Cara Bijak Pakai Smartphone Agar Tidak Ketergantungan

Smartphone dengan layanan internet kini hampir menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat. Selain mudah digunakan karena dilengkapi aplikasi yang diperlukan, smartphone juga digunakan untuk mengakses informasi dan hiburan. Namun, penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dapat membawa penggunanya pada ketergantungan atau kecanduan.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 10 Juli 2018 14:02 WIB
Ilustrasi anak kecil dengan smartphone - flickr

Bisnis.com, JAKARTA—Smartphone dengan layanan internet kini hampir menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat. Selain mudah digunakan karena dilengkapi aplikasi yang diperlukan, smartphone juga digunakan untuk mengakses informasi dan hiburan. Namun, penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dapat membawa penggunanya pada ketergantungan atau kecanduan.

Praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Atma Jaya, dr. Eva Suryani, SpKJ menyatakan bahwa tidak dipungkiri bahwa saat ini, gadget digunakan di mana-mana dan oleh segala usia. Berbagai fitur pada smartphone dimanfaatkan tidak hanya untuk mendukung pekerjaan orang dewasa, namun banyak juga (orang tua) yang menggunakan gadget seperti baby sitter untuk menenangkan bayi dan Balita.

“Semakin terpapar pada saat usia yang semakin dini, maka kerentanan (ketergantungan) terhadap gadget dan internet itu akan semakin besar,” ujarnya dr. Eva dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis dari Kementerian Kesehatan RI, Senin (9/7).

Eva menekankan bahwa otak anak itu belum berkembang secara sempurna. Bayi, Balita, Anak dan Remaja belum dapat membedakan mana hal yang benar dan salah, serta hal yang boleh dilakukan atau tidak.

“Mereka bahkan belum mengerti apa itu definisi membatasi. Karena itu, potensi munculnya perilakuimpulsive menjadi tinggi,” tambahnya.

Selain itu, dr. Kristiana Siste, SpKJ(K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia juga menjelaskan bahwa adiksi atau ketergantungan atau kecanduan merupakan sebuah pola perilaku yang menekan untuk dilakukan atau digunakan secara terus menerus meskipun terdapat konsekuensi negatif—berat—baik fisik, sosial, spiritual, mental dan ekonomi.

“Ada yang menyebut adiksi ini sebagai brain disease karena memang ada gangguan di bagian otak seseorang sehingga sulit mengendalikan perilakunya,“ tutur Siste.

Menurut Siste, seseorang yang mengalami adiksi, struktur dan fungsi otaknya berubah, terutama bagian pusat kognitif, yang disebut pre-frontal cortex. Gangguan pada bagian otak tersebut mengakibatkan orang yang mengalami suatu ketergantungan atau kecanduan kehilangan beberapa kemampuan otaknya, antara lain fungsi atensi (memusatkan perhatian terhadap sesuatu hal), fungsi eksekutif (merencanakan dan melakukan tindakan) dan fungsi inhibisi (kemampuan untuk membatasi).

Siste juga menegaskan pola orang tua dalam menggunakan gadget terutama di hadapan anak-anak akan menjadi contoh bagi mereka dan tanpa sadar membentuk pola pikir mereka.

Karena itu, penting bagi para orang tua untuk memperhatikan beberapa rekomendasi dalam menggunakan gawai tersebut, antara lain:

“Bayi 0- 6 bulan sebaiknya tidak diperkenalkan smartphone. Bayi usia antara 1-2 tahun boleh diperkenalkan namun tidak boleh lebih dari 1 jam per hari. Anak sampai dengan usia 6 tahun boleh menggunakan gadget namun harus selalu diawasi orang tua, sementara anak usia lebih dari 6 tahun boleh menggunakan hanya untuk program-program yang aman untuk usianya, serta penggunaan gadget tidak lebih dari 3 jam per hari,” tukas Siste.

Tag : ketergantungan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top