitan dan kerumitan akan dihadapi oleh para investor, dalam berbisnis, di luar soal yang berkaitan dengan birokrasi. Entah itu menyangkut masalah permodalan, tenaga kerja, pemasaran, dan proses produksi.

Artinya, dalam kasus “ease of doing business” itu, hampir semua hal, semua aspeknya adalah soal-soal yang wajar. Karena sekali lagi, kita sadari, hidup memang tak mudah. Kita hanya perlu menyikapinya secara positif, sebagaimana petuah ini, “Kesulitan yang mengadang hidup bukanlah dimaksudkan untuk menghancurkan Anda, melainkan menunjukkan apa-apa yang telah Anda lakukan, dan betapa kuat diri Anda.”

Kesulitan hidup adalah pembelajaran yang diharapkan akan membuat orang semakin kuat, semakin pandai sehingga pada ujungnya, kesulitan hidup adalah santapan sehari-hari yang tak perlu dikeluhkan lagi.

Dalam kalimat di atas saya tuliskan “hampir semua hal, semua aspeknya adalah soal-soal yang wajar”  karena memang ada hal yang amat tak wajar dalam kasus ini. Ketidakwajaran itu adalah kerakusan para birokrat yang tak tahu malu, membangun situasi sehingga uang pelicin harus disertakan. Tak tahu malu adalah idiom dalam hubungan horizontal, hubungan antar sesama manusia.

Di luar itu, yang paling menyesakkan adalah, mereka disumpah dengan nama Sang Khalik, Tuhan Pencipta Semesta Alam tetapi dengan nyaman saja mereka terus melanggar sumpah sakral itu.

Kesulitan yang diniatkan dan dilakukan oleh para penjahat inilah, yang pasti akan membuahkan rupa-rupa kerusakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, harus diperangi secara tegas dan tuntas.

 

Tag : investasi
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top