Mengenal Furnitur Kaya Desain & Fungsi

Furnitur multifungsi seakan jadi kebutuhan penghuni demi menghemat ruang dan kepraktisan.
Dika Irawan | 11 Mei 2018 19:28 WIB
Pengunjung berada di salah satu stand pameran International Furniture Expo (IFEX) 2017 di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Furnitur multifungsi seakan jadi kebutuhan penghuni demi menghemat ruang dan kepraktisan.

Hal ini rupanya ditangkap oleh perusahaan furnitur dan desainer dengan meluncurkan koleksi-koleksi furnitur modular mereka. Lewat perabotan jenis ini, pengguna dapat membongkar pasang menyesuaikan kebutuhan.

Produsen perabotan asal Swedia IKEA, misalnya, belum lama ini meluncurkan koleksi furnitur terbarunya, DELAKTIG. Perabotan ini merupakan hasil kolaborasi perusahaan furnitur itu dengan desainer industri asal Britania Tom Dixon.

Dalam bahasa Swedia, delaktig bemakna terlibat. Artinya, pengguna dapat berperan dalam menyesuaikan dan memodifikasi perabotan tersebut.

DELAKTIG sendiri dapat difungsikan oleh penghuni sebagai kursi malas, kursi berlengan, sofa dua dudukan, dan sofa tiga dudukan. Komponen-komponen furnitur ini sebetulnya terpisah tetapi dapat disatukan sehingga menjadi ragam furnitur.

Misalnya, dengan platform dua dudukan, pengguna dapat memasang dua sandaran untuk dijadikan sofa. Atau, platform ditambahkan daun meja sehingga menjadi tempat buku.

Dengan kelebihan ini, DELAKTIG menjawab kebutuhan penghuni perabotan yang dapat menghemat ruang. Terutama hunian-hunian apartemen yang memiliki ruang terbatas. Cukup dengan satu perabotan, penghuni dapat mengalihkan fungsi tanpa harus menambah perabotan lain.

Dari sisi desain, DELAKTIG mengusung gaya industrial. Hal ini sejalan dengan tren penggunaan gaya tersebut dalam hunian. Boleh dibilang industrial salah satu gaya interior favorit generasi milenial.

Corak industrial ini setidaknya tampak dari bentuknya cenderung kaku dan elemen logam yang menonjol. Kaitannya dengan logam ini, DELAKTIG menggunakan material alumunium sebagai kerangkanya. Bukan tanpa alasan, material alumunium memiliki kelebihan tahan lama dan ringan.

Sedangkan sarung yang digunakan berasal dari kain polipropilena. Kelebihannya, sarung tersebut dapat dilepas dan dicuci. Warnanya pun beragam seperti hitam, abu-abu, dan cokelat sehingga bisa disesuaikan dengan suasana ruang.

Selain perabotan utama, DELAKTIG memiliki lampu lantai yang berguna untuk menopang kebutuhan membaca dan relaksasi. Lampu ini dapat berdiri sebagaimana lampu lantai pada umumnya atau dikaitkan di sisi platform DELAKTIG.

Sementara itu, perusahaan desain asal Swedia Offect memiliki koleksi Lucy, sebuah sofa modular yang berbasis pada tempat duduk individu. Dirancang oleh desainer Lucy Kurrein, sofa modular ini dapat dirangkai menjadi sofa santai dan kerja.

Dilansir dari laman resminya, Lucy tidak hanya cocok ditempatkan pada area privat tetapi juga gedung-gedung publik. Umpamanya dengan menempatkan Lucy pada ruang lobi sebagai tempat duduk bagi para tamu. Bentuknya yang simpel membuat sofa modular ini dapat menghadirkan kesan modern.

Untuk kerangkanya, Lucy menggunakan material baja yang memberinya kekuatan. Adapun sarungnya menggunakan bahan fabric dan kulit.

Soal warna, Lucy boleh dibilang cukup variatif. Ada puluhan warna yang tersedia. Menariknya, warna-warna itu dapat dikostumisasi oleh pengguna. Selain itu, Lucy juga dilengkapi gantungan untuk mantel dan meja kopi.

Pada tahun ini, perusahaan desain asal Swedia lainnya Hem juga meluncurkan koleksi sofa modular bernama Kumo. Sama halnya dengan Lucy, Kumo juga berdasarkan tempat duduk individu. Dari satu tempat duduk itu, Kumo dapat disusun memanjang. Atau dipasang berdasarkan baris atau sudut.

Tersedia dalam material dua kain wol dan kulit yang sangat lembut, Kumo menawarkan fleksibilitas bagi para penggunanya. Demikian informasi yang dihimpun dari situs resmi Hem.

Tak kalah, perusahaan furnitur rintisan Pentantonic berkolaborasi dengan biro desain Snarkitecture untuk membuat koleksi furnitur modular bernama Fractured. Kesan Fractured justru lebih liar dibandingkan dengan perabotan lainnya. Pasalnya perabotan itu dirancang mengadaptasi retakan.Satu bangku dapat dipecah menjadi dua bagian. Begitu pula dengan meja yang dapat dipecah menjadi dua bagian.

Menariknya perabotan ini menggunakan material daur ulang seperti plastik, alumunium, kaleng, dan komponen komputer. Dengan desainnya yang liar, Fractured rasanya sesuai untuk pengguna berjiwa muda.

Tag : furnitur
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top