Ini Pentingnya Buku dan Bahaya Gawai bagi Anak

Menumbuhkan minat baca kepada anak sedari dini sangat penting untuk membantu perkembangan daya pikir dan imajinasinya.
Dewi Andriani | 29 September 2018 15:09 WIB
Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Menumbuhkan minat baca kepada anak sedari dini sangat penting untuk membantu perkembangan daya pikir dan imajinasinya.

Apalagi, pada usia 0-2 tahun atau yang sering disebut sebagai masa keemasan. Pada usia ini, neuron atau sel-sel saraf otak anak berkembang paling pesat sehingga harus diisi dengan berbagai informasi dan stimulasi.

Sayangnya, banyak orang tua yang justru lebih dulu memperkenalkan gawai kepada buah hatinya karena merasa proses pembelajarannya lebih mudah, terlebih banyak anak yang duduk “anteng” ketika diberikan gawai.

Psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi mengatakan anak usia 0-2 tahun belum seharusnya terpapar gawai. Menurutnya, dari berbagai penelitian ditemukan bahwa tontonan berupa gambar bergerak dari gawai atau layar justru akan mengacaukan kemampuan sensorik anak-anak yang belum siap secara sensorik dan visual.

“Dampaknya akan membuat anak lebih mudah kehilangan konsetrasi, menjadi kurang fokus, dan matanya menjadi lelah karena melihat gambar yang terlalu cepat bergerak,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Ratih menyatakan akan lebih baik jika orang tua menstimulus anak dengan membacakan buku cerita atau dongeng. Pasalnya, hal tersebut akan membuat sinaps atau jaringan antar sel otak anak semakin berkembang pesat.

Dengan banyaknya sinaps maka akan semakin banyak pula akson dan sel saraf yang terhubung sehingga otak anak akan menjadi lebih padat dan berisi karena informasi akan mengalir diantara keduanya.

“Membaca buku ini seperti connecting the brains karena saat bayi baru lahir, sinaps pasti masih jarang-jarang karena informasi yang didapatkannya masih sedikit. Pada masa 0-2 tahun sinaps ini berkembang, tugas orang tua memperbanyak sinaps di otak anak. Membaca ini selain dapat mempererat bonding, anak juga akan merekam ekspresi dan kosakata sehingga melatih kemampuan bicara anak,” paparnya.

Ratih menerangkan ketika orang tua membiarkan anak terpapar gawai, yang terjadi adalah sinaps di otak anak justru akan terputus.

Gawai memang memberikan informasi tetapi tidak membentuk sinaps sehingga sewaktu-waktu anak akan lupa dengan informasi di situ. Adapun buku membentuk sinaps yang membuat anak lebih mudah mengingat dan merekam apa yang dilihat, dirasa, dan didengar.

Tag : buku, anak
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top