Pameran Coffee Painter Pajang 19 Koleksi

Coffee painter, sebuah komunitas perupa dengan media kopi, berencana menggelar 3 kali pameran sepanjang tahun ini. Pameran pertama telah dilangsungkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, 9 hingga 16 Februari 2019.Pameran tersebut mengambil tema "Coffee in Culture Heritage" dan menghadirkan 19 lukisan dari 12 pelukis anggota coffee painter.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  17:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Coffee painter, sebuah komunitas perupa dengan media kopi, berencana menggelar 3 kali pameran sepanjang tahun ini. Pameran pertama telah dilangsungkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, 9 hingga 16 Februari 2019.

Pameran tersebut mengambil tema "Coffee in Culture Heritage" dan menghadirkan 19 lukisan dari 12 pelukis anggota coffee painter.

Jan Praba, Ketua Komunitas Coffee Painter mengatakan, masih ada dua pameran yang akan diselenggarakan pihaknya. Salah satunya masih akan mengusung tema budaya, dan yang lain bertema sosok pahlawan untuk memperingati hari pahlawan tahun ini.

Komunitas Coffee Painter sendiri menyatukan kurang lebih 100 seniman yang bergelut dengan kopi sebagai media lukis. Komunitas yang baru terbentuk pada 2018 ini menggelar pameran perdananya pada November tahun lalu. Bedanya di pameran yang pertama, tema lukisan bebas.

Jan bercerita, melukis dengan kopi dia awali dari insiden salah celup. Saat sedang melukis, biasanya segelas kopi menemani. Suatu kali, alih-alih mencelupkan kuasnya pada palet warna cat minyak, dia justru meletakkan kuas pada gelas kopi. Menurut Jan, beberapa rekan seniman di Coffee Painter juga mengalami hal yang hampir serupa.

Jan mengaku meski sudah cukup lama tergerak untuk melukis dengan kopi karena insiden salah celup, tetapi secara serius menekuni kopi sebagai media lukis baru dimulai sejak tahun lalu. Saat mendeklarasikan komunitas ini, lantas bermunculanlah seniman-seniman yang mengaku sudah sejak lama melukis dengan media kopi.


Pelukis kopi asal Tulungagung, Jawa Timur, Aditya Kresna mengatakan, di daerah asalnya melukis dengan kopi sudah populer di era 1970-an. Bedanya media lukisnya adalah batang rokok. Kini dengan media lukis berupa kanvas, dia ingin menghidupkan kembali budaya dan kearifan lokal agar penerimaannya bisa lebih luas.

"Saya harus kenalkan budaya lokal yang sudah bertahun-tahun hanya berhenti sampai di [batang] rokok, ke sesuatu yang lebih berharga dari sekadar rokok," ujar Aditya.

Aditya mempersembahkan dua karyanya di pameran ini, salah satunya adalah "Nyelengi" (Coffee on Canvas, 70 x 90 cm, 2019), berupa sosok babi terbang dikelilingi gumpalan-gumpalan awan. Celeng, kata dasar "nyelengi" dalam bahasa jawa berarti babi, sedangkan "nyelengi" bermakna menabung.

Aditya menghadapi tantangan yang sama saat melukis dengan kopi, yakni menciptakan pilihan-pilihan warna yang sesuai untuk membentuk impresi tertentu. Dibandingkan dengan semua lukisan yang dipamerkan di ruang pameran tersebut, karya Aditya memiliki kekhasan dar segi warna yakni, hijau kecoklatan.

Dia bercerita, untuk mendapat warna hijau seperti yang tertuang dalam lukisannya itu, diperlukan eksperimen. Akhirnya dia berhasil meramu sedemikian rupa warna hijau dari biji kopi yang masih muda.

Melukis dengan media kopi sudah berkembang di Indonesia sejak 1980-an. Pelukis asal Surabaya yang tinggal di Bali, Rudi Sri Handoko mencipta karya-karya yang media utamanya adalah kopi. Kerja kreatifnya itu dimulai setelah beberapa tahun Rudi menekuni eksperimen soal kpi sebagai media seni lukis, bahkan dia berani menjamin bahwa lukisannya tidak kalah awet dibandingkan lukisan dengan media cat minyak atau aklirik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran lukisan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top