IF I MOUV’: Kolaborasi Seni Urban Indonesia-Prancis

Institut Prancis di Indonesia (IFI) menggelar acara IF I MOUV yang mempertemukan seniman urban Prancis dan Indonesia antara lain French Wingz (tari hip hop), Ladies on Wall, Gardu House dan Studio Asylum (street art) serta pemutaran film dan musik bertema seni urban pada Jumat 27 April di IFI Thamrin Jakarta.
Mia Chitra Dinisari | 29 April 2018 08:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Institut Prancis di Indonesia (IFI) menggelar acara IF I MOUV’ yang mempertemukan seniman urban Prancis dan Indonesia antara lain French Wingz (tari hip hop), Ladies on Wall, Gardu House dan Studio Asylum (street art) serta pemutaran film dan musik bertema seni urban.

Selain di Jakarta, grup tari hip hop asal Prancis French Wingz juga melakukan tur pementasan di Medan (21 April), Yogyakarta (29 April), Surabaya (2 Mei) dan Bali (3 Mei).

Pada acara IF I MOUV’ yang diadakan sehari penuh di IFI Thamrin, kolektif mural Ladies on Wall, Studio Asylum dan Gardu House akan melukis dinding IFI dengan gaya mereka yang funky.

Ladies on Wall yang terdiri dari para perempuan muda usia 17-30 tahun pada awalnya bukanlah komunitas melainkan sebuah event yang mempertemukan para graffiti writers perempuan Indonesia sejak tahun 2014. Jumlah partisipannya semakin bertambah dan kini terdiri dari bomber perempuan yang berasal dari berbagai kota antara lain; Jakarta, Bogor, Bandung, Karawang, Palembang, Yogyakarta, Bali, Kalimantan dan Semarang.

“Acara tahunan kami Ladies on Wall telah terlaksana sejak tahun 2014 dan kini kami tengah menyiapkan Ladies on Wall 2018. Uniknya, setiap tahun Ladies on Wall diadakan di kota yang berbeda, tergantung kesiapan anggota Ladies on Wall di masing-masing kota.” Salah satu pendiri Ladies on Wall, Bunga Fatia mengatakan dalam siaran persnya.

Mengenai tantangan menjadi bomber perempuan di Indonesia, Bunga Fatia yang sejak remaja hobi menggambar dan sejak 2010 mulai menggambar di tembok kotor pinggir jalan tersebut menjawab, di Indonesia, lebih dari 60 perempuan menggambar di pinggir jalan di berbagai tempat dengan aman, bahkan sebagian dari kami dibayar untuk itu. Kondisinya tentu berbeda dengan di Afghanistan, misalnya, di mana bomber perempuan ditangkap ketika sedang menggambar di pinggir jalan. Di Indonesia, kami merasakan kebebasan untuk berkarya.

Berbeda dengan Ladies on Wall yang lahir di jalan, Safrie Effendi alias “Saf” mendirikan Studio Asylum sebagai sebuah kantor manajemen dan konsultasi seni sekaligus sanggar seni dan terapi.

Dalam karya-karyanya Saf memadukan unsur-unsur Timur dan Barat dengan gaya melukis yang terinspirasi dari beragam seniman seperti William Blake, Alex Grey, Alfred Kubin, Zdislaw Beksinki, Mumford, Zack Spurlock, Carlos Torres, Edgar Allen Poe dan Francisco Goya.

Setelah menempuh pendidikan di Amerika Serikat yaitu di Lasalle College of the Arts 2008-2011 (Fine Arts) dan Savannah College of Art and Design 2002-2005 (Broadcast Design & Motion Graphic), Saf kembali ke tanah air pada 2014 dan justru menerima beragam permintaan kerjasama di bidang seni mural. Menjawab tantangan tersebut ia belajar menggunakan spray print dalam seni graffiti. Seniman yang mengidolakan bomber Banksy tersebut biasanya menyisipkan pesan-pesan kemanusiaan, kritik sosial dan banyak eksplorasi hubungan manusia dengan tuhan.

 “Studio Asylum bagi saya adalah sebuah perjalanan panjang imajinasi di antara kesadaran dan ketidaksadaran.” Saf tidak ragu memadukan unsur klasik dengan kontemporer menciptakan lukisan-lukisan surealis yang mengundang imajinasi tanpa batas" ujar Syaf.

Kelompok tari French Wingz yang terdiri dari Archad dan Crackers merupakan finalis ajang pencarian bakat Got to Dance di Jerman dan finalis Incroyable Talent di stasiun TV Prancis M6.

Archad yang spesialis break dance dan hip hop telah memiliki karir internasional dan bekerja sama dengan sejumlah merk ternama sementara Stevens alias Crackers, jago akrobatik dan punya pengalaman bekerja di komunitas sirkus dan komedi musikal di berbagai tempat di Prancis. Dari Champs-Elysées di Paris sampai Times Square di New York, “duo invertebrata” yang identik dengan koreografi akrobatik ini membawa sentuhan Prancis melalui sebuah bahasa universal yaitu tari hip hop.

French Wingz pertama kali tampil di Indonesia pada 25 Januari 2018 dalam rangkaian acara Malam Berbagi Ide (La Nuit des Idees) di Auditorium IFI Thamrin. Dalam tur di Indonesia kali ini, French Wingz akan mengunjungi tak hanya Jakarta tetapi juga Medan, Yogyakarta, Surabaya, Madura dan Bali serta berkolaborasi dengan penari hip hop Indonesia dari berbagai komunitas.

Pada penampilannya di acara IF I MOUV’ French Wingz akan berkolaborasi dengan penari hip hop Indonesia dari komunitas Urban Cipta dan Indonesian Dance Theater. Archad dan Crackers menambahkan,

Keempat penari Indonesia yang akan tampil bersama French Wingz membawakan tarian “Rencontre Indonesienne” tersebut yaitu Eriza Trihapsari, Florentina Windy, Rolando dan Siko Setyanto. Eriza Trihapsari, anggota dance crew You Named It dan Dream Team juga pernah tampil dalam kolaborasi tari hip hop “Sadako: Kisah Gadis Jepang” bersama B-Girl Prancis, Valentine Nagata-Ramos di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada 16 Mei 2017.

Selain pertunjukan seni graffiti, pemutaran film “Southja” karya Luther Putra yang akan membawa kita lebih dekat dengan fenomena musik hip hop yang semakin populer di Indonesia, pementasan tari hip-hop kolaborasi Indonesia-Prancis, acara IF I MOUV’ juga mengundang pengunjung untuk menari bersama duo French Wingz, serta mengikuti kontes foto break danc Tiga foto terbaik akan mendapatkan hadiah menarik.

 

Tag : teater
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top