Berharap'Slow Fashion' Jadi Primadona

Tahun belakangan, tren fesyen di Indonesia di nilai lebih mengikuti kemauan pasar, atau cenderung memilih untuk menggubakan pakaian yang serba cepat atau yang disebut "fast fashion".
Asteria Desi Kartika Sari | 29 Maret 2018 20:28 WIB
Fesyen - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Tahun belakangan, tren fesyen di Indonesia di nilai lebih mengikuti kemauan pasar, atau cenderung memilih untuk menggubakan pakaian yang serba cepat atau yang disebut "fast fashion".

Desainer Merdi Sihombing mengatakan, tren fesyen yang dikerjakan dengan garmen memuliki tuntutan yang cepat, tetapi  tidak memikirkan sisi kemanusiaan.

Pasalnya, menurutnya banyak pekerja garmen yang yang dipekerjakan tidak manusiawi, termasuk pekerja yang di bawah umur. Oleh karena itu, sejumlah pihak perlu memikirkan "slow fashion".

"Slow fashion adalah fesyen yang proses pembuatannya memiliki kemahiran tertentu. Misalnya kain tenun," jelas Merdi ditemui di Jakarta Covention Center (28/3/2018).

Apalagi menurutnya, slow fashion atau justru menjadi primadona di tren fesyem global. Slow fashion juga lebih memerhatikan lingkungan sekitar yang terdampak.

"Slow fashion yang pekerjaannya lama, craftmanship. Tenun, sulam. Bukan hanya pakai warna alam, kimia juga tapi lebih dipikirkan. Jadi satu produk pengerjaannya lama," tuturnya.

Menurutnya, mode slow fashion membutuhkan kerja tim yang harus kuat dari sisi fondasi hingga sumber daya manuasia. Menurutnya, masih banyak yang belum baham terkait slow fashion dan menggarap kain daerah menjadi produk yang sesuai perkembangan zaman.

Oleh karena itu, pihaknya berharap ada peran pemerintah untuk mengangkat fesyen berbasis budaya tersebut.

Menurutnya, hal itu harus segera diwujudkan oleh Indonesia karena saat ini sudah tertinggal dari negara-negara lain. "Cepat atau lambat harus melakukan itu. Kita tertinggal sudah sangat jauh sekali," tambahnya.

Tag : fesyen
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top