Lebih Sehat Berlari Atau Berjalan Jauh?

Antara berlari maraton dan berjalan jauh, yang mana yang menurut Anda lebih menyehatkan bagi tubuh?
Newswire | 26 Juni 2018 07:41 WIB
Pelari melintasi kawasan Candi Plaosan saat mengikuti lomba lari Mandiri Jogja Marathon 2017 di Desa Bugisan, Prambanan , Klaten, Jawa Tengah, Minggu (23/4). - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA -- Antara berlari maraton dan berjalan jauh, yang mana yang menurut Anda lebih menyehatkan bagi tubuh?

Ternyata pertanyaan ini pun sulit dijawab oleh para peneliti, terutama jika berbagai faktor seperti frekuensi, kecepatan, dan kondisi kesehatan turut dipertimbangkan.

Namun, sebuah studi menemukan bahwa pelari dapat hidup rata-rata beberapa tahun lebih lama dibandingkan mereka yang bukan pelari. Lari memberikan tuntutan lebih kepada tubuh dibandingkan berjalan.

Temuan lainnya menunjukkan lari lebih efektif bagi orang-orang yang ingin menambah berat badan secara efektif. Untuk mengurangi lemak perut atau lemak visceral, para ahli merekomendasikan untuk memasukkan lari jarak pendek ke rutinitas latihan Anda.

"Mengurangi lemak perut, bahkan tanpa menurunkan berat badan, dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan," ujar Dr. Carol Ewing Gerber, seorang profesor biobehavioral di Columbia University Teachers College, seperti dilansir dari Antara, Selasa (26/6/2018).

Tetapi hasil studi lainnya menyatakan para pelari mungkin memiliki risiko tinggi mengalami cedera dibandingkan orang-orang yang memilih berjalan.

Orang yang memiliki radang sendi atau masalah sendi harus meminta rekomendasi dokter jika ingin berlari. Pasalnya, aktivitas tersebut bisa saja memperburuk kondisi mereka seiring bertambahnya tekanan pada sendi.

James O'Keefe, ahli jantung di Saint Luke's Mid America Heart Institute, mengingatkan terlalu banyak berlari dapat berdampak buruk karena tubuh tidak dapat mempertahankan aktivitas yang menuntut seperti di luar titik tertentu.

"Setelah 60 menit melakukan aktivitas fisik yang intens, seperti berlari, bilik jantung Anda mulai meregang dan menuntut kemampuan otot untuk beradaptasi," paparnya.

Di sisi lain, berjalan memiliki efektivitas yang nyaris sama dengan berlari untuk mengurangi risiko hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung.

Orang-orang yang memilih berjalan juga bisa melakukan aktivitas ini di jalur bukit atau sekadar naik turun tangga.

Untuk orang dewasa yang obesitas, menggunakan treadmill mungkin merupakan pilihan terbaik.

Pada 2011, ada sebuah studi yang menyimpulkan bahwa berjalan pada kecepatan yang relatif lambat adalah strategi olahraga potensial yang dapat mengurangi risiko cederan muskuloskeletal, penyakit patologis, sekaligus memberi stimulus kardiovaskular yang tepat.

Peter Schnor, kardiolog klinis, merekomendasikan penggabungan dua aktivitas untuk mendapatkan hasil terbaik.

"Yang paling baik adalah lari 2-3 hari per pekan dengan kecepatan lambat atau rata-rata. Berlari setiap hari dengan kecepatan tinggi selama lebih dari 4 jam per pekan tidaklah menguntungkan," terangnya.

Sumber : Antara

Tag : kesehatan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top