Seluk-Beluk Terapi Kesembuhan Kanker Tiroid

Setelah dioperasi dan dilakukan pengangkatan kelenjar tiroid, Rachel kini telah terbebas dari penyakit ganas tersebut. Namun, dia harus selalu mengonsumsi obat berupa hormon tiroid untuk menggantikan fungsi kelenjar tiroid yang telah diangkat.
Dewi Andriani | 21 Oktober 2018 00:00 WIB
Pemeriksaan Tiroid - Reuters/Damir Sogolj

Beberapa tahun lalu, artis Rachel Amanda sempat divonis menderita kanker tiroid yang menyebabkan kebengkakan pada bagian leher. Saat itu, berat badannya menurun karena rasa sakit di tenggorokan yang membuatnya kehilangan nafsu makan dan sulit untuk menelan.

Setelah dioperasi dan dilakukan pengangkatan kelenjar tiroid, Rachel kini telah terbebas dari penyakit ganas tersebut. Namun, dia harus selalu mengonsumsi obat berupa hormon tiroid untuk menggantikan fungsi kelenjar tiroid yang telah diangkat.

Jika tidak dibantu dengan hormon tiroid, Rachel akan menderita hipotiroid yang akan menyebabkan munculnya berbagai penyakit lain seperti peningkatan berat badan, depresi, kulit kering, mata dan wajah membengkak, siklus menstruasi tidak teratur, mudah lupa, sulit konsentrasi, hingga memburuknya kondisi jantung.

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar terbesar di tubuh manusia. Bentuknya seperti kupu-kupu dan terletak di bawah jakun. Tiroid  memiliki fungsi yang sangat penting karena mengeluarkan hormon yang mengatur metabolisme tubuh. Selain itu, tiroid juga membantu proses pertumbuhan, suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, hingga berat badan.

Mengingat pentingnya fungsi kelenjar tiroid tersebut, maka perlu adanya deteksi dini gejala kanker tiroid. Bunga Ramadani, salah satu pendiri support group Pita Tosca untuk pejuang tiroid di Indonesia mengatakan deteksi dini kanker tiroid cukup mudah.

“Kalau deteksi dini kanker payudara disebut Sadari yaitu periksa payudara sendiri, untuk kanker tiroid kita bisa lakukan Perlahan atau periksa leher Anda,” ujarnya.

Deteksi dini Perlahan dapat dilakukan sambil menghadap cermin, akan lebih baik jika dibantu dengan tenaga medis atau orang lain. Caranya melakukan perabaan di bagian leher bawah tempat kelenjar tiroid berada yaitu di bawah jakun.

Jika ditemukan adanya benjolan yang tidak biasa di area tersebut, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter onkologi di rumah sakit terdekat. Apalagi jika disertai beberapa gejala seperti sakit tenggorokan, kesulitan menelan, suara menjadi serak, pembengkakan kelenjar getah bening, dan rasa sakit pada bagian leher.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Aru Sudoyo mengatakan bahwa tidak semua pembengkakan pada tiroid akan menjadi ganas. Bisa saja disebabkan oleh kondisi yang disebut gondok.

Pada penyakit gondok, biasanya benjolan terletak di leher bagian depan atau samping tenggorokan atau bisa dimana saja, sedangkan kanker hanya di bagian depan tepat di bawah jakun.

Namun, benjolan yang sudah menjadi gondok kronis dapat berkembang menjadi kanker karena adanya pertumbuhan sel abnormal di dalam kelenjar tiroid.  “Tidak semua pembengkakan tersebut menjadi kanker, kemungkinan hanya sekitar 10% sampai 15%,” ujarnya.

Menurutnya memang belum diketahui pasti penyebab kanker tiroid karena perkembangannya yang cukup lambat. Namun, 90% – 95% karena faktor lingkungan dan gaya hidup, sedangkan genetik hanya 5% - 10% saja. “Jika dideteksi lebih dini, sekitar 90% kasus kanker tiroid dapat dicegah,” tuturnya.

Perempuan memiliki risiko 2 – 3 kali lebih besar terkena kanker tiroid dibandingkan dengan pria. Salah satu faktor pendorongnya adalah hormon yang dilepaskan wanita saat mengalami masa menstruasi atau saat hamil dan melahirkan.

Selain itu, radiasi nuklir atau radiasi dari pengobatan medis tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tiroid, apalagi jika mengenai bagian leher dan kepala.

Sementara itu, dokter spesialis bedah Sonar Soni Panigoro mengatakan anak-anak berusia di bawah 12 tahun yang memiliki riwayat benjolan pada leher memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker tiroid setelah dewasa.

Sebab, kanker tiroid memiliki masa pertumbuhan yang sangat lambat sehingga jika tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pembengkakan tersebut akan berubah menjadi kanker.

Menurutnya, ada beberapa langkah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi lebih lanjut kanker tiroid yaitu melalui ultrasonografi, biopsi, dan pemeriksaan darah. “Jika positif terkena kanker tiroid, perlu dilakukan terapi dan pengangkatan benjolan dan kelenjar tiroid agar kankernya tidak menyebar,” ujarnya.

ABLASI

Setelah dilakukan operasi pengangkatan tiroid kadang masih ada kanker yang tersisa di dalam jaringan tubuh yang dapat berpotensi kembali kambuh atau menyebar. Sisa tersebut dapat dihancurkan dengan metode ablasi melalui terapi nuklir atau terapi yodium radioaktif.

Hapsari Indrawati, pakar kedokteran nuklir dari Rumah Sakit Siloam MRCCC mengatakan cara kerja terapi nuklir sangat sederhana. Pasien yang sudah dioperasi akan diberikan pil atau cairan yang berisi yodium radioaktif lalu dimasukan ke ruangan isolasi selama dua hingga tiga hari.

“Pasien harus diisolasi karena dia akan menjadi sumber radiasi bagi orang lain. Baru bisa keluar setelah radiasi di tubuhnya normal seperti radiasi matahari,” ujarnya.

Hapsari menjelaskan bahwa kelenjar tiroid memiliki tugas mengubah yodium yang dikonsumsi menjadi sumber energi. Ketika yodium radioaktif yang dikonsumsi maka tiroid akan tertipu dan “memakan” yodium tersebut sehingga sel kanker yang tersisa akan dihancurkan oleh kandungan radioaktif yang ada di dalamnya.

Terapi nuklir ini aman dan tidak akan mengganggu area lainnya karena penyebarannya hanya difokuskan pada sel kanker tiroid sehingga tidak akan menyebar. Setelah proses ablasi, pasien akan diminta untuk melakukan pengecekan kembali 6 bulan ke depan untuk memastikan sel kanker telah hilang sama sekali.

Tag : kanker
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top