Terapi Regeneratif: Gigi Adalah Bagian dari Tubuh, tidak Berdiri Sendiri 

Perlu terapi regeneratif terhadap  gigi sehingga menempatkan gigi bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari kesehatan tubuh.
Choirul Anam | 03 Oktober 2018 17:42 WIB
Gigi sehat - youtube

Bisnis.com,MALANG—Perlu terapi regeneratif terhadap  gigi sehingga menempatkan gigi bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari kesehatan tubuh.

Masalah–masalah tersebut dibahas dalam  konferensi internasional bertajuk The 5th Joint Scientific Meeting in Dentistry (JSMiD) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga  (Unair), Selasa-Rabu (2-3/10/2018).

Ketua Panitia The 5th JSMiD Irma Josefina Savitri menjelaskanselama ini banyak yang  berpikir tidak holistik soal kesehatan gigi  yang menganggap permasalahan  gigi hanya pada gigi, bukan bagian dari tubuh.

Oleh karena itu, bahasan dalam konferensi tersebut lebih mengacu bahwa kesehatan gigi adalah bagian yang tubuh kita.

”Jadi, kita mulai berpikir menggunakan suatu bahan dari tubuh kita sendiri untuk regeneratif di tubuh kita. Itulah yang tengah kita bahas sekarang dengan compatibility yang sangat tinggi,” ujarnya dalam keterangan resminya, Rabu (3/10/2018).

Meski demikian, dia  mengakui, hal itu memerlukan proses yang tidak singkat dan mudah karena membutuhkan formula yang sangat tepat. Namun, dia yakin serta optimistis bahwa regenerative therapy  tersebut kelak bisa berjalan dengan baik.

”Di FKG, penelitian ini juga sudah banyak dilakukan,” ucapnya.

Lewat konferensi tersebut, dia  berharap, output berupa publikasi penelitian mampu dicapai. Selain itu, transfer of knowledge bisa benar-benar dirasakan para mahasiswa PPDGS (Program Profesi Dokter Gigi Spesialis). Dengan begitu, kecakapan dan keterampilan mahasiswa dalam meneliti maupun merawat pasien menjadi lebih baik karena memiliki dasar sainsnya.

”Yang ketiga, kita mampu menelurkan peneliti, juga penelitian. Termasuk menelurkan paten-paten lagi ke depan,” ucapnya.

Yang  juga tidak kalah pentingnya, dengan acara semacam ini, peneliti Unair bisa meningkatkan networking. Antara para peneliti dunia dan orang-orang seluruh dunia supaya juga melihat Indonesia sebagai salah satu center penelitian.

Beberapa peneliti dari Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan dihadirkan a.l , Prof Kurihara Hidemi,  Prof. Takahashi Nobuhiro, Prof Maeda Takeyasu,  Guang Hong,  Prof. Koichi Kato,  dan Meekyoung Son.

Irma  mengungkapkan FKG Unair rutin menggelar kegiatan serupa. Tahun ini FKG memiliki tiga agenda pelaksanaan konferensi internasional, yakni Agustus, Oktober, dan November.

Agenda kegiatan semacam itu sangat penting menginga diperlukan media untuk melihat perkembangan isu-isu bidang penelitian tertentu. Terutama kedokteran gigi yang mencakup internasional. Termasuk dibutuhkannya media transfer of knowledge,  baik dari luar ke FKG maupun dari penelitian FKG ke pihak luar.

”Banyak sekali penelitian-penelitian kita yang belum terpublikasi sehingga ini juga sasarannya nanti adalah untuk publikasi internasional Scopus,” ujarnya.

Dalam konferensi itu pula, dipamerkan sebanyak 109 poster penelitian serta terdapat 126 paper penelitian yang siap untuk dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus.

”Karena itu, sasaran konferensi ini adalah para mahasiswa PPDGS ,” ucapnya.

Irma menambahkan, kolaborasi dari perguruan tinggi lintas negara sudah digelar FKG, baik berupa pendidikan di sana maupun student exchange. Bahkan sejumlah kolaborasi penelitian bersama sudah digelar. Misalnya, penelitiannya tentang obat-obatan herbal untuk preventive medicine.

”Saat itu saya bekerja sama dengan Horoshima University, Profesor Kurihara. Saya mempelajari tentang bagaimana membuat suatu obat yang bisa mencegah penyakit dalam rongga mulut, khususnya penyakit periodontal. Juga, kini tengah dijajaki soal penelitian mikrobium, ” katanya.

Tag : gigi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top