Resep Sukses Menggarap Film Horor Menurut Joko Anwar

Di dunia perfilman Indonesia, genre horor senantiasa mendapatkan tempat di hati para pencintanya. Perubahan selera terhadap jenis tontonan di layar lebar seakan tidak pernah menggeser para moviegoers untuk menikmati sajian film horor.
Asteria Desi Kartika Sari | 29 Agustus 2018 13:52 WIB
Joko Anwar - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA—Di dunia perfilman Indonesia, genre horor senantiasa mendapatkan tempat di hati para pencintanya. Perubahan selera terhadap jenis tontonan di layar lebar seakan tidak pernah menggeser para moviegoers untuk menikmati sajian film horor.

Mengutip data dari filmindonesia.or.id diketahui bahwa sepanjang 2018, terdapat 15 film yang masuk dalam peringkat penonton terbanyak. Peringkat pertama diduduki oleh film 'Dilan 1990' dengan perolehan penonton mencapai 6,3 juta orang, disusul film 'Si Doel the Movie' (1,6 juta orang).

Sementara itu, pada peringkat terbawah adalah film 'Alas Pati' dengan jumlah penonton 682.470 orang. Menarik dicermati bahwa dari 15 film yang masuk dalam peringkat perolehan penonton terbesar ini mayoritasnya adalah film bergenre horor.

Meskipun tidak selalu bertengger di peringat pertama, tetapi pundi-pundi emas dari genre ini selalu menguntungkan produser film.

Salah satu contohnya yang dilakukan oleh rumah produksi Rapi Film. Pada tahun lalu, Rapi Film dan CJ Entertainment memproduksi film horor 'Pengabdi Setan' yang disutradarai oleh Joko Anwar. Film ini meledak di pasaran dan berhasil menarik perhatian 4,2 juta penonton

Sutradara film Joko Anwar mengakui bahwa saat ini film horor digarap dengan lebih serius. Hal itu yang membuat film ini banyak meraup jumlah penonton. Olehkarena itu, membuat film horor harus presisi baik secara teknis dan estetika.

“Teknik penyutradaraan, tata cahaya, dan sinematografinya harus presisi untuk mempertahankan harapan penonton. Hal ini terkait dengan latar belakang cerita,” katanya kepada Bisnis.com, dikutip Rabu (29/8/2018).

Dia mencontohkan, latar belakang film 'Pengabdi Setan' adalah era 1980-an. Tantangannya adalah menyediakan properti seperti yang ada pada tahun itu, untuk menghidupkan nuansa lawas dalam film. Guna melakukan hal tersebut diperlukan detail dan juga dana yang tidak sedikit.

Sutradara yang tertarik dengan film horor sejak kecil ini merasa bahwa genre ini menantangnya untuk membuat kejutan baru dalam film yang disutradarainya.

“Sebagai pencinta genre horor, saya merasa harus bisa menjadikan film prestisus dan terhormat. Caranya dengan dikerjakan secara serius.”

Tag : film indonesia
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top