Malas Bekerja Usai Liburan, Ini Solusinya

Memulai kembali rutinitas pekerjaan setelah menikmati libur memang terasa cukup berat. Perubahan signifikan dari masa istirahat ke pekerjaan utama selalu butuh proses dan kesiapan cukup. Lalu bagaimana solusinya?
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  15:30 WIB
Malas Bekerja Usai Liburan, Ini Solusinya
Ilustrasi - grupatravel.pl

Bisnis.com, JAKARTA - Memulai kembali rutinitas pekerjaan setelah menikmati libur memang terasa cukup berat. Perubahan signifikan dari masa istirahat ke pekerjaan utama selalu butuh proses dan kesiapan cukup. Lalu bagaimana solusinya?

Sindrom ini dikenal dengan Post Holiday Blues, yaitu kondisi emosional yang terjadi pada manusia setelah liburan dan kembali ke rutinitis semula. Seseorang cenderung mulai mengalami stres, lesu hingga tidak memiliki motivasi diri saat menghadapi sindrom ini. 

Ragam efek itu dialami saat memulai pekerjaan yang ditinggal lama. Tidak jarang, sindrom ini mempengaruhi produktifitas dan memicu munculnya sikap malas bekerja. Parahnya lagi kondisi tersebut bisa bertahan hingga satu minggu atau lebih setelah liburan.

Dari kondisi itu, dibutuhkan sikap baru untuk menghindarkan seseorang mengalami post holiday blues berkepanjangan. Sikap dan pola hidup tersebut diyakini bakal mendorong bagaimana seseorang kembali menemukan momentum terbaiknya saat memulai kerja.

Psikolog Selaras Persona Indonesia, Sahening Dian Ardini mengatakan kondisi ini masih dapat dikatakan wajar, sejauh perasaan malas ini tidak berlangsung sangat lama atau bahkan menjadi permanen.

Pada dasarnya liburan penuh dengan kegiatan yang jauh dari aturan-aturan tertentu seperti saat di tempat kerja. Hal ini alhasil membuat pikiran seseorang menjadi relax dan level stres pun ikut menurun.

Ketika mulai kembali ke tempat kerja, maka konsentrasipun ikut berubah seperti kegiatan analisa, memilah mana yang tepat dan tidak, rutinitas harian hingga berpikir keras untuk mencapai hasil tertentu.

“Enggan bekerja di awal wajar saja, namun pribadi yang sehat diharapkan dapat segera beradaptasi dengan tuntutan tugas yang ada di sekitarnya,” katanya, Jumat (14/6/2019).

Menurutnya orang yang mengalami sindrom ini dapat menjadikan diri sebagai subjek dalam menjalankan hidup. Sehingga memunculkan prinsip bahwa diri sendiri memiliki kendali atas berbagai perasaan yang muncul. 

Selain itu, sikap bertanggung jawab seseorang yang mengalami sindrom tersebut harus memiliki pengelolaan diri dalam membuat skala prioritas, agar menjadi individu sehat dan selalu mengembangkan diri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Liburan

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top