Human 4.0

Bang, kenapa harus 4.0? Pertanyaan jujur ketika melihat topik yang saya diskusikan di sebuah institusi pendidikan. Pertanyaan sederhana di tengah banyaknya gembar-gembor hadirnya revolusi industri ke-4 yang dimotori perkembangan teknologi digital.
Hendro Fujiono, Director FujiShepherd & Associate Australia | 26 Maret 2018 16:04 WIB
Ilustrasi pembayaran mobile menggunakan ponsel pintar - flickr

“Bang, kenapa harus 4.0?” Pertanyaan jujur ketika melihat topik yang saya diskusikan di sebuah institusi pendidikan. Pertanyaan sederhana di tengah banyaknya gembar-gembor hadirnya revolusi industri ke-4 yang dimotori perkembangan teknologi digital.

Pertanyaan ini datangnya dari seorang anak muda yang berpendidikan tinggi dan hidup di kota metropolitan. Di kota besar lainnya ketika saya berbicara mengenai daya saing di era digital, seorang generasi milenial secara jujur mengakui bahwa dirinya kaget dan baru sadar bahwa dirinya harus siap berkompetisi di era “Game of Speed”.

Dua contoh di atas hanya sebagian kecil hal yang harus membuat kita waspada. Bonus demografi yang banyak digembar-gemborkan sebagai salah satu penunjang untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia bukanlah sesuatu yang akan hadir dengan cuma-cuma. Tentu saja kita harapkan kesibukan yang terlihat untuk bersaing di era 4.0 tidak terbatas di tingkat dewa, apalagi hanya menghasilkan bahasa dewa.

Ada puluhan juta anak bangsa yang akan menjadi angkatan kerja beberapa tahun ke depan. Daya saing anak bangsa ini akan menentukan posisi mereka di era 4.0 ini. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita menjadi bagian dari “cheap labour” sebagai identitas daya tarik investasi.

Kita tentu tidak ingin anak bangsa dianggap hanya memiliki “if-then” ways of working. Cara kerja yang hanya menjalankan dan menunggu instruksi. Bangsa kita terlalu besar untuk hanya menjadi “operator”. We need more independent thinker!

The Basics

Tentu saja akselerasi daya saing membutuhkan fondasi yang kuat. Salah satu nasihat penting yang saya terima ketika melakukan studi doktoral adalah “you need to write and speak. If you don’t do that, people will think you know nothing”. Seiring berjalannya waktu, saya juga menemukan bahwa “people who don’t read will speak and write about nonsense”. Read, speak, and write is must.

Tentu saja di era digital ini “read” bisa hadir dalam berbagai format bahkan ada dalam bentuk yang bisa didengar seperti podcast, audible books, dan lainnya. Hambatan untuk “membaca” dan belajar juga semakin rendah mengingat banyaknya konten yang bisa diakses dengan cuma-cuma. Ketika banyak generasi muda yang kaya kuota tetapi masih jarang “membaca” komentar saya hanya “Alesan lu apa?”

Read, speak, and write ini lalu harus direfleksikan ke dalam cara kerja “Why, what, then how”. Ini penting untuk memastikan kita tidak menjadi bangsa yang bergantung pada instruksi

Banyak sahabat tertawa geli ketika saya ceritakan bahwa untuk membuat rekening bank saya harus mengisi form yang menanyakan hobi saya, mengharuskan saya memiliki nomor telepon seluler, dan banyak lagi isian yang saya yakin lebih relevan untuk kepentingan bank dibandingkan dengan kepentingan saya sebagai calon nasabah.

Yang ironis adalah jawaban zaman old yang keluar dari mulut anak muda zaman now ketika ditanyakan alasannya “ya dari sananya begitu pak”.

The Key

Kemampuan berkreasi dan berinovasi dengan cepat adalah inti daya saing di era 4.0. Era di mana supply chain di-optimasi, data diliberasi, dan middleman dikebiri.

The Unknown

Dalam proses inovasi, unknown adalah sesuatu yang akan selalu ditemui. Me-respons unknown dimulai dengan curiosity. Mempertanyakan fenomena yang tidak diketahui alasannya atau mempertanyakan apakah ada solusi yang bisa jadi lebih baik.

Selanjutnya diperlukan keberanian dan kemampuan mengeksplorasi unknown. Banyak yang tidak nyaman menyadari bahwa banyak proses inovasi adalah soal eksplorasi sebelum sampai kepada tahap produksi.

Failures

Setiap institusi pendidikan yang saya kunjungi selalu cepat merespons dengan “iya” ketika ditanyakan apakah mereka mempersiapkan para siswa untuk sukses. Akan tetapi, semua terdiam ketika ditanyakan apakah mereka membekali para siswa untuk menghadapi kegagalan.

Ini harus menjadi refleksi karena kegagalan dan kesalahan adalah bagian penting dari proses inovasi.

Tidak mengherankan ada banyak proses inovasi berhenti karena kurangnya determinasi merespons kegagalan. Bahkan ada banyak inovasi yang mandeg karena kurangnya leadership maturity untuk menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari inovasi. Seni untuk gagal dengan murah dan cepat masih menjadi mimpi.

Unlearn

Di era 4.0, kita menginginkan anak bangsa yang berani dan mampu mendobrak conventional wisdom. “Dari sananya begitu” adalah indikasi menjadikan status quo harga mati sehingga curiosity mati suri.

Unlearn capability adalah kemampuan dan mental model untuk terbuka mendengar, memilih, dan mengadopsi cara kerja/logika yang baru. Ini bukan berarti cara lama “salah” dan harus dilupakan. Ini soal relevansi dengan situasi terkini. Ini sangat tidak mudah terutama bagi kalangan profesional dan “pakar”.

Tidak akan ada manfaat bonus demografi dari para penunggu instruksi yang kuotanya habis hanya untuk insta story. Indonesia 4.0 adalah generasi pendobrak tradisi kebiasaan masa lalu.

Tag : gadget
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top