Ini Tema Ubud Writers Festival Tahun Ini

Penyelenggara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengumumkan tema yang akan digunakan dalam gelaran ke-16 tahun ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 Maret 2019  |  17:23 WIB
Ini Tema Ubud Writers Festival Tahun Ini
Ubud - Indonesia Travel

Bisnis.com, JAKARTA - Penyelenggara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengumumkan tema yang akan digunakan dalam gelaran ke-16 tahun ini. Mulai dari penulis, seniman, pegiat, sutradara, cendekiawan dari seluruh dunia akan berkumpul di Ubud, Bali, untuk berbagi cerita dan gagasan yang mengeksplorasi tema tahun ini, yakni Karma. Seperti tema di tahun-tahun sebelumnya, tema festival yang kan brlangsung 23-27 Oktiber 2018 ini terinspirasi dari filosofi Hindu.

Bagi masyarakat dunia, karma sering diartikan sebagai hukum sebab akibat. Bagi orang Hindu Bali, Karma Phala adalah konsep spiritual yang menyatakan bahwa setiap tindakan akan memicu konsekuensi yang setara dalam kekuatan dan bentuk yang serupa. "Karma Phala nak cicih" begitulah orang Hindu Bali menggambarkannya. Cicih berarti pasti, tidak terhindarkan, dan cepat.

"Karena tindakan dalam kehidupan mereka sebelumnya mempengaruhi masa kini, dan perbuatan yang dilakukan di masa kini akan mempengaruhi masa depan mereka. Orang Hindu Bali menyadari bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri," jelas Founder & Director UWRF Janet DeNeefe dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (6/5/2019).

Festival yang akan dilangsungkan selama lima hari berturut-turut ini akan mengupas dampak dari tindakan pribadi dan kolektif manusia pada lingkungan sosial. Diskusi menarik yang dibawakan oleh sosok-sosok sastra, cendekiawan, hingga penulis emerging pun akan menyemarakkan festival. Pengunjung festival dapat belajar untuk benar-benar memahami konsekuensi dari tindakan mereka, dan bagaimana mereka dapat memberikan tanggapan dari tindakan orang lain dengan sebaik-baiknya. Dari diskusi sastra yang berbobot dan pertunjukkan seni yang tidak boleh dilewatkan, para pengunjung festival akan mempelajari hal yang pasti dari festival tahun ini, yaitu keputusan dan konsekuensi.

Bersamaan dengan pengumuman tema 2019, UWRF juga meluncurkan karya seni untuk tahun ke-16, yang telah diciptakan oleh seniman visual komunitas Samuel Indratma, salah satu pendiri dari seni publik kolektif Yogyakarta yang ternama, Apotik Komik. Mengenai proses pembuatan karya seni bertemakan Karma ini, Samuel Indratma mengatakan, selain menerjemahkan semangat Ubud Writers & Readers Festival, dia juga mencoba menerjemahkan seperti apa karma itu sendiri.

"Apakah manusia mengubah wajah mereka? Apakah manusia mengubah bentuk mereka? Inilah mengapa saya memilih simbol topeng. Saya membayangkan karma sebagai siklus manusia yang terus berputar, kemudian kembali lagi," katanya.

Janet melanjutkan, tema tahun lalu yakni "Jagadhita: The World We Create" adalah pengingat bahwa keselarasan dengan orang lain harus menjadi salah satu tujuan utama kehidupan.

"Pada saat konsekuensi dari perubahan iklim tidak mungkin diabaikan, dan para peminpin dunia terus menghindari tanggung jawab tersebut, kita akan bertanya-tanya seperti apa karma yang akan terjadi pada tahun 2019, dan mempertimbangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi saat kita tidak dapat menemukan solusi untuk menghadapinya," ujarnya.

Di tahun ke-16 ini, UWRF akan merayakan tema Karma bersama para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat menyadari konsekuensi dari tindakan mereka. Melalui sudut pandang lintas-budaya pada prinsip Hindu Karma, festival ini akan mengeksplorasi bagaimana masing-masing dari anggota masyarakat membuat keputusan hari ini yang dapat membentuk masa depan bersama.

Diketahui, Ubud Writers & Readers Festival pertama kali diselenggarakan pada tahun 2004. Kini dikenal sebagai salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara. UWRF juga merupakan proyek tahunan utama dari yayasan nirlaba Mudra Swari Saraswati yang diidrikan oleh Co-Founder, Janet DeNeefe sebagai bentuk pemulihan setelah tragedi bom Bali pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, festival

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top