Tempat Bekerja, Salah Satu Tempat Risiko Tinggi Penyebaran Tuberkulosis

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang penularannya sangat cepat, mudah, dan dapat mengancam siapapun tanpa memandang latar belakang orang tersebut.
Mia Chitra Dinisari | 30 September 2018 20:09 WIB
Pengidap tuberkulosis (TB) - tuberkulosis.org

Bisnis.com, JAKARTA - Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang penularannya sangat cepat, mudah, dan dapat mengancam siapapun tanpa memandang latar belakang orang tersebut.

"Salah satu sumber yang menjadi tempat penyebaran dan juga pencegahan TBC adalah lingkungan tempat kita bekerja”, jelas dr Nusye E Zamsiar, SpOk selaku Ketua Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia  (PERDOKI).

Dr Irfan Maulana, MKK selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas
Kesehatan Kabupaten Bekasi mengatakan, saat ini, TBC masih menjadi salah satu beban kesehatan
di Indonesia dengan menduduki peringkat kedua kasus TB secara global.

Berdasarkan hasil survei prevalensi TB tahun 2013/2014 Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa terdapat 1 juta kasus  TBC baru, dengan angka kematian 100 ribu orang akibat TB setiap tahun, dimana kelompok terbesar  penderita berasal dari penduduk usia produktif.

Berdasarkan data riset, karyawan yang menderita
penyakit TBC kehilangan 3-4 bulan produktivitasnya per tahun, kematian akibat TBC juga mengakibatkan hilangnya 15 tahun penghasilan bagi karyawan tersebut, sehingga dapat  menyebabkan kerugian terhadap industri tersebut.

Oleh sebab itu , diperlukan komitmen dalam
upaya meningkatkan pengetahuan para pekerja, keluarga dan komunitas dilingkungan pekerja untuk
pencegahan dan pengobatan TBC.

“Tantangan dalam penanggulangan TB adalah penemuan kasus, memulai pengobatan dengan
pengobatan yang terstandard serta mempertahankan pasien untuk tetap minum obat hingga
sembuh atau selesai. Terdapat gap/perbedaan antara jumlah penemuan kasus yang diharapkan dengan yang tercatat dan terlaporkan.

Salah satu satu kelompok populasi yang mungkin sudah
terpapar dengan TB adalah populasi di perusahaan. Cukup banyak karyawan dengan dugaan TB atau
sudah dinyatakan TB yang mengakses fasilitas Kesehatan swasta atau mempunyai unit perawatan
atau klinik yang memberikan pengobatan TB.

Diharapkan pihak swasta mendukung pemerintah
untuk bisa juga berperan dengan memberikan laporan penemuan kasus dan pengobatan yang
diberikan,” tambah Dr Irfan.

Program pengendalian TBC dapat mengurangi beban ekonomi secara signifikan, dimana setiap Rp1
akan berdampak terhadap pengurangan sebanyak Rp 23 terhadap beban kesehatan yang
ditimbulkan oleh TB.

Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs, PT Johnson & Johnson Indonesia di kesempatan terpisah menyampaikan, peran semua sebagai industri sangat
penting untuk mengakhiri epidemi TBC di Indonesia yang dapat dimulai dengan memperhatikan
lingkungan tempat kita bekerja.

"Kami berharap setiap industri akan menjadi lebih
paham mengenai, pencegahan, pengobatan dan perawatan pasien TBC. Dengan meningkatnya
pemahaman industri akan TBC, maka diharapkan angka TBC di Indonesia dapat turun secara cepat.” ujarnya.

”Kami bekerjasama dengan banyak pihak, termasuk industri melakukan rangkaian kegiatan
pencegahan TBC. Dengan adanya program multi partnership ini, kami berharap setiap industri dapat
membuat kebijakan dalam upaya pencegahan dan pengobatan pekerja yang terkena TBC, sehingga
setiap sumber daya manusia di perusahaan tersebut dapat menjadi tenaga kerja yang produktif,
sehat dan terus berkontribusi,” tutup dr Nusye E Zamsiar, SpOk.

Tag : tuberkulosis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top