Jadi Penyakit Paling Berbahaya, Kesadaran Risiko Stroke di Indonesia Masih Minim

Sudah Jadi Penyakit Paling Bahaya, Kesadaran Risiko Stroke di Indonesia masih Begini
Yoseph Pencawan | 13 April 2018 13:36 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Saat ini stroke sudah menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia yang mana berdasarkan hasil survei pada 2014, stroke pernah menjadi penyakit nomor 1 paling berbahaya yang bisa dialami baik pria maupun wanita.

Kasus stroke juga semakin meningkat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dibuat setiap lima sampai enam tahun sekali, pada 2013 prevalensi stroke di Indonesia sebanyak 12,1 per 1.000 penduduk. Sudah jauh lebih tinggi dari 2007 yang hanya 8,3 per 1.000.

Apa yang menjadi persoalan tersulit? Ketua Kelompok Studi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Salim Harris menilai tantangan terbesar upaya menekan penyakit stroke di negara ini adalah tingkat kesadaran.

"Yang paling susah tantangan (menekan stroke) di Indonesia yaitu kesadaran. Kita udah bilang berkali-kali, jangan merokok, jangan merokok, tetapi merokok terus," ujarnya, belum lama ini.

Malah dia ingin, jika bisa, mereka yang memiliki kebiasaan merokok dan kemudian terkena stroke tidak usah diobati dengan BPJS Kesehatan karena rokok merupakan faktor risiko terjadinya stroke.

Adapun faktor risiko lain pengundang datangnya stroke adalah hipertensi dan gaya hidup, terutama tidak berolahraga.

Menurut dia, buruknya kesadaran menghindari risiko stroke di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, relatif sama. Namun kondisi itu berbeda jauh dengan di Eropa dan Amerika Serikat.

"Kalau di AS atau Eropa, kesadarannya berbeda sekali, sudah jauh lebih bagus. Kesadaran pergi ke rumah sakit juga lebih bagus. Bukan karena medisnya lebih canggih."

Dia tidak sepakat bila ada yang berpandangan bahwa teknologi dan pengetahuan medis di Indonesia kalah dari negara lain di Asia, termasuk Singapura. Dia menjamin kualitas teknologi dan ilmu medis Indonesia tidak kalah dari Singapura, khususnya dalam penanganan penyakit stroke.

Suatu ketika, dia mengikuti pertemuan dokter di Vietnam dan ketika itu dokter dari Singpura merasa kaget sat mengetahui bahwa Indonesia berkemampuan melakukan tindakan door-to-needle (penanganan pasien stroke sejak masuk rumah sakit sampai mendapat tindakan khusus) tidak lebih dari 60 menit.

"Mereka (Singapura) belum bisa. Namun memang seperti di Eropa Timur, seperti di Praha, di sana mereka bisa door-to-needle itu 8 menit. Kenapa? karena mereka populasinya sedikit sehingga semua data kesehatan mereka sudah terekam, computerized. Mereka juga punya ambulans yang di dalamnya sudah ada ct-scan. Jadi begitu pasien masuk ke rumah sakit, ct-scan nya udah kelar."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
stroke

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top