Kisah Leonika Sari Dirikan Reblood, Aplikasi Donor Darah

Sejak SMA, Leo telah memiliki minat dan perhatian yang lebih pada mata pelajaran Biologi. Selain hobi mempelajari Biologi, perempuan yang memiliki nama lengkap Leonika Sari Njoto Boedioetomo ini juga hobi bermain game dan komputer.
Eva Rianti | 21 April 2019 15:46 WIB
CEO Reblood Leonika Sari - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak SMA, Leo telah memiliki minat dan perhatian yang lebih pada mata pelajaran Biologi. Selain hobi mempelajari Biologi, perempuan yang memiliki nama lengkap Leonika Sari Njoto Boedioetomo ini juga hobi bermain gim dan komputer.

Alih-alih tidak menjadi seorang dokter, Leo kini justru dikenal sebagai pendiri startup. Biologi dan teknologi seakan menjadi satu dalam jiwanya.

Ilmu teknologi didalaminya ketika mengambil jurusan Sistem Informasi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Keuletan dan kecerdasan yang dimilikinya membuatnya mudah memahami pelajaran tersulit di bidang teknologi, yakni coding.

Hijrah dari nilai C pada semester 1 menjadi nilai A pada semester 2 menjadi bukti bahwa Leo mampu menguasai ilmu teknologi dalam waktu yang singkat. Semenjak memahami logika ilmu tersebut, semasa kuliah dia bahkan kerap mengajarkan mata kuliah coding kepada mahasiswa senior.

Minatnya pada dunia teknologi makin kuat ketika dirinya mengikuti program MITx Global Entrepreneurship Bootcamp pada 2014. Dari situlah, dia berinisiasi dan berambisi untuk bisa mendirikan startup sendiri.

Tidak lain dan tidak bukan, ide yang dilahirkannya adalah Reblood, sebuah startup yang mendorong lebih banyak orang untuk donor darah. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung dimentori oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam mengembangkan startup tersebut.

Leo mengungkapkan bahwa startup yang berdiri sejak 2015 tersebut bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui donor darah. Di masa depan diharapkan tidak ada lagi orang-orang yang meninggal karena terlambatnya transfusi darah.

“Solusinya jangan bikin stok darah kosong. Masalah di kesehatan itu adalah kita cenderung reaktif, seharusnya juga proaktif, melakukan pencegahan,” ujarnya ketika ditemui Bisnis di kantor Reblood di Jakarta, baru-baru ini.

Secara ekspansi, Reblood kini bergerak di dua kota, yakni Surabaya sebagai kota inkubator, dan juga Jakarta. Fungsinya membantu Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menggaet lebih banyak pendonor, terutama kalangan anak muda.

Peran Reblood begitu berarti bagi pemenuhan kantong darah di Surabaya dan Jakarta. Melalui publikasi dan kampanye via media sosial, Reblood mampu menarik perhatian para kaum milenial sehingga bisa membantu memenuhi 400 kantong darah yang diperlukan di Surabaya dan sekitar 800—1.000 kantong darah yang dibutuhkan di Jakarta.

Namun, Leo mengaku mengomunikasikan donor darah ke anak muda terbilang tidak mudah. Rata-rata usia muda mendonorkan darah mereka di bawah lima kali sehingga jumlah pendonor darah bisa berkurang dengan mudahnya. Oleh sebab itu, inovasi-inovasi sangat diperlukan, baik secara online maupun offline.

Inovasi yang dilakukan misalnya yang bersifat musiman adalah dengan memberikan rewards kepada pendonor darah berupa tiket nonton konser ataupun voucher belanja di e-commerce. Kendati demikian, Reblood memegang teguh rekomendasi organisasi kesehatan dunia (WHO) bahwa donor darah tetap bersifat voluntary, bukanlah intensif.

“Kami masih terus bereksperimen untuk mendapatkan formula yang pas untuk bisa mendapatkan pendonor baru. Mentor bilang anak muda haruslah bersabar karena mengomunikasikan donor darah ke anak muda itu challenge,” katanya sambil sedikit tertawa.

Menjadi PT

Beberapa tahun setelah Reblood berjalan, akhirnya pada 2018 Leo dan tim bisa membuat perusahaan yang dinamai PT Gaya Hidup Sehat. Perusahaan ini menjadi gambaran eksplorasi dari Reblood yang dari hanya sekedar untuk donor darah menjadi lebih luas terkait dengan menciptakan gaya hidup sehat.

“Pada dasarnya, diharapkan lebih banyak orang yang semakin peduli kesehatan dengan menerapkan gaya hidup yang sehat,” tuturnya.

Keberhasilan Leo dalam membangun perusahaan rintisan tersebut terbilang melejit. Perempuan berusia 25 tahun tersebut menunjukkan bahwa perempuan bisa memiliki pengaruh yang besar pada lingkungan, terkhusus berpartisipasi dalam bidang teknologi.

Leo bahkan masuk jajaran 30 pemuda berprestasi di bawah 30 tahun kategori healthcare & science versi majalah Forbes, 45 perempuan penembus batas versi majalah Tempo, dan 100 Women dari BBC. Penghargaan-penghargaan tersebut diraihnya lewat Reblood.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, donor darah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup