Rokok Elektrik Apakah Lebih Aman?

Ada pun klaim lebih tidak berbahaya atau lebih aman dibandingkan rokok konvensional, menurut Feni digunakan para produsen sebagai cara untuk meyakinkan konsumen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Juli 2019  |  16:43 WIB
Rokok Elektrik Apakah Lebih Aman?
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran rokok elektrik atau sering disebut vape menjadi fenomena baru di kalangan para perokok.

Di sisi lain juga menimbulkan kontroversi, baik secara regulasi maupun dampak kesehatan yang diklaim oleh para produsen lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

Ketua Kelompok Kerja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Feni Fitriani Taufik mengatakan, Badan Kesehatan Dunia atau WHO jelas tidak merekomendasikan rokok elektrik sebagai alat untuk berhenti merokok karena keamanan jangka panjangnya belum dapat dibuktikan.

Ada pun klaim lebih tidak berbahaya atau lebih aman dibandingkan rokok konvensional, menurut Feni digunakan para produsen sebagai cara untuk meyakinkan konsumen.

"Semacam ada penyesatan ya. Kalau memang mau sehat, ya berhenti merokok," ujar Feni.

Di banyak negara, peredaran rokok eletrik dilarang. Hal ini mempertimbangkan bahaya bagi kesehatan dan potensi distribusi narkoba melalui cairan nikotin yang dijual bebas.

Feni melanjutkan, beberapa hasil penelitian yang dikutip Juul, tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Namun dia menggarisbawahi, titik akhirnya adalah berhenti merokok konvensional dan beralih ke produk elektrik. Jika titik akhirnya adalah berhenti merokok sama sekali, baik produk konvensional maupun elektrik, lanjut Feni, maka hasilnya tentu berbeda.

Sebuah riset dari The New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa 80% yang berupaya berhenti merokok menggunakan rokok elektrik gagal. Sedangkan dari 20% yang berhasil berhenti merokok, sebagian besar atau 80% tetap menjadi pengguna aktif rokok elektrik. Riset ini melibatkan 886 responden secara acak di Inggris pada awal 2019.

Di sisi lain, rokok elektrik berpeluang menjadi pintu masuk remaja untuk mulai merokok tembakau. National Academy of Sciences pada awal 2018 menemukan bukti bahwa penggunaan rokok elektrik meningkatkan risiko remaja dan dewasa muda untuk mulai merokok.

Tinjauan sistematis tersebut juga menemukan bukti moderat bahwa penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas untuk menghisap rokok tembakau selanjutnya.

Hal ini diperkuat dengan riset dari Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (Uhamka) yang menyatakan, prevalensi remaja pengguna rokok elektrik mencapai 11,9% atau 1 dari 8 orang. Hasil riset terhadap 767 siswa SMA dan SMK di Jakarta ini menegaskan kesuksesan rokok elektrik meraih pasar remaja.

Diketahui, baru-baru ini Industri rokok elektrik di Indonesia semakin mengepul dengan hadirnya produsen asal Amerika Serikat, Juul Labs, yang baru saja meluncurkan produknya di Jakarta. Indonesia merupakan negara ekpansi bisnis ketiga Juul di Asia Pasifik setelah Korea Selatan dan Filipina.

James Monsees, Pendiri dan Chief Product Officer JuuL Labs menyebut, pihaknya mencatat ada 67 juta perokok dewasa di Indonesia yang akan menjadi target pasar. Secara global, Juul membawa misi untuk menawarkan alternatif alat hisap selain rokok konvensional yang terbukti merusak kesehatan.

"Di AS, kami melihat perokok mulai menggunakan Juul sebagai alternatif terhadap rokok konvensional. Kami berharap dengan hadirnya JUUL di Indonesia, perokok dewasa di negara ini juga memiliki alternatif yang sama," kata Monsees saat peluncuran Juul di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tembakau, rokok elektrik

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top